Tampilkan postingan dengan label BELAJAR SAINS UNTUK ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BELAJAR SAINS UNTUK ANAK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Januari 2019

 MENSTIMULUS ANAK SUKA MEMBACA




Masa peka belajar akan datang sesuai dengan fase perkembangan anak. Kita sebagai orangtua tak bisa memaksa datangnya masa ini. Yang bisa dilakukan hanya merangsang sebanyak mungkin untuk memepercepat kedatangannya. Bila telah tiba masa ini, anak akan mudah untuk mengikuti disiplin yang diajarkan. Merekapun akan senang menerima dan mengerjakan tugas yang diberikan tanpa harus dipaksa. Mereka mulai menyadari bahwa mereka butuh untuk memepelajari sesuatu karena mereka telah matang kepribadian dasarnya dan sudah melewati masa peka belajar.

Nah, bagaimana anak bisa mendapatkan kematangan kepribadiannya? Tentunya proses pematangan kepribadian anak dapat diperoleh melalui kegiatan bermain. Segala sesuatu yang besifat menggembirakan dan menghibur hati anak. Hampir setiap harinya anak yang berusaia dua atau tiga tahun akan menhabiskan waktunya dengan bermain. Mereka yang berada di usia ini biasanya memiliki sifat egosentris yang tinggi sehingga mereka belum siap dengan aturan yang mengikat. Yang dapat dilakukan hanyalah pengenalan dan pembiasaan disiplin serta membuat mereka nyaman dengan aturan.

Untuk mempercepat datangnya masa belajar, perlu sebuah rangsangan. Rangsangan itu dapat berupa mengenalkan anak pada buku dan pembiasaan mencintai buku. Dapat juga dilakukan dengan membacakan cerita , memberikan buku-buku bacaan yang menarik dan yang paling disukainya untuk menumbuhkan rasa ingintahunya. Sehingga anak menjadi tak asing lagi dengan buku dan menyukai aktivitas membacanya.



Baca Juga ya

Seperti hari ini Aqila mengutarakan keinginannya untuk bermain Bersama ibu lagi seperti dulu saat belum mempunyai adik bayi. namun keadaan ibu yang masih dalam masa nifas tak dapat berbuat banyak untuk membantunya menyiapkan segala alat dan bahan yang diperlukan untuk bereksperimen. Kulihat Aqila tampak kecewa dengan jawaban yang kuberikan. Namun saya berusaha menghiburnya dan untuk mengobati kekecewaannya, saya tawarkan Aqila bermain mewarnai garam. Membuat pelangi dalam gelas. Karena garam sangat mudah ditemui di dapur dan tidak memerlukan banyak bahan untuk melakukan kegiatan ini. Aqilapun sepakat dan ia dapat emeprsipakan semua bahannya sendiri karena masih mengingatnya, kerena kegiatan ini pernah kami lakukan Bersama dulu.

Setelah menghabiskan waktu dua jam Aqila bermain mewarnai garam, kemudian ia menunjukkan hasilnya kepadaku. Oh pintar sekali ia melakukannya, meskipun kulihat teras tempatnya bermain berserakan garam dimana-mana dan tampak berantakan sekali. Namun proses belajarnya telah ia lalui dengan baik dengan hasil yang baik pula. Dengan sedikit apresiasi yang kuberikan, ia sangat gembira dan lupa dengan kekecewannya.
Pada saat ia kuminta untuk memajang hasil karyanya itu, tiba-tiba ia bertanya tentang asal mula garam.
“ bu, kenapa si kita harus punya garam?”
“ ya harus dong nak, garam kan slahh satu bumbu dapur untuk ibu memasak. Kalau masaknya nggak dikasih garam ya jadinya nggak enak sayang.”
“ oh, jadi kita harus beli garam di warung ya bu biar punya garam untuk masak?”
“ iya benar banget tu..kalau garam kita habis, ibu akan beli di warung.”
“ trus, warungnya dapat garam darimana bu?” pertanyaannya semakin Panjang nih anak.
“ mmm…penjaga warungnya beli ke pasar dulu nak.” Saya mulai bingung dengan pertanyaan Aqila.
“memang garamnya yang buat siapa bu dipasar?”
Oh mungkin maksudnya ini terbuat dari apa garamnya, mulai mutar otak untuk menjawab pertanyaan Aqila. Saya jadi teringat kalau kami memiliki buku ensiklopedia tentang laut dan Samudra. Mending saya ajak Aqila membaca bukunya saja.

“ oke, nanti ibu kasih tau, sekarang Aqila cuci tangan dan bersihkan badan yang kena garam-garam itu. Setelah itu ibu akan tunjukkan ke Aqila darimana garam berasal.
Setelah Aqila siap, kumnta ia mengambil buku besar dengan kertas tebal yang berjajar diantara beberapa buku lain. kebetulan buku ensiklopedi ini masuk dalam daftar reading tracker Aqila, karena dia memang sangat menyukai buku ini karena kualitas gambarnya yang baik. Kamipun membuka buku ini, kutunjukkan padanya darimana garam berasal sabil melihat gambar di dalam buku kumanfaatkan untuk memberinya penjelasan, bagaimana mengolah air laut hingga menjadi garam dan sampai di tangan kita untuk bumbu masakan ibu. Hingga rasa ingintahunya ini terjawab semua. Lalu ia beralih dengan halaman berikutnya yang menampilkan berbagai macam ikan di laut.

Kamis, 17 Januari 2019

MENSTIMULUS ANAK SUKA MEMBACA




Saya sependapat dengan apa yang disampaiakan oleh Tony Buzan seorang ahli brain management bahwa, “ jika hendak menuju planet Mars, lalu ada penyimpangan arah satu centimetre saja di awal keberangkatan, bisa jadi pesawat tersebut tidak akan sampai di mars. Kesalahan kecil di awal perjalanan bisa jadi akan menimbulkan penyimpangan yang sangat jauh sehingga tidak akan sampai di tujuan.” Nah apa maksud dari yang dikatan oleh Buzan ini? Lebih lanjut ia menjelaskan, “jika ada penyimpangan sedikit pada Pendidikan usia dini, maka pada usia dewasa penyimpangannya akan semakin lebar. Sehingga anak menjadi sosok dwasa yang jauh dari yang diharapkan.”


Baca Juga ya



Meskipun Nampak hal yang sepele, namun untuk urusan Pendidikan kepada anak terutama nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan agar menjadi sebuah kebiasaan baik , harusnya mendapatkan perhatian lebih. Karena menanamkan kebiasaan kepada anak usia dini akan berdampak besar pada kehidupannya di masa dewasanya kelak. Termasuk dalam menumbuhkan kebiasaan membaca kepada anak, jika tidak diniati dengan tekad yang kuat agar anak menjadi pecinta buku dengan melakukan berbagai upaya, maka untuk menjadikan anak gemar membaca akan mustahil didapatkan. jangankan menjadi kutu buku, membukanya saja anak akan enggak melakukannya. Karena ia tidak distimulus untuk mendapatkan hal yang menarik dan mengasyikkan ketika bersama buku oleh kedua orangtuanya.




Kali ini saya mendapati Aqila sedang bertengkar dengan teman yang usianya lebih besar darinya. Karena tak tahan dengan pertengkaran itu, dan hatinya semakin jengkel iapun pulang ke rumah dan menemuiku dengan nafas yang teratur, wajah ditekuk, mulutnyapun cemberut. Setelah kugali informasi mengapa ia marah pada temannya rupanya mereka berdebat tentang seseorang yang berprofesi sebagai astronot. Ketika mereka berdua melihat seorang pemulung lewat di jalan sambil mengais-ngais sampah untuk mencari barang bekas, temannya mengatakan bahwa orang itu adalah astronot karena membawa tongkat dan karung besar yag terdapat di punggung pemulung tersebut, namun Aqila tahu bahwa yang namanya astronot itu adalah angkasawan yang menaiki roket dan pergi ke luar angkasa. Entah informasi darimana yang di dapatkan teman Aqila ini sehingga pemulung itu disebutnya sebagai astronot. Dalam hati saya tertawa juga mendengarnya, pertengkaran khas anak-anak yang sedang berbeda pendapat. Mungkin ada seseorang yang mengatakan pada teman Aqila ini bahwa pemulung itu sering disebut juga dengan astronot darat. Karena begitu juga yang kudapati dari guyonan para ibu-ibu tetangga rumah kami.

Baca Juga ya



Namun, meskipun begitu memberikan informasi yang tidak benar kepada anak tetap saja salah. Kerena anak akan sangat mempercayai apa yang dikatakan oleh orang dewasa kepadanya. Tentu saja hal seperti ini akan berakibat buruk pada pola pemahamannya di kemudian hari. Karena melihat Aqla yang tak juga sembuh dari amarahnya, sayapun berinisiatif untuk membacakannya sebuah buku menarik yang juga digemari Aqila. Saya hanya ingin ia dapat meredam amarahnya dan menunujukkan kepadanya bahwa Aqila lah yang benar dalam konsep profesi seseorang sebagai astronot. Karena ia juga sangat senang membaca, maka iapun setuju membaca buku Bersama ibu. Sebuah buku lama dengan format besar dan tebal yang di dalamnya terdapat informasi yang menarik tentang astronot dengan disertai foto-foto yang ekskulusif.

Bahkan moment ini menjadi kesempatan bagiku untuk mengenalkan kepadanya macam-macam planet dan satelit. Saya memulainya dari bab pertama tentang system tata surya dimana dengan melihat gambar urutan-uritan planet ini Aqila menjadi tercengang bahwa bumi yang ditempatinya ini sangatlah kecil dibandingkan dengan matahari dan beberapa planet lainnya. Kemudian ia mengetahui bahwa bulan bukanlah sebuah benda langit yang dapat mengeluarkan cahayanya sendiri melainkan dari pantulan sinar matahari. Semuanya menjadi sangat mudah dijelaskan manakala kegiatan ini dilakukan dengan media sebuah buku yang tepat.

Tiba-tiba Aqila mengatakan kepadaku ,” ibu kalau aku ingin naik roket bisa enggak?”
“ insyaallah bisa nak, besok kalau Aqila sudah besar.” Jawabku
“besok kalau aku sudah besar, ibu belikan aku roket ya?” tanyanya
“ hahaha…memang Aqila mau kemana kok pengen naik roket?”
“ aku mau ke bintang bu, kan bintang itu tinggi banget adanya di langit sana, kan nggak bisa kalau kita Cuma naik mobil, harusnya naik roket kan bu?”

Baca Juga ya


“ iya sayang kamu benar, ke bintang itu naikknya roket ya bukan naik mobil.” Ujarku menguatkan pendapatnya.
“ kelak kalau kamu sudah besar, kamu akan tahu dimana bisa kamu temukan roket dan bagaimana bisa menghitung jarak bumi kita dengan bintang-bintang di langit itu. Maka Aqila harus rajin belajar dan semangat membaca buku nya ya?” lanjutku kepadanya dengan memberikan penjelasan.

Dari kegiatan ini, saya melihat Aqila telah hilang api amarahnya dan berubah menjadi api semangat untuk menjajaki bukunya. Demikianlah, masalah yang kudapati saat mendampingi Aqila dapat teratasi hanya dengan sebuah buku. Tahukah anda bahwa baru-baru ini sedang mencuat gagasan alat untuk menyembuhkan pasien penderita depresi dengan menggunakan buku? Ya, metode ini dikenal sebagai metode biblioterapi yang hasilnya para pasien merasa lebih bersemangat setelah mengetahui bahwa masalah yang dihadapinya ternyata jauh lebih ringan disbanding kisah yang dibacanya. Meskipun hal ini masih dalam penelitian lebih lanjut dan masih dalam perdebatan, namun saya merasakan sekali manfaat buku ini yang dapat menyembuhkan amarah dan ledakan emosi putri kecilku.

Minggu, 13 Januari 2019

MENSTIMULUS ANAK SUKA MEMBACA
Bagian 5
 

Memfasilitasi anak dengan sarana belajar yang asyik dan menyenangkan tentunya sangat diperlukan untuk mendukung kebiasaan suka membaca. Namun segala bentuk fasilitas yang diberikan tak selalu harus mahal ya bunda, kita bisa melibatkan anak untuk membuat kreativitas sendiri yang dapat mempercantik meja belajarnya atau rak bukunya. Tempelkan setiap hasil kreativitas anak sehingga ia merasa bangga dengan hasil kerjanya yang dapat berupa gambar, lipatan kertas, rangkaian bunga dll. Hal ini akan menjadikan anak semakin semangat untuk membangun litersi habbit pada anak.


Mari kita bangun budaya ilmiah di dalam rumah kita. hal ini akan menuntut setiap anggota keluarga untuk memiliki perilaku dan pembiasaan dalam diri untuk mendukung budaya ilmiah ini. Nah budaya ilmiah dimulai dari apa? Tentu saja harus diawali dengan memberikan Pendidikan terbaik, yaitu Pendidikan agama dan penanaman nilai-nilai agama yang terwujud dalam pembiasaan pelaksanaan ibadah rutin seperti sholat, tilawah Alqur’an, membaca doa sehari-hari, atau menghafal alqur’an. Selanjutnya adalah budaya belajar. Orangtua perlu memberikan teladan yang baik kepada anak-anaknya, lalu apa yang harus dipelajari?apa saja sesuai kebutuhan dari masing-masing anggota keluarga. Bila perlu membuat kesepakatan Bersama untuk menentukan jam baca keluarga.
Sudahkah ayah dan bunda membacakan cerita pada si kecil setiap hari? Munculkanlah gairah cerita anak dengan membacakannya buku cerita, mereka tentu akan sangat menanti-nanti waktu bercerita Bersama orangtuanya manakala jam baca telah disepakati dan kebiasaan membacakan cerita ini telah terbangun. Seperti saya sampaikan sebelumnya bahwa, kegiatan ini memiliki banyak manfaat karena menjadi wahana bagi anak untuk dapat membuka cakrawala pengetahuan yang baru, sebagai sarana bagi kedua orangtua untuk menanamkan nilai moral kepada anaknya juga dapat menambah rasa cintanya terhadap buku dan dunia bacaan serta sebagai upaya untuk menjawab rasa keingintahuan mereka terhadap sesuatu.

Baca Juga ya

Nah ada hal yang menarik dari kegiatan membaca Aqila tadi malam Bersama ayahnya. Biasanya ia suka bercerita sendiri dengan bukunya, namun kali ini ia mendapai ayahnya telah berada di rumah dan memiliki waktu luang, ia enggan membaca buku cerita sendiri. Ia ingin ayahnya yang membacakan buku cerita untuknya. Bahkan saya menawarkan diri untuk membacakannya cerita iapun menolaknya. Baiklah, akhirnya saya hanya memperhatikan keduanya asyik dalam kebersamaan dengan buku. Kali ini ayahnya kulihat sangat berusaha sekali bercerita dengan sebaik mungkin agar Aqila senang. Kulihat Aqilapun tampak tenang menyimak cerita yang disampaikan ayahnya. Sesekali mereka bercanda dan tertawa Bersama. Tibalah mereka pada sebuah halaman yang berisi tentang adab berwudhu. N ah, ini cocok sekali untuk Aqila yang suka sekali bermain air saat berwudhu. Hampir setiap kali selesai berwudhu Aqila harus selalu ganti baju karena seluruh badannya basah semua akibat bermain air saat berwudhu. Inilah waktu yang teat untuk mengajarkan kepada Aqila untuk tidak mubadzir air saat berwudhu. Banyak pertanyaan yang muncul dari Aqila diantaranya ,mengapa tidak boleh main air saat berwudhu, Mubadzir itu apa, dan bolehkah aku solat tapi tidak wudhu dulu. Wah rupanya rasa ingiintahunya semakin banyak dan kami sebagai orangtuanya harus menjawab semuanya. Dari kebersamaan Aqila dengan ayahnya saat bercerita ini diakhiri dengan mempraktekkan tata cara berwudhu yang benar oleh Aqila.

Baca Juga ya



Membangun kebiasaan suka membaca dalam keluarga berarti kita telah membangun Pendidikan dari dalam rumah. Salah satu tujuan utama Pendidikan adalah pemenuhan kebutuhan rasa ingin tahu anak. Nah, rasa ingin tahu anak akan semakin Nampak saat anak menerima informasi yang menarik baginya. Tentunya hal-hal yang menarik dari anak-anak balita perlu kita gali dan pahami. Perkuat rasa ingintahunya dengan menstimulusnya melalui bercerita mengunakan buku cerita bergambar. Karena rasa ingin tahu anak adalah fitrahnya yang perlu dijaga, dipelihara dan diarahkan.

Jumat, 14 Desember 2018


MENJAJAKI GAYA BELAJAR ANAK DENGAN BERAGAM KEGIATAN
“ MELOMPAT DAN MENITI”



Usia dini atau sering disebut dengan usia pra sekolah dimana anak masih berada pada masa ketika anak belum memasuki Pendidikan formal. Rentan waktu ini sangat baik sekali untuk para orangtua dapat mengembangkan potensi dan kecerdasan anak. Melakukan pendampingan dan memberikan arahan untuk pengembangan potensinya akan sangat berpengaruh pada kehidupannya dimasa yang akan datang. Peluang terbesar dan terbaik untuk anak dapat menyerap informasi dan pengetahuan adalah pada anak masih berada pada usia dini dibandingkan dengan ketika anak-anak telah beranjak dewasa. Hal ini disebabkan salah satunya adalah karena otak anak usia dini belum terkontaminasi oleh berbagai macam pengetahuan dan perkembangan otak pada masa usia dini sedang berada pada perkembangan yang pesat.

Baca Juga ya



Percayakah anda, bahwa kecerdasan anak berawal dari permainan. Bagi anak-anak, bermain adalah sarana untuk mengubah kekuatan potensi dalam diri menjadi sarana penyalur kelebihan energi dan relaksasi. Dengan bermain mereka akan banyak belajar tentang hukum alam dan berhubungan dengan lingkungan. Dan yang lebih penting lagi adalah, bermain merupakan kegiatan yang dapat mengembangkan potensi anak dalam berkreasi sesuai kemauannya tanpa paksaan dan hambatan untuk melatih fisik dan mental supaya anak dapat lebih mengenal dirinya dan lingkungannya.

Melalui bermain kita dapat melihat dan mengamati setiap perkembangan yang terjadi pada diri anak, selain itu kita juga dapat mengembangkan potensi kecerdasan anak dengan beragam metode untuk semua aspek kecerdasannya baik di ranah kognitif, afektif dan psikomotornya, Mengamati kecenderungan kecerdasan dan gaya belajarnya. dan tentunya di usia dini juga, kita perlu mengasah semua kemampuan anak di setiap ranah kecerdasan yang secara natural ada dalam diri anak secara keseluruhan. Biarkan jika beberapa atau salah satu kecerdasan dan gaya belajarnya muncul lebih optimal dan lebih dominan sebagai kecenderungannya. Karena jika kecerdasan dan gaya belajarnya telah Nampak yang paling dominan, tahap berikutnya adalah tinggal memberikan pendampingan secara terarah, pemberian fasilitas belajar secara tepat dan sesuai kebutuhan belajarnya serta ketepatan dalam proses pengembangannya. 

Masih dalam rangka menjajaki gaya belajar Aqila, selain ingin mengasah semua kemampuan potensi kecerdasannya, saya juga perlu mengetahui gaya belajarnya yang paling dominan mealalui beragam kegiatan yang saya lakukan bersamanya. Kali ini adalah melaui permaian fisik yang akan melatih tingkat kefokusan dan keseimbangan tubuhnya. Setiap kegiatan bermain akan menuntut keaktifan secara fisik dan mental dengan cara yang menyenangkan. Maka dengan aktivitas bermain ini , anak pasti akan sangat merasa senang dan bahagia karena menikmati permainan. Dan yang paling penting bagi kita sebagai orangtua, kita tidak boleh memaksakan kegiatan bermain kepada anak dengan permainan-permainan yang memang tidak disukai oleh anak. Jika kita memiliki misi, maka sebaiknya tawarkan kepada anak jenis permainannya, apakah dia suka atau tidak. Kalau anak tidak suka ya jangan dipaksakan. Rubah permainan atau modifikasi bentuk permainannya.




Setiap permainan yang saya lakukan Bersama Aqila selalu melibatkan gerak tubuh dan olah fisik karena semua aktivitas bermain akan menuntut anak menggerakkan tubuhnya. Seperti halnya dengan permainan yang kami lakukan ini, yaitu melompat dan meniti pada sebuah kayu balok untuk menyeberangi suatu parit. Melompat saat bermain engklek ternyata sangat menyenangkan bagi Aqila, namun butuh beberapa waktu untuk mengenalkan permainan ini kepadanya. Termasuk cara bermain dan mencontohkannya agar ia mengerti dan dapat melakukannya sendiri. Saya masih sangat mengingat sebuah kejadian saat Aqila berusaha untuk dapat melakukan gerakan senam secara teratur, tak dapat ia pahami jika hanya melihat saja dari video di layar laptop. Namun harus dengan arahan dan mencontohkannya langsung melalui kontak fisik.




Dari pengalaman itu, saya pun menggunakan metode yang sama. Tidak cukup dengan memperlihatkan gerakan di hadapannya, namun dengan menjelaskan melaui kalimat verbal dan harus membersamianya saat melakukan gerakan-gerakan melompat pada permainan engklek. Kegiatan semacam ini dapat melatih kekuatan otot dan keseimbangan. Kegiatan meniti atau berjalan dia atas papan dapat dilakukan pada anak yang sudah berusia 3-4 tahun. Pernah saya mencobanya saat Aqila masih berusia 2 tahunan, ternyata dia belum memiliki kepercayaan diri yang baik, bukannya berjalan meniti tapi justru merangkak. 



Baca Juga ya








Namun, untuk melatih kepercayaan dirinya pada saat itu, saya memegang erat tangannya sebagai kode yang seolah ingin kukatakan bahwa ibu ada disampingmu dan menjagamu, maka percayalah pada ibu. Perlahan-lahan dengan berpegangan pada tanganku Aqila berjalan di atas papan. Ketika sukses berkali-kali, iapun melompat kegirangan. Nah, barangkali ia mengingat moment ini saat saya memintanya lagi meniti diatas balok kayu yang melintang diatas parit  Dan dia tertawa sendiri kemudian menunjukkan kelincahan dan kemahirannya di hadapanku tanpa arahan dan penjelasan apapun dariku. Nah, ini juga merupakan sebuah tanda bahwa ia juga telah memiliki kemampuan mengkonstruk sebuah informasi, pengetahuan dan pengalamannya untuk dapat melakukannya dengan lebih baik.



#harike17
#Tantangan10hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#kuliahBunSayIIP



Kamis, 13 Desember 2018


MENJAJAKI GAYA BELAJAR ANAK DENGAN BERAGAM KEGIATAN
“ MEWARNAI GARAM”



Dari kegiatan kemarin dilakukan Aqila, yaitu mengenal bumbu dapur melalui bentuk, tekstur dan aroma, ada satu kegiatan tambahan yang membuat Aqila menjadi begitu asyik melakukannya. Karena bahan-bahan masakan yang paling banyak ditemui dan berlimpah adalah garam, Aqila tanpa sengaja menghamburkannya dari bungkusnya. Jadilah garam-garam itu bertebaran di lantai. Awalnya kupikir oh..pekarjaan baru nih. Harus menyapu, mengumpulkan garam dan mengepel. Karena tentu saja garam-garam yang telah mencair akan menjadikan lantai menjadi lengket dan licin. Tapi karena sedang sibuk membereskan yang lain dan akupun harus melanjutkan aktivitas memasak, ku biarkan saja dulu keadaan ini. Kutinggalkan Aqila dengan garam-garamnya di lantai teras rumah. Sementara aku melanjutkan aktivitasku di dapur. Ketika sedang berbenah dan memasukkan beberpa barang ke dalam lemari makan, aku melihat ada tiga botol pewarna makanan yang masih bisa digunakan. Munculah inisiatof untuk meniru sesuatu yang pernah dilakukan sesorang dalam sebuah buku, namun saya lupa buku apa itu. Okelah daripada Aqila main sendirian tanpa tujuan, lebih baik kuberikan dia permainan baru untuk menyibukkannya yaitu “ mewarnai garam”.


Baca Juga ya


Kupanggil Aqila dengan nada dan wajah gembira.
“ kakak Aqila…”
“ iyya bu..” jawabnya.
“ tolong ke dapur sebentar bisa?” pintaku.
“ ya bu…” dia berlari menghampiriku yang sedang berada di dapur.
“ apa bu?” tanyanya.
“mmmm..kakak masih main sama garamnya?” tanyaku memancing .
“ masih bu…garamnya jadi banyak deh bu.” Ungkapnya sedikit ragu-ragu.
“ hehe..itu bukan jadi banyak kak, tapi karena terlepas dari wadahnya garamnya berserakan dan kemana-mana. Jadi terlihat banyak.”
“ apa ibu panggil aku mau marah karena garamnya tumpah?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi.
“ ya enggaklah kak, ibu malah mau kasih ini ke kakak.” Sambil kutunjukkan ketiga pewarna makanan kepadanya.
“ wah..pewarna bu? Untuk apa?”
“ untuk warnain garamnya.” jawabku
“ sama ibu ?”
“ masakan ibu belum matang kak, jadi kakak main sendiri dulu bisa?”
“ bisa…nanti kalau udah matang sayurnya, temenin aku lagi ya?”
“ pasti kak..”
“ tapi…gimana caranya aku warnain garamnya bu?”
Siiip…stimulus yang mengena pikirku.
“ oh..mudah sekali, kakak ambil sapu ya, garamnya kumpulin dulu.”
“ iya bu..”
dia bergegas mengambil sapu dan menyapu garam-garam yang berserakan dengan kemampuannya menyapu. Meski tentu tidak bersihnya, namun dia mengerjakannya dengan baik, hingga garam-garam itu terkumpul juga. Aku hanya mengamatinya dari kejauhan sembari mengerjakan beberapa tugasku. Kulihat ia menghampiriku lagi.
“ udah selesai bu ngumpulinnya garamnya, trus garamnya tarok mana bu?”
“ iya sebentar ya sayang ibu lihat dulu” aku berjalan bersamanya menuju teras rumah dan benar saja melihat tumpukan garam telah menjadi satu. Namun kulihat garam-garam ini sudah kotor bercampur dengan pasir dan tanah hasil kreativtasnya bermain tadi. Artinya Sudha tidak bisa digunakan lagi.
“oh.. kakak ambil cikrak plastic itu ya untuk buuang garamnya.”
“ kok dibuang bu? Katanya mau untuk main lagi?” tanyanya penasaran.
“ iya kak, maksud ibu gitu..tapi garamnya dah kotor tu campr pasir sama tanah. Lebih baik kita bersihkan dulu tempatnya dan kita ambil garam yang baru.”


Baca Juga ya

“ hehe…ibu maaf ya tadi aku pura-pura masak nasi.”
“ iya nggak apa-apa, oke sekarang kita bersihkan sama-sama ya tempatnya, Aqila mau kan?”
“ iya bu..makasih ibu sudah baik.”
“ sama-sama kak, maksih juga kakak sudah pinter.”
Setelah semuanya selesai dibereskan dan sedikit terlihat nyaman, barulah aku memulai memberinya penjelasan permainan mewarnai garam.
Satu-satu kuintruksikan kepadanya tentang apa yang harus dilakukannya.
“ kak, buka dua bungkus garamnya dan tuang di nampan ya.” Pintaku.
Sementara itu aku mengepel bagian dalam rumah yang lantainya kotor karena jejak kaki Aqila yang terkena lelehan garam.
Ku intip dia telah melakukannya dnegan baik. Ya..tepat hanya dua bungkus dia membuka garam dari wadahnya.
“ kak kalu sudah bagi jadi tiga di cawan-cawan kecil yang udah ibu siapin di situ ya.”
“ iya bu…pake sendok ya bu.”
“ iya kak, pinter kamu.”
Nah saat mengintip lagi, meskipun tidak terbagi secara rata, namun telah terbagi tiga. Nggak masalah lah. Bisa dilanjut kok.
“ udah belum kak?”
“udah bu…”
“ abis itu setiap cawan garamnya kasih pewarna ya.. kalau tiga berarti pakai semua pewarnanya.”
Selesai sudah kegiatan mengepelku dan aku segera meluncur ke teras tempat Aqila bermain. Dan kudapati dia sudah mulai mengaduk-aduk garam dengan pewarna makanan. Wah ..bisa juga ya Aqila melakukan itu walau intruksi yang kuberikan hanya dari kejauhan. Mungin karena dia mau dan senang melakukannya ya, sehingga hal itu menjadi mudah saja baginya. Tapi ada hal yang telah kudapatkan dari beberpa kegiatan yang kulakukan bersamanya untuk menstimulus muncunya kecenderungan gaya belajarnya. meskipun Aqila dapat menangkap dan mengolah informasi melalui beberapa metode stimulus gaya belajar dengan metode visual,auditory dan kinestetik sekaligus, tapi selama ini aku melihat kecenderungannya yang paling menonjol adalah auditory. Dia sangat cepat dan mudah dalam merespon tatkala mendengar  infoormasi dan dia sanagt suka berhubungan dengan oranglain melaui dialog dan senang diajak diskusi. Kalaupun dia mampu merespon dan memahami informasi dengan gaya belajar yang lain, itu karena fitrahnya seorang anak kecil yang sednag bertumbuh dan berkembang dengan mengoptimalkan seluruh inderanya.

Baca Juga ya


Setelah selesai mewarnai garam di ketiga cawan yang ada, aku memintanya untuk meletakkan semua garam berwarna itu di sebuah gelas bening secara berurutan. Dan jadilah pelangi garam dengan tiga warna yang tampak sangat indah sekali. Ah..Aqilaku yang keren sangat bangga sekali dengan hasil karya dan kerjanya. Sebenarnya akan lebih baik jika garmnya dijemur dulu supaya lebih kering, karena garam yang baru dibuka dari bungkusnya masih sangat basah dan jika memungkinkan permainan ini dapat dibuat dengan tujuh warna pelangi. Sekalian untuk mengingatkan atau mengajarkan urutan-urutan warna pelangi.untuk anak usia 2 tahun, kegiatan ini sangat baik untuk pengenalan warna pelangi, recall colour, meningkatkan life skil dalam hal menyendok dan melatih kepercayaan diri. 











Terkait dengan manfaat permainan ini, alhamdulillah Aqila telah mahir dalam menyebutkan warna, urutan warna pelangi, ketepatan menyendok dan tingkat kefokusan dengan kepercayaan diri yang kunilai telah baik. Jadi Sebenarnya Kegiatan ini sengaja  kulakukan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Disaat garam-garam berserakan dan beberapa aktivitas rumah yang belum kuselesaikan, sehingga kondisi ini kumanfaatkan untukk menyibukan Aqila sekaligus sebagai jeda waktu untuk kumanfaatkan menyelesaikan pekerjaanku. Selain itu, dengan kegiatan ini, aku tetap bisa menstimulus dan mengamati gaya belajar Aqila melalui komunikasi produktif, intruksi langsung dan dialog. 

#harike16
#Tantangan10hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#kuliahBunSayIIP
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

ANDROID SOURCE CODES MURAH

ADVERTISEMENT

IKUTI KAMI

Total Pageviews

Popular Posts

ADVERTISEMENT

Aqila Nyanyi - Naik Delman

IKUTI FANSPAGE KAMI

Unordered List

Text Widget