Tampilkan postingan dengan label Fitrah Seksualitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fitrah Seksualitas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Agustus 2019

MENGKAJI PENDIDIKAN SEKS, KENAPA TIDAK?


Melalui beberapa diskusi yang dilakukan dengan metode belajar learning by teaching di level 11 ini, saya merasakan adanya sebuah pembelajaran yang kooperatif dan menyenangkan. Masing-masing memiliki tanggung jawab yang sama dan saling kolaborasi untuk menghasilkan produk yang baik. Terlebih lagi, setiap kelompok akan menjadi ahli di bidangnya sesuai materi yang didapatkannya. Sehingga menjadi lebih mudah untuk saling sharing dan berpendapat. Banyak ilmu tentang pendidikan seksualitas yang saya dapatkan baik melalui forum diskusi ataupun di luar forum. Terlebih disaat melakukan pencarian dan penelusuran sumber bacaan tentang pendidikan Seksualitas. Lalu pengalaman belajar yang menarik ini saya coba ungkapkan dengan tulisan berikut ini.

Pendidikan seks pada hakikatnya adalah sebuah usaha untuk membekali pengetahuan tentang fungsi organ reproduksi dengan menanamkan moral, etika serta agama agar tidak terjadi penyalahgunaan organ reproduksi tersebut. Pendidikan seks pun bisa dikatakan sebagai pesan moral. Yang mana pendidikan ini merupakan cikal bakal pendidikan kehidupan berkeluarga yang memiliki makna sangat penting.

Banyak para ahli menganjurkan agar
anak-anak sejak dini hendaknya mulai dikenalkan dengan pendidikan seks yang sesuai dengan tahap perkembangan kedewasaan mereka. Karena Pendidikan seks sebagai komponen pokok dari kehidupan yang dibutuhkan manusia, sehingga mengkaji pendidikan seks berarti juga mengkaji kebutuhan hidup.

Pendidikan seks yang sangat luas, tidak hanya terkait pada dimensi fisik, namun juga psikis dan sosial. Sayangnya, meski demikian saat ini telah terjadi pereduksian makna. Pendidikan seks hanya disempitkan pada aspek pembelajaran dalam hubungan seks saja. Akibatnya pendidikan seks menjadi tabu untuk dibicarakan dan dikaji.

Pendidikan seks dalam pandangan saya juga merupakan sebuah pengetahuan mengenai anatomi organ tubuh yang dilanjutkan pada reproduksi seksualnya dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat, serta kesiapan mental dan material seseorang. Maka sangat diperlukan adanya keselarasan visi yang dijadikan sebagai indikator keberhasilan pendidikan seks ini. Terlebih pendidikan seks merupakan salah satu bentuk pendidikan yang mempunyai dimensi yang sangat kompleks dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Hasil dari suatu pendidikan juga tidak segera dapat kita lihat hasilnya atau kita rasakan. Maka pendidikan seks sebagai aktivitas memiliki arah dan tujuan yang sudah direncanakan dan harapannya mampu tercapai dengan baik. Yang mana Arah dan tujuan itu dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan pendidikan seks ini. Adapun beberapa tujuan pendidikan seks adalah sebagai berikut:

a. Memberikan pemahaman dengan benar tentang materi pendidikan seks yaitu memahami organ reproduksi, identifikasi dewasa/baligh, kesehatan seksual,
penyimpangan seks, kehamilan, persalinan, nifas, bersuci dan perkawinan.

b. Menepis pandangan miring khalayak umum tentang pendidikan seks yang dianggap tabu, tidak islami, seronok, nonetis dan sebagainya.

c. Pemahaman terhadap materi pendidikan seks pada dasarnya memahami ajaran Islam.

d. Pemberian materi pendidikan seks disesuaikan dengan usia anak.

e. Mampu mengantisipasi dampak buruk akibat penyimpangan seks.

f. Menjadi generasi yang sehat.

Nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan seks memang sangat luas. Di samping itu nilai pendidikan seks menjadi sangat penting karena di dalamnya menyangkut moralitas sosial yang menjadi tolok ukur sebuah kecakapan dalam masyarakat. Terlebih
ketika pendidikan seks menjadi sebuah formula atau jawaban untuk memerangi berbagai macam persoalan penyimpangan
seksualitas yang terjadi belakangan ini.

Jadi pendidikan seks bukanlah tentang mendukung anak untuk melakukan hubungan seksual, tapi menjelaskan fungsi alami seks sebagai bagian diri mereka serta konsekuensinya jika disalahgunakan. Orang tua merupakan aktor utama dalam hal pendidikan anak. Orang tua sebagai tempat belajar utama bagi anak, karena orang tua lah yang paling tepat untuk memberikan pendidikan seks pada usia dini. Orang tua tidak perlu ragu lagi akan pentingnya pendidikan seks sejak dini. Sebaiknya, hilangkan rasa canggung yang ada dan memulai membangun kepekaan akan kebutuhan pendidikan seks pada anak.

Kurangnya pembekalan ten­tang seks dan apabila tidak dimulai sejak dini maka akan lebih membahayakan ketika anak beranjak remaja. Para remaja bisa mencari informasi yang berhubungan dengan seks melalui berbagai sumber seperti buku, majalah, film, internet dengan mudah. Sehingga hal ini membuat anak menjadi bingung dan bias. Karena didapat dari sumber yang tidak layak. Padahal, informasi yang didapat belum tentu benar dan bahkan mungkin bisa menjerumuskan atau menyesatkan.

#AliranRasa
#GameLevel11
#KuliahBunsay
#IIP

Sabtu, 24 Agustus 2019

FAQ Yang Biasa Diajukan Anak Mengenai Seksualitas
"Kenapa di Foto Pernikahan Ayah dan Ibu, Aku Nggak Ada?"


Suatu ketika, saya pernah merasa bingung membuat kegiatan bermain bersama kakak Aqila di rumah. Karena padatnya urusan domestik sampai tidak fokus menyiapkan segala sesuatunya untuk bermain dan membuat kegiatan bersama si sulung. Karena tak ada rencana apapun, maka saya mencari ide dengan melihat seisi rumah. Berharap mendapat inspirasi dari dalam rumah. Tiba-tiba mataku tertuju pada dua buah album foto lama saya bersama teman-teman waktu kuliah dulu dan yang satu lagi foto pernikahan saya.

Satu per satu saya berkisah tentang masa lalu saya yang saya lalui bersama sahabat terbaik. Sambil ku sebutkan nama-nama sahabat yang begitu lekat di benakku itu. Kami berdua bisa tertawa bersama saat ada kisah yang lucu dan menarik diantara foto-foto lama itu. Tibalah saatnya kami membuka album pernikahan. Kakak Aqila begitu takjub saat melihat foto ibunya mengenakan gaun yang indah dan terlihat cantik. Sang ayah pun tampak gagah sekali, serta suasana pesta yang meriah karena banyak tamu yang juga ikut foto bersama.

Tiba-tiba kakak Aqila menanyakan keberadaan dirinya di antara foto-foto itu.

"Aku mana bu? Kok nggak ada?"

"Kakak belum lahir waktu ibu menikah."

"Ah...paling aku nggak diajak ke pesta ayah sama ibu kan?"

"Itu kan foto pernikahan ayah sama ibu kak, jadi ya kakak belum lahir. Teman-teman kakak juga pasti begitu. Pasti nggak ada yang ikut di pesta pernikahan ayah dan ibunya."

Kakak Aqila memang tidak bertanya lagi, tapi matanya mulai berkaca-kaca dan tumpahlah air matanya bersamaan dengan suara tangisnya yang keras.

"Huwaaaaaa...Ibu sama Ayah nakal..nggak ngajak aku pesta.." ujarnya tersedu-sedu.

Dari sinilah saya mulai merasa perlu sekali memberinya penjelasan yang lebih baik supaya dia mengerti mengenai pernikahan orang tuanya yang dilakukan jauh sebelum kelahirannya. Sebetulnya hal ini banyak ditanyakan oleh anak-anak terutama anak balita. Yang mereka ketahui hanya sebatas pada orang tuanya yang berpakaian bagus, suasana ramai dengan banyak orang, banyak kado dan makanan dan hal-hal lain yang menarik perhatian. Yang ia pikirkan adalah orang tuanya yang tidak mengajaknya di pesta tersebut. Apalagi jika dalam foto itu ada sebagian orang yang ia kenali sebagai saudara atau kerabat dekat. Tentu saja hal ini akan menambah kesedihannya.

Namun, kita tak perlu  cemas bahwa ia akan menangis atau sedih berkepanjangan. Kita dapat menjelaskan kepada anak-anak apa adanya. Katakan kepada mereka bahwa foto itu adalah momen pernikahan ibu dan ayah, yang saat itu ia belum lahir. Kita dapat memberikan contoh lain kepadanya. Misalnya saja saat kita menghadiri pesta pernikahan, sampaikan kepada mereka bahwa hampir semua orang yang menikah belum mempunyai anak. Atau pada saat menjenguk saudara atau kerabat yang baru melahirkan. Sampaikan bahwa , orang yang memiliki anak adalah mereka yang telah menikah. Si adik bayi itu juga pasti tidak ada di dalam foto pernikahan orangtuanya.

Penjelasan dengan contoh konkret seperti itu, bisa saja tidak dimengerti oleh anak. Namun, sedikit demi sedikit dia juga pasti akan memahaminya. Yang penting kita sebagai orang tuanya tidak bosan menjawab dan memberi penjelasan ketika si anak mengajukan pertanyaan-pertanyaan lanjutan.

#BunsayLevel11
#FitrahSeksualitas
#KuliahBundaSayangIIP

Jumat, 23 Agustus 2019

FAQ Yang Biasa Diajukan Anak Mengenai Seksualitas
" Kenapa Kucing Itu Bertengkar dan Menindih?"



Kecenderungan kakak Aqila pada kecerdasan naturalis, menjadikan ia seorang anak yang peka dengan lingkungan. Suka dan peduli dengan tanaman dan binatang yang ada di sekitarnya. Terlebih pada binatang yang menjadi peliharaan kami di rumah. Seperti  ayam, entok dan kucing. Meskipun kucing kami terkadang suka menyebalkan, tapi kakak Aqila sangat menyayanginya.

Suatu ketika, kakak Aqila berusaha melerai dua ekor kucing yang terdengar seperti bertengkar karena suara kedua kucing itu seolah hendak saling menerkam.

" Ibu, lihat itu kucing kita kenapa dia jafi nakal begitu bu?"

" Nakal bagaimana kak?"

" Iya, dia itu jahatin kucing itu tu…"

" kok bisa jadi jahat kak?"

" kucing yang merah itu lho bu...entah itu kucing siapa. Dia itu kan mau main kesini. Tapi sama kucing kita gak boleh. Malah ditindih-tindih itu. Ayo lho bu..disuruh pergi kucingnya."

Saya yang melihat kedua kucing itu sebenarnya tidak sedang bertengkar tapi sedang reproduksi. Awalnya saya bingung harus bagaimana bertindak terhadap kucing itu dan menjelaskan yang sebenarnya kepada kakak Aqila. Dia merasa  sedih karena menurutnya kucing miliknya menjadi kucing yang jahat dan suka melukai kucing lain. Dalam situasi seperti ini, saya memilih untuk menunda memberikan penjelasan. Saya hanya menyampaikan kepadanya bahwa kucing kami tidak jahat maka jangan mengusik dan mengganggunya. Nanti kucing itu akan berhenti sendiri.

Setelah mendapatkan waktu yang tepat untuk memberikan penjelasan, saya pun mulai memberinya penjelasan tentang kucing yang menindih kucing lain. Kita memang harus menyadari kecintaan anak terhadap binatang tertentu - terlebih lagi pada  binatang peliharaan yang dirawat setiap hari, pasti tidak rela jika binatang miliknya terluka atau menjadi binatang yang jahat. Namun, biasanya anak-anak belum memahami tentang cara hidup binatang dan kebiasaan-kebiasaannya. Nah, tugas orang tualah untuk memberikan penjelasan kepada anak-anak.

Pada dasarnya proses perkawinan binatang banyak kita jumpai di lingkungan sekitar kita. Maka ketika anak menjumpai hal -hal seperti itu, kita dapat memberinya penjelasan bahwa begitulah cara binatang berkasih sayang. Berbeda dengan manusia yang menunjukkan kasih sayang dengan cara memeluk , merangkul, bersalaman atau mencium. Binatang yang sedang berkasih sayang itu sebenarnya tidak saling menyakiti dan tidak ada yang merasa sakit diperlakukan seperti itu. Sama ketika kita melakukan 'tos' meskipun kedua tangan kita saling beradu tapi diantara kita tidak ada yang merasakan sakit. Atau saat kita bermain perang-perangan dengan menggunakan bantal guling. Meskipun kita saling memukul dan menjatuhkan, tapi tidak ada yang merasa kesakitan. Karena itu bentuk manusia berkasih sayang dengan bermain.

Yang tak boleh dilupakan adalah sampaikan ke anak, bahwa itu adalah cara binatang yang tidak boleh ditiru oleh manusia. Hal ini dilakukan supaya anak tidak melakukan hal yang dilihatnya itu dengan teman atau saudaranya. Katakan juga kepada anak untuk memberitahukannya kepada orang tua jika suatu saat ada yang berbuat begitu kepadanya.

#BunsayLevel11
#FitrahSeksualitas
#KuliahBundaSayangIIP

Rabu, 21 Agustus 2019

FAQ Yang Biasa Diajukan Anak Mengenai Seksualitas
"Aku Dulu Lahirnya Lewat Mana?"




Salah satu hal yang membuat kakak Aqila excited adalah jika ada saudara yang melahirkan. Dia begitu bersemangat apabila diajak menjenguk adik bayi yang baru lahir. Dia sangat senang melihat geliat bayi yang masih dibalut kain bedong serta tangisnya yang menggemaskan. Kebahagiaannya tampak dari sikapnya yang suka mengajak adik bayi berbicara dan menyanyikan lagu sayang. Bahkan ketika ibu si bayi sedang mengganti popok, memandikan atau menyusui bayi itu  menjadi pengalaman tersendiri baginya dan memambah wawasannya.

Di saat kebahagiaan itu menyelimuti Kakak Aqila, di saat itu pula rasa ingin tahunya muncul yang diekspresikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang kritis.

" Bulek, adik bayi nya kapan lahirnya?"

" kemarin Kak Aqila."

" adiknya kemarin lahir lewat mana bulek?"

" Adiknya lahir lewat perut kak?"

" Kok lewat perut bulek? Apa perutnya ada lubangnya?"

" Enggak ada, tapi perutnya dibelah sama dokter trus adik bayinya dikeluarin deh."

" Ohh...kok bisa ya? Kata ibukku adik bayi itu lahir lewat vagina. Aku dulu lahir lewat mana bu?"

Persalinan secara caesar memang belum diketahui kakak Aqila. Yang ia tahu adalah persalinan normal seperti yang pernah dijelaskan ibu tempo hari karena kakak Aqila selalu bertanya hal yang sama. Terlebih lagi kakak Aqila lahir secara normal. Sebenarnya untuk menjelaskan persalinan normal lumayan komplek prosesnya dan seringkali sulit dipahami oleh balita. Namun jawaban jujur adalah yang terbaik untuk anak.

Mengenai proses persalinan normal menurut Pritha Khalida, kita dapat menggunakan analogi. Berdasarkan pengalaman pribadinya bersama balitanya yang berusia 3,5 tahun. Analogi yang digunakan adalah sebuah guling. Guling kecil yang dimasukkan ke sarungnya. Katakan kepada si kecil bahwa bayi bisa lahir dari dalam vagina sama seperti halnya guling keluar dari dalam sarungnya. Keluarkan guling sedikit demi sedikit dari sarungnya dan jangan lupa sampaikan ke si  kecil bahwa lubang vagina ibu akan membuka sesuai ukuran bayi. Dan tentu saja semua itu bisa terjadi karena ada kuasa Allah yang Maha Hebat. Allah yang membantu ibu memudahkan bayi keluar dari dalam perut ibu.

Sumber Inspirasi :

Khalida,Prita & Sianiwati Sunarto H. 2014. Balita Bertanya, Anda Menjawab. Panda Media: Jakarta.


#BunsayLevel11
#FitrahSeksualitas
#KuliahBundaSayangIIP

Selasa, 20 Agustus 2019

FAQ Yang Biasa Diajukan Anak Mengenai Seksualitas
" Bagaimana Cara Bikin Adik?"



Bersikap jujur kepada anak harus dilakukan sejak anak lahir. Saat kita mulai melakukan komunikasi kepadanya. Karena kejujuran penting untuk ditanamkan terlebih lagi untuk hal-hal yang krusial.

Seringkali kita mengalami kesulitan untuk terus konsisten berkata jujur kepada anak. Karena memang pada perjalanannya tidak mudah dilakukan. Apalagi jika kita telah mengatakan sesuatu yang jujur, anak justru mendengar kebohongan dari orang lain.

Seperti halnya saat kakak Aqila bertanya mengapa ada adik bayi di perut ibu dan bagaimana cara bikinnya. Dalam hal ini ia mendapat informasi dari budenya kalau adik bayi bisa dibuat pakai terigu yang diaduk-aduk. Namun kakak Aqila yang telah mendapat jawaban lebih dulu dari ibunya, justru mendapat jawaban kebohongan dari orang lain yang membuatnya bingung. Sehingga berkali-kali ia menanyakan kembali tentang bagaimana membuat adik bayi.

Nah jika kasus seperti ini terjadi pada Mom semua, sebaiknya jawaban atas pertanyaan ini diberikan langsung. Jawab saja " tidak benar" bahwa seorang bayi dibuat dari tepung terigu. Bayi bisa hadir dalam kandungan seorang ibu atas izin Allah. Allah memberikan adik bayi sebagai hadiah untuk ibu , ayah dan kakaknya. Dan tentu saja cara membuatnya bukan dengan menggunakan terigu atau bahan yang lain, tapi karena ayah dan ibu saling menyayangi maka Allah memberikan adik bayi sama seperti saat Allah memberikan kakak sebelumnya.

Berbicara tentang seks kepada anak yang penting sesuai dengan porsinya insha allah tidak akan mengakibatkan anak terdorong untuk berbuat seks. Karena faktanya, dari penelitian menunjukkan bahwa remaja yang memiliki pengetahuan yang cukup mengenai seksualitas akan lebih dapat mengontrol keinginan mereka untuk melakukan tindakan seks.

#BunsayLevel11
#FitrahSeksualitas
#KuliahBundaSayangIIP
FAQ Yang Biasa Diajukan Anak Mengenai Seksualitas
"Kenapa Ibu Mens, Aku Kok Enggak?"



Kali ini, kita akan bahas tentang FAQ anak yang paling sering muncul dan membuat kita sedikit kelabakan menjawabnya. Saya hanya akan berbagi cerita saja dengan mom semua tentang apa yang pernah kakak Aqila tanyakan ke saya terkait hal-hal yang bertemakan seksualitas.

" Bu, ayo kita sholat bersama. Aku nggak mau ikut ayah ke masjid. Aku maunya sholat sama ibu." Ujar Aqila yang hampir setiap maghrib sholat di masjid bersama ayah.

" Ibu lagi gak sholat lho kak." Jawabku.

" Kenapa Ibu nggak sholat? Kalau nggak sholat nggak disayang Allah lho Bu..dosa." kata Aqila sambil menunjukkan jari telunjuknya tanda memberi peringatan.

" Ya karena Ibu lagi mens lho kak. Kalau lagi mens itu nggak boleh sholat." Jawabku singkat.

" Mens itu apa si Bu?" Tanyanya lagi.

" Mens itu kondisi khusus yang dialami perempuan kak, kalau lagi mens akan keluar darah dari vagina ibu untuk beberapa hari."

" Tapi kok aku nggak mens bu? Aku kan perempuan." Tanyanya lagi.

" Ya itu terjadi kalau sudah dewasa. Kalau anak-anak ya nggak mens lah."

" oooh...tapi sakit nggak si bu kalau keluar darah?"

" hehe...nanti Ibu jelaskan lagi ya kalau kakak sudah sholat. Yang penting sekarang sholat dulu, ntar waktunya habis lho.." jawabku.

Nah, sampai disini awalnya saya sempat bingung. Bagaimana nanti saya akan memberikan penjelasan untuk menepati janji tadi. Akhirnya saya teringat akan sebuah buku tanya jawab balita. Informasi itu cukup membantu saya untuk memberikan penjelasan kepada kakak Aqila sesuai dengan usia dan tahapan perkembangannya.

Sebenarnya pertanyaan balita tentang menstruasi itu adalah hal yang sangat wajar. Karena anak akan penasaran mengapa ibunya tidak sholat, tidak mengaji dan tidak puasa.

Namun, untuk anak balita kita tidak perlu memberinya penjelasan secara rinci mengenai pecahnya sel telur yang tidak dibuahi. Kita cukup katakan saja bahwa menstruasi adalah kondisi yang dialami oleh perempuan dewasa secara periodik dan terjadi beberapa hari. Saat menstruasi akan keluar darah kotor dari vagina ibu yang harus ditampung menggunakan pembalut yang mirip dengan diapers adik bayi untuk menampung pipisnya. Supaya tidak berceceran dan mengotori pakaian.

Pada saat menstruasi ada sebagian orang yang merasakan nyeri dan ada pula yang tidak. Nah, khusus pada kondisi ini kita perlu menyampaikan ke anak tentang apa yang dirasakan ibu saat menstruasi. Supaya anak mengerti jika ibu lagi menstruasi, ibu sakit perut sehingga tidak bisa beraktifitas seperti biasanya.

Kita juga perlu menyampaikan ke anak bahwa saat ibu menstruasi, badan ibu sedang tidak suci sehingga tidak boleh melaksanakan ibadah-ibadah tertentu seperti sholat dan puasa.

Sumber Inspirasi :

Khalida,Prita & Sianiwati Sunarto H. 2014. Balita Bertanya, Anda Menjawab. Panda Media: Jakarta.

#BunsayLevel11
#FitrahSeksualitas
#KuliahBundaSayangIIP

Senin, 19 Agustus 2019

FAQ Yang Biasa Diajukan Anak Mengenai Seksualitas Dan Cara Menjawabnya



Saat ini masih banyak orangtua yang gagap apabila mendapatkan pertanyaan yang bertema "seks" dari anak-anaknya. Ada orangtua yang cuek masa bodoh, mengalihkan perhatian. Lalu ada pula yang menjawab asal-asalan dengan jawaban yang tidak masuk akal alias berbohong. Bahkan ada pula yang mengatakan kepada anaknya bahwa apa yang ditanyakan itu adalah hal yang tidak sopan lalu orang tua pun berlalu tak menjawabnya.

Mengingat begitu maraknya kejahatan dan penyimpangan seksual, sudah bukan saatnya lagi bicara pantas atau tak pantas. Seharusnya orang tua menjawabnya dengan jujur dan mencukupi kebutuhan rasa ingin tahunya dengan menjawab pertanyaan mereka dengan baik dan penjelasan yang masuk akal serta mudah untuk dimengerti anak-anak. Jangan sampai orang tua menjawab pertanyaan mereka dengan kebohongan yang mengada-ada. Hal itu akan menimbulkan ketidakpuasan anak terhadap rasa ingin tahunya. Selain itu juga dapat menimbulkan rasa tidak percaya kepada orangtua. Mereka akan beranggapan bahwa orang tuanya tidak dapat dipercaya untuk dijadikan sumber informasi.

Jika semua itu terjadi efeknya akan lebih buruk. Anak akan berusaha mencari sendiri informasi tanpa bimbingan orang tua sehingga  anak-anak menjadi berpotensi untuk terjerumus kepada sumber-sumber yang salah dan tidak bertanggung jawab. Hal ini tentu saja sangat tidak kita inginkan bukan? Oleh karena itu, upayakan untuk senantiasa menjawab jujur pertanyaan anak dengan bahasa sederhana. Tentu saja dengan memperhatikan aspek usia dan perkembangannya.

Namun, yang tak kalah penting bagi orangtua adalah menetapkan batasan sejauh mana anak boleh mengeksplorasi keingintahuannya seputar seks ini. Karena hal ini bergantung pada nilai yang diyakini setiap keluarga atas dasar agama atau budaya masing-masing. Pada anak usia balita khususnya terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pendidikan di rumah yaitu:

1  . Sampaikan kepada anak bahwa telanjang di depan umum adalah hal yang tidak boleh dilakukan. Termasuk saat keluar kamar mandi setelah selesai mandi atau buang air. Bagi orangtua pun perlu diperhatikan bahwa jangan sembarangan mengupload foto atau video anak dalam keadaan telanjang ke media sosial.

2 . Tekankan kepada anak bahwa orang lain tak boleh menyentuh bagian tubuhnya yang paling pribadi kecuali ibu dan dokter yang memeriksanya saat sakit.

3 . Orang Tualah yang paling memahami perkembangan anak-anaknya terutama pada kemampuan berpikirnya. Maka, orang tua pun perlu mempertimbangkan untuk tidak menyampaikan informasi yang berlebihan mengenai hal-hal yang ditanyakannya terkait dengan seks sampai anak benar-benar telah siap menerima penjelasan tersebut.

Lalu apa saja sih hal-hal yang sering anak tanyakan yang berkaitan dengan seksualitas? Nantikan tulisan berikutnya ya…

#BunsayLevel11
#FitrahSeksualitas
#KuliahBundaSayangIIP

Minggu, 18 Agustus 2019

Kesadaran Orangtua tentang Kekerasan Seksual pada Anak Usia Dini



Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan seorang anak,
sebagai tempat belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk individu dan
makhluk sosial. Dalam keluarga, umumnya anak mempunyai hubungan interaksi yang lekat. Segala sesuatu yang diperbuat anak dipengaruhi oleh keluarga dan sebaliknya. Keluarga merupakan dasar pembentuk tingkah laku, tingkat moral dan pendidikan kepada anak.

Akhir-akhir ini banyak sekali kasus kejahatan seksual yang terjadi. Namun, justru hal ini kurang disadari oleh lembaga bernama keluarga itu. Anak usia 3-5 tahun sudah mampu menyadari perbedaan jenis kelamin saat berinteraksi di lingkungannya. Sehingga sejak anak berusia 3 tahun harus mendapatkan pendidikan seks dari orangtua mereka. Masalah pendidikan seks kurang diperhatikan oleh orangtua pada masa kini, karena mereka menganggap
bahwa anak-anak akan mengerti dengan sendirinya pada saat anak mereka
dewasa. Anak-anak yang kurang diperhatikan oleh orangtua akan lebih mudah dipengaruhi oleh lawan jenis.

Orangtua mempunyai fungsi pendidik karena seorang anak pertama kali
memperoleh pengetahuan dari orangtuanya terutama ibu, ayah serta anggota keluarga lainnya. Dengan demikian kepribadian seseorang anak terbentuk sebagai hasil perpaduan antara warisan sifat-sifat, bakat orangtua dan lingkungan dimana ia berada berkembang. Lingkungan pertama yang mula-mula memberikan pengaruh yang mendalam adalah keluarga sendiri.

Salah satu hal yang bisa dilakukan untuk mencegah pelecehan seksual pada
anak yaitu memberikan pendidikan seks pada anak sejak usia dini. Pelecehan
seksual terhadap anak adalah segala tindakan seksual terhadap anak baik dengan cara membujuk maupun memaksa.

Pelecehan seksual dapat menimpa siapa saja, baik terhadap anak lelaki ataupun
anak perempuan. Kebanyakan kasus pelecehan seksual, pelaku merupakan orang-orang dari lingkungan terdekat seperti tetangga atau teman bermain anak. Banyak kejadian balita dinodai oleh anak-anak usia sekolah dasar karena iseng atau ingin tahu. Pengaruhnya terhadap anak-anak dapat menghancurkan psiokososial dan
tumbuh kembangnya di masa depan. Tindakan pencegahan pelecehan seksual
dapat dilakukan dengan pemberian informasi tentang permasalahan kekerasan seksual sejak anak berusia 2 tahun.

Mengajarkan pendidikan seksualitas dan memberikan informasi terkait upaya
pencegahan pelecehan seksual pada anak memang tidak mudah tetapi harus
dilakukan sedini mungkin (mulai usia 2 atau 3 tahun) agar anak terhindar dari
tindakan pelecehan seksual. Anak-anak yang kurang pengetahuan tentang seksualitas jauh lebih mudah dibodohi oleh para pelaku pelecehan seksual.

Pembentukan tingkah laku anak dimulai sejak anak lahir, berjalan seiring
waktu dengan perkembangan dan penyesuaian terhadap lingkungan sosial. Namun tidak semua anak dapat melewati masa perkembangannya dengan baik, sehingga akan muncul berbagai masalah tingkah laku dan karakter pada anak.
Dari beberapa jenis kekerasan ini, orang tua lebih takut terhadap kekerasan
seksual apabila dibandingkan dengan kekerasan yang lain. Orang tua tidak tahu
bagaimana cara yang tepat untuk berbicara dengan anak-anak mereka mengenai jenis kekerasan tersebut.

Orang Tua berperan sebagai sebagai pembentuk karakter dan pola pikir serta
kepribadian anak. Oleh karena itu, keluarga merupakan tempat dimana anak-
anaknya pertama kali berkenalan dengan nilai dan norma. Sifat pembelajaran di dalam keluarga sangat potensial dan mendasar.

Perhatian juga diberikan orangtua agar anaknya mendapatkan prestasi di
sekolahnya dan kelak dapat tercapai cita-cita anaknya. Selain itu agar anak mampu menjadi pribadi yang mandiri. Bimbingan dan perhatian dari orangtua sangat diperlukan oleh anak dalam proses pencapaian prestasi belajarnya. Jadi dengan kata lain, perhatian orangtua merupakan faktor utama dalam membimbing, mengarahkan, dan mendidik anaknya di kalangan keluarga sehingga anaknya menjadi generasi penerus yang lebih baik.

Aspek-aspek kesadaran orangtua meliputi:

1 . Pemberian Bimbingan Belajar
2 . Memberikan Nasihat
3 . Memberikan Motivasi dan Penghargaan
4 . Memenuhi Kebutuhan Anak
5 . Pengawasan Terhadap Anak

Referensi :

  1. Kurnia N, & Tjandra E. 2014. Cara Cerdas dan Bijak menjeaskan Seks pada Anak. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
  2. Maslihah, Sri. 2006. “Kekerasan Terhadap Anak: Model Transisional dan Dampak Jangka Panjang”. Edukid: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini.I(1).25-33


#BunsayLevel11
#FitrahSeksualitas
#KuliahBundaSayangIIP

Sabtu, 17 Agustus 2019

Peran Lingkungan dan Perlindungan Dari Kejahatan Seksual


Kekerasan terhadap anak adalah suatu tindakan penganiayaan atau perlakuan salah pada anak dalam bentuk menyakiti fisik, emosional, seksual, melalaikan pengasuhan dan eksploitasi untuk kepentingan komersial yang secara nyata maupun tidak dapat membahayakan kesehatan, kelangsungan hidup, martabat, atau perkembangannya. Tindakan kekerasan biasanya diperoleh dari orang yang bertanggung jawab, dipercaya, atau berkuasa dalam perlindungan anak tersebut.

Kekerasan anak secara seksual dapat berupa perlakuan pra kontak seksual antara anak dengan orang yang lebih besar (melalui kata, sentuhan, gambar visual, exhibitionism), maupun perlakuan kontak seksual secara langsung antara anak dengan orang dewasa (incest, perkosaan, eksploitasi seksual).

Banyak akibat yang ditimbulkan oleh kekerasan seksual. Sebagai anak yang sedang berkembang hal ini akan sangat membekas dan meninggalkan efek lama baik secara fisik atau mental.

Cara-cara mencegah pelecehan seksual:
1.      Pelajari persoalan pelecehan seksual.
2.      Mampu bertindak asertif dan berani mengatakan tidak (menolak).
3.      Menyebarkan informasi tentang pelecehan seksual.
4.      Mau bertindak sebagai saksi.
5.      Membantu korban.
6.      Membentuk kelompok solidaritas.
7.      Mengkampanyekan jaminan keamanan, khususnya bagi perempuan dan anak.
8.      Mengkampanyekan penegakan hukum bagi hak-hak perempuan dan anak.

Berikut ini adalah peran penting dalam mencegah terjadinya kekerasan dan pelecehan seksual:

1.      Orang Tua
Para orang tua seharusnya lebih memperhatikan kehidupan anaknya. Orang tua dituntut kecakapannya dalam mendidik dan menyayangi anak-anaknya. Jangan membiarkan anak hidup dalam kekangan, mental maupun fisik. Sikap memarahi anak habis-habisan, apalagi tindakan kekerasan (pemukulan dan penyiksaan fisik) tidaklah arif, karena hal itu hanya akan menyebabkan anak merasa tidak diperhatikan, tidak disayangi. Akhirnya anak merasa trauma, bahkan putus asa.

2.      Guru
Peran seorang guru dituntut untuk menyadari bahwa pendidikan di Negara kita bukan saja untuk membuat anak pandai dan pintar, tetapi harus juga dapat melatih mental anak didiknya. Peran guru dalam memahami kondisi siswa sangat diperlukan.Sikap arif, bijaksana, dan toleransi sangat diperlukan. Idealnya seorang guru mengenal betul pribadi peserta didik, termasuk status sosial orang tua murid sehingga ia dapat bertindak dan bersikap bijak.

3.      Masyarakat
Anak-anak kita ini selain bersentuhan dengan orang tua dan guru, mereka pun tidak bisa lepas dari berbagai persinggungan dengan lingkungan masyarakat dimana dia berada. Untuk itu diperlukan kesadaran dan kerjasama dari berbagai elemen di masyarakat untuk turut memberikan nuansa pendidikan positif bagi anak-anak.Salah satu elemen tersebut adalah pihak pengelola stasiun TV. Banyak riset menyimpulkan bahwa pengaruh media (terutama TV) terhadap perilaku anak cukup besar. Berbagai tayangan kriminal di berbagai stasiun TV, tanpa kita sadari telah menampilkan potret-potret kekerasan yang tentu akan berpengaruh pada pembentuk mental pribadi anak dan terhadap kejahatan seksual.

4.      Pemerintah Dan Sosial Worker
Pemerintah adalah pihak yang bertanggung jawab penuh terhadap kemaslahatan rakyatnya, termasuk dalam hal ini adalah menjamin masa depan bagi anak-anak kita sebagai generasi penerus. Pemerintah dirasa sangat perlu memperbaiki undang-undang, terutama mengenai hak-hak wanita dan anak-anak, memperberat hukuman bagi pelaku dan memberikan pendidikan mengenai kekerasan seksual pada wanita dan remaja putri sehingga paradigma kekerasan dan pelecehan seksual sebagai sesuatu yang lumrah menjadi hilang. Masyarakat perlu menggalang kekuatan yang dapat menekan pemerintah untuk segera mengatasi masalah ini dengan melibatkan pekerja sosial atau dunia internasional yang peduli pada masalah kekerasan terhadap wanita dan anak-anak.

Para pekerja sosial yang peduli dalam masalah kekerasan seksual pada remaja dapat menyelenggarakan penggalangan kesadaran akan pentingnya mengetahui hak-hak asasi wanita dan anak-anak. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan penyuluhan mengenai kiat-kiat mencegah pelecehan seksual.Peran penyedia layanan kesehatan terutama dokter sangat penting. Peran pemerintah dalam memberikan rasa aman yang kurang sangat berpengaruh terhadap adanya kekerasan seksual.

Kita mengetahui sebagian kecil dari kejadian –kejadian yang pernah ada atau yang sedang terjadi,pelecehan seksual bukanlah hal baru. Pelecehan seksual sudah ada sejak dulu dan tersebar dimana-mana hanya saja susah untuk menghentikannya.Ini tugas dari kita generasi baru untuk menjaga dunia dari tangan-tangan tidak bermoral dan juga dari kepolisian harus lebih mempertegas tentang hukum yang berlaku.

Begitu besar dampak yang terjadi akibat pelecehan seksual karena menimbulkan efek yang sangat berbahaya mulai dari beban mental yang diderita oleh korban,penyakit yang akan diderita oleh pelaku dan juga oleh korban dan lain sebagainya. Maka dari itu kita harus bisa menjaga diri dan keluarga kita terutama anak-anak. Dengan cara memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak. Senantiasa mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa,pertebal iman kita dan berdoa yang tiada putus supaya keluarga kita selalu dalam lindunganNya.

#BunsayLevel11
#FitrahSeksualitas
#KuliahBundaSayangIIP

Jumat, 16 Agustus 2019

Penyimpangan Seksual, Pencegahan Dan Solusinya


Manusia tidak selamanya atau semuanya berperilaku normal. Beberapa di antaranya ada yang memiliki kecenderungan berperilaku menyimpang. Salah satu contohnya adalah perilaku seksual
menyimpang.

Penyimpangan seksual (sexual deviation) atau abnormalitas seksual (sexual abnormality) atau kejahatan seksual (sexual harrasment) adalah bentuk
dorongan dan kepuasan seksual yang diperoleh atau ditunjukkan kepada objek seksual secara tidak lazim (Abdullah, http://www.diffy.com/cmm/artikel/definisi.penyimpangan1.html)
Disebut tidak lazim karena perilaku menyimpang seksual diikuti oleh fantasi seksual yang diorientasikan pada pencapaian orgasme melalui hubungan di luar hubungan kelamin heteroseksual dengan jenis kelamin yang sama
atau dari partner seks di bawah umur atau hubungan seksual yang secara normatif bertentangan dengan norma-norma tingkah laku seksual yang diakui masyarakat secara umum. Hal inilah yang mendasari asumsi, penyimpangan seksual sebagai bentuk penyalahgunaan fitrah kemanusiaan dan bertentangan dengan akal sehat.

Macam-macam penyimpangan seksual di antaranya sebagai berikut:

1 . Fetishisme, Perilaku seks menyimpang di mana kepuasan seksnya
diperoleh dengan cara onani atau masturbasi.
2. Homo Seksual , Kelainan di mana seseorang menyukai berhubungan seksual dengan sesama jenis. Pada laki-laki disebut gay dan pada
perempuan disebut lesbian.
3. Sadomasokisme Penyimpangan seksual di mana seseorang merasakan
memperoleh kenikmatan seksual setelah menyakiti pasangan.
4. Pedofilia, Orang dewasa yang menyukai berhubungan seksual dengan
anak yang berusia di bawah umur.
5. Bestially, Kelainan seksual di mana seseorang menyukai berhubungan
seksual dengan binatang.
6. Incest Seseorang yang berhubungan seks dengan sesama anggota
keluarga (sedarah).


Hakikatnya, laki-laki dan perempuan terlahir dengan membawa sejumlah perbedaan mendasar.
Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi argumentasi untuk merendahkan satu dengan yang lain, melainkan untuk mengenali fungsi dan selanjutnya saling melengkapi satu dengan yang lain. Hal ini
Telah Allah sampaikam dalam QS al-Hujurat ayat 13.

"Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-
mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal"

Menyadari perbedaan yang fitrah ini, Islam memberikan aturan atau norma-norma, agar masing-masing fitrah terpelihara dan saling melengkapi. Islam menghendaki agar laki-laki berkepribadian maskulin dan perempuan berkepribadian feminim. Dengan demikian, tidak seharusnya laki-laki menyerupai perempuan dan sebaliknya perempuan menyerupai laki-laki dalam penampilan maupun perilaku.

Pola asuh orang tua dan stimulasi yang diberikan oleh lingkungan pada seseorang memiliki peran yang besar dan signifikan terutama dalam memperkuat identitas dan tumbuh kembang psikologis seorang anak. Dalam hal ini, pertumbuhan dan perkembangan masa kanak-kanak jelas menjadi masa yang sangat urgen dan signifikan dalam pertumbuhan psikologis dan kecenderungan berinteraksi serta bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Pada masa ini hendaklah para orangtua memberikan bimbingan dan pengarahan, termasuk di dalamnya problematika dan wawasan seksualitas.

Sebagai orang tua, kita tentu tidak ingin si kecil mengalami penyimpangan seksual. Guna mencegahnya maka perhatikanlah beberapa cara berikut:

1. Pengertian Orang Tua

Orang tua perlu memperhatikan dan peduli dengan kesehatan umum dari anak-anaknya juga kebersihan di sekitar daerah genitalia mereka.

Pencegahan perilaku masturbasi yang tak normal, dapat dilakukan secara optimal oleh orang tua melalui Sikap dan reaksi yang tepat dari orang tua. Selain itu,orang tua perlu mengawasi secara bijaksana hal-hal yang bersifat pornografis dan pornoaksi yang terpapar pada anak.

2. Edukasi Seks

Membekali Si Kecil dengan pendidikan seksualitas sangat berguna dalam mencegah remaja pada kebiasaan seks menyimpang di kemudian hari. Edukasi seks bertujuan sebagai suatu proses yang seharusnya terus-menerus dilakukan sejak dini. Langkah awal edukasi seks dimulai dengan pelajaran di sekolah, dilanjutkan dengan diskusi bebas bersama pakarnya atau orang tua.

3. Lindungi Si Kecil

Faktor seseorang dapat menjadi seorang parafilia adalah trauma masa kecil, untuk itu penting sekali bagi orangtua untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya pelecehan seksual maupun informasi tak sesuai umur yang dapat diserap Si Kecil dan menjadikan mereka seorang parafilia.

Jika mulai menyadari ada sesuatu yang janggal pada diri anak, perlahan komunikasikan dengannya untuk memastikan keadaannya. Bila dirasa kita membutuhkan dukungan, jangan ragu untuk menemui bantuan profesional.

Apa yang harus dilakukan ketika anak-anak diindikasi mengalami penyimpangan orientasi/perilaku seksual?

Ketika penyimpangan gender ditemukan indikasinya sejak usia dini, orangtua perlu mencari tahu dengan detail faktor yang melatarbelakanginya. Apakah faktor biologis, kesalahan informasi dan persepsi anak, pergaulan, ataukah faktor lainnya. Hal ini penting untuk dapat mengetahui jenis terapi apa yang akurat dan tepat untuk mengobatinya.

Awal penanganan, orangtua perlu melakukan diskusi dengan psikolog tanpa melibatkan anak. Karena pada diskusi-diskusi awal psikolog akan banyak menanyakan hal-hal berupa hasil observasi mengenai anak. Setelah data dirasa cukup, anak bisa dipersiapkan untuk diajak bersama ke psikolog. Pada tahap ini anak harus paham kenapa dirinya diajak ke psikolog. Sentuhan dan uraian garis besar kasih sayang keluarga kepadanya menjadi pengantar untuk menjelaskan mengenai bantuan yang akan diberikan psikolog kepadanya. Kenyamanan anak menjadi hal yang utama dalam treatment, sehingga perlu disampaikan juga pada anak bila ia merasa tidak nyaman untuk bertemu dengan psikolog. Ia memiliki hak untuk meminta  memindahkan lokasi konseling ke tempat yang membuatnya lebih nyaman.

Jika ditemukan faktor biologis, misalnya karena ada kelainan secara hormonal, maka bisa ditempuh jalan terapi hormon yang diikuti dengan terapi perilaku. Jika penyebabnya karena kesalahan informasi atau persepsi dan pergaulan, maka bisa dilakukan terapi kognitif. Pada kasus-kasus demikian, nilai-nilai moral sosial dan agama adalah hal yang tidak bisa dilepaskan di samping tetap diperlukannya penanganan tenaga psikiater, psikolog atau medis lainnya. Hal yang perlu diketahui bahwa pada penanganan kasus demikian, psikolog bisa saja memberikan intervensi tidak hanya pada anak yang dimaksud, namun juga pada anggota keluarga, atau bahkan lingkungan sekolah anak tersebut. Bentuk intervensi bisa saja berbeda tergantung jenis kasus dan penyebabnya. Hasil yang dicapai pun bisa jadi berbeda antar kasus. Batas paling rendah adalah membantu anak untuk ‘mengabaikan’ kecenderungan Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, yang populer dengan istilah LGBT.

Intervensi untuk mengubah orientasi seksual yang menyimpang tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Namun keyakinan bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang harus ‘disembuhkan’ menjadi poin yang penting mengingat ada banyak distorsi pemikiran yang menganggap bahwa homoseksual adalah varian normal dan tidak perlu ‘diobati’.

Keputusan orang tua dalam parenting akan mempengaruhi kondisi anak dan membentuk anak, termasuk sisi seksualitasnya. Maka, content pengasuhan di sini menjadi hal yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak, bukan hanya tentang figur. Parenting dan rumah adalah pondasi awal, pintu pertama dan guide dasar bagi seorang anak. Maka, dalam tema penyimpangan seksual, sesungguhnya hal tersebut bisa ‘dicegah’ oleh kita sendiri, yaitu keluarga.

Ketika menemukan kasus Penyimpangan Perilaku Seksual dalam keluarga atau lingkungan, maka berpikiran jernih untuk mencari jalan keluar terbaik dengan tetap menjadikan nilai-nilai moral dan agama sebagai salah satu pertimbangan adalah hal yang perlu diutamakan. Manusia tidak bisa sekedar dipandang dalam konteks kepentingan manusia semata sehingga membuat kita mengembangkan sikap humanisme berlebihan. Dengan demikian, kembali lagi perlu bagi semua pihak untuk menguatkan mata rantai keluarga – lingkungan – peer group – media – sekolah – negara, untuk bersama-sama menanggulangi keberadaan penyimpangan perilaku seksual ini di masyarakat.

Referensi:
  1. Abdullah, “Definisi Penyimpangan Seksual”, dalam http://www. diffy. Com / cmm / artikel /definisi. penyimpangan1.html)
  2. Dianawati, Ajen. 2006. Pendidikan Seks Untuk Remaja. Jakarta: Kawan Pustaka.
  3. Masmuri dan Syamsul Kurniawan.2016.PENYIMPANGAN SEKSUAL: SEBUAH INTERPRETASI TEOLOGI, PSIKOLOGI DAN PENDIDIKAN ISLAM.


#BunsayLevel11
#FitrahSeksualitas
#KuliahBundaSayangIIP



Kamis, 15 Agustus 2019

Menjaga Diri Dari Kejahatan Seksual



Anak-anak masih sangat rentan terhadap semua jenis kekerasan karena ketidakberdayaan mereka dan ketergantungan pada orang dewasa, serta kurangnya pengetahuan mereka tentang bahaya dan cara perlindungan diri.

Anak-anak mengembangkan ketahanan diri dari dorongan orang-orang terdekat yang mereka percaya untuk mengenali kemampuan fisik dan kekayaan emosionalnya. Mereka membutuhkan bantuan untuk memperoleh keterampilan beradaptasi, bangkit dari kesulitan, dan untuk mempersiapkan diri dari tantangan yang pasti akan ia hadapi di masa depan.

Apa yang bisa orangtua lakukan untuk membuat anak sadar bahaya pelecehan seksual?

1. Ajarkan anak tentang anatomi tubuhnya

Pengenalan anggota tubuh harus dilakukan sedini mungkin, termasuk dengan penamaan yang tepat untuk genitalia mereka. Banyak orangtua yang memilih memberikan istilah anatomi tubuh  dengan kata-kata yang menurut mereka lebih bisa diterima. Maksudnya adalah memperhalus istilah yang sebenarnya namun justru cara ini adalah salah.

Dengan mengajarkan anak nama-nama yang tepat untuk setiap bagian tubuh, mereka akan lebih akurat saat menceritakan apa yang terjadi pada mereka jika seseorang melecehkan mereka. Dengan menggunakan istilah anatomi yang sesuai, semua orang yang terlibat akan memahami persis apa yang anak-anak maksud guna meminimalisir kemungkinan salah tafsir.

2. Ajarkan anak mengenai batasan

Prinsip yang paling utama yang harus Anda ajarkan sejak dini adalah tubuh adalah milik pribadi, bahwa setiap manusia memiliki hak untuk menentukan apa yang bisa dan akan mereka lakukan terhadap tubuhnya masing-masing, siapa yang boleh menyentuhnya, dan bagaimana orang lain menyentuh tubuh mereka. Hak setiap anak harus dijamin dan diperlakukan sama, layaknya orang dewasa.

Ajarkan pula bahwa ada area-area tertentu yang tidak boleh dilihat atau disentuh sama sekali oleh orang lain, kecuali dokyer yang akan memeriksanya ketika anak sakit.

Ajarkan anak untuk menghormati tubuhnya dengan mengajarkan mereka untuk menghormati tubuh orang lain. Ajarkan anak-anak sejak dini untuk tidak melakukan apapun terhadap orang lain jika orang tersebut tidak menginginkannya.

Mana sentuhan yang baik dan yang tidak baik?

Sentuhan yang baik adalah sentuhan yang bisa memberikan kita kenyamanan dan merasa dipedulikan. Jelaskan pula pada anak bahwa terkadang, sentuhan yang baik bisa saja terasa sakit, misalnya, ösaat membersihkan luka. Memang sakit, tapi akan membuat ia jadi lebih baik.

Sedangkan sentuhan yang tidak baik adalah sentuhan yang menyakitkan, baik secara fisik maupun emosional. Seperti saat seseorang memukul, mencubit, atau menendangnya.

Mana yang termasuk pelecehan seksual?

Sentuhan yang termasuk pelecehan seksual sangat jelas, tidak akan membingungkan orang lain bahkan jika menggunakan istilah yang tidak lazim digunakan. Sentuhan pelecehan seksual adalah jenis-jenis sentuhan yang membuat anak-anak takut, cemas, atau gelisah di bagian-bagian tubuh privat (yang biasanya tertutup pakaian sehari-hari, termasuk baju renang). Jelaskan kepada anak bahwa sentuhan ini mungkin seperti “baik”, tapi terasa tidak nyaman. Jelaskan pada anak bahwa jika seseorang menyentuh mereka dan kemudian meminta mereka untuk menjaga rahasia tentang sentuhan tersebut, maka sentuhan tersebut adalah pelecehan seksual. Terangkan dengan jelas bahwa pelecehan seksual juga bisa terjadi jika mereka disentuh saat mereka menggunakan pakaian lengkap, seseorang meraba celana atau rok mereka.

Saat Anda menyentuh anak Anda, tanyakan mereka tentang arti sentuhan tersebut untuknya. Tanyakan pertanyaan seperti, “Sekarang, boleh nggak aku memegang tanganmu?” atau, “Kalo sekarang orang lain (kakak/om/tante) pegang perutmu, boleh nggak?” Coba untuk minta anak menjelaskan alasan mereka mengenai boleh atau tidaknya sentuhan tersebut.

3. Ajarkan anak berkata tidak

Adalah hal yang sangat umum bagi anak untuk mendengar perintah seperti, “Turuti kata ayahmu!” atau, “Jangan bandel, kan ibu sudah bilang jangan lakukan itu!”. Namun, di usia sedini itu akan sangat sulit bagi anak-anak untuk bisa membedakan mana perintah yang harus mereka turuti dan perintah yang tidak harus mereka jalankan.

Ajarkan anak bahwa mereka memiliki hak untuk menolak dan berkata tidak. Mayoritas kasus pelecehan anak dilaporkan berdasarkan paksaan dan bukan kekerasan fisik. Mengajarkan anak untuk bisa berkata “tidak!” dengan jelas dan tegas dapat memberikan perbedaan yang signifikan di banyak situasi. Ajarkan anak untuk mempercayai insting mereka dan jika sesuatu terasa aneh, katakan tidak.

4. Selalu dampingi anak di kehidupannya

Sisihkan sebagian waktu Anda untuk bersama anak di mana mereka bisa mendapatkan perhatian penuh dari Anda. Pastikan kepada mereka bahwa mereka bisa curhat kapan saja mengenai segala hal yang terjadi di keseharian mereka, atau jika mereka memiliki pertanyaan tertentu, atau jika mereka merasa seseorang membuat mereka merasa tidak nyaman. Pastikan pula bahwa mereka tidak akan mendapat masalah jika menceritakan hal-hal tersebut. Banyak pelaku pelecehan yang menggunakan trik ancaman atau suap agar korbannya menjaga rahasia tentang kekerasan yang mereka alami.

Selalu ingatkan anak bahwa tidak apa-apa untuk berbicara dengan Anda, terlepas dari apapun topik pembicaraannya. Dan ingat, peran Anda sebagai orangtua adalah untuk selalu tepati janji dan jangan berikan hukuman saat mereka bicara jujur dengan Anda.

Pelaku pelecehan kemungkinan adalah orang yang dikenal. Orang asing memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk melakukan pelecehan seksual kepada anak. Pada banyak kasus, pelaku pelecehan seksual ternyata adalah orang-orang terdekat yang sudah dikenal, mulai dari anggota keluarga sendiri, guru, pelatih, hingga teman. Oleh sebab itu, waspadalah jika ada orang terdekat yang terlihat mencurigakan saat berada di dekat anak.

Kita patut mencurigai orang dewasa beda gender yang selalu ingin berduaan dengan anak. Ada saatnya ketika anak bermain dengan orang yang lebih dewasa seperti paman, sepupu, atau teman dari orang tua. Namun, waspadalah terhadap orang-orang yang lebih tua dari anak dan selalu berusaha untuk mendekati anak Anda. Terutama jika mereka sering sekali memberikan hadiah.

Bukan hal yang berlebihan jika kita sedikit protektif kepada anak. Protektif kepada anak dalam porsi yang cukup tentu tidak ada salahnya. Sebagai orang tua, pastikan kita tahu dengan siapa anak akan pergi bermain. Selain itu, jangan biarkan anak menginap di rumah teman yang orang tuanya belum kita kenal dengan baik.

Yang tak kalah pentingnya adalah, biasakan agar anak selalu berpakaian tertutup. Meskipun di dalam rumah, biasakan anak Anda untuk selalu berpakaian tertutup agar tidak menimbulkan efek merangsang saat orang lain melihat tubuhnya. Kebanyakan kasus pencabulan yang dilakukan oleh orang-orang terdekat terjadi karena cara berpakaian anak yang terbuka.

Selalu berikan perhatian yang cukup dan jalin komunikasi yang baik dengan anak. Sebagai orang yang paling dekat dengan anak, orang tua khususnya ibu tentu harus mampu memberikan perhatian dan perlindungan kepada anak, utamanya kepada anak perempuan. Jalin komunikasi yang baik dengan anak agar mereka selalu terbuka dan tidak segan bercerita mengenai hal-hal yang menurutnya tidak wajar. Jika anak tiba-tiba menjadi pendiam, sebagai orang tua kita juga harus peka dan segera mencari tahu penyebabnya, karena perubahan sikap bisa menjadi tanda bahwa anak sedang mengalami suatu masalah.

Itulah beberapa tips sebagai upaya untuk melindungi dan mencegah anak dari perilaku kejahatan seksual.

#BunsayLevel11
#FitrahSeksualitas
#KuliahBundaSayangIIP

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

ANDROID SOURCE CODES MURAH

ADVERTISEMENT

IKUTI KAMI

Total Pageviews

Popular Posts

ADVERTISEMENT

Aqila Nyanyi - Naik Delman

IKUTI FANSPAGE KAMI

Unordered List

Text Widget