Tampilkan postingan dengan label komunikasi produktif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi produktif. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 November 2018


MENJAJAKI GAYA BELAJAR DENGAN STIMULUS VISUAL,AUDITORY DAN KINESTETIK MELALUI EKSPERIMEN 
“HUJAN DALAM TOPLES”


Dalam menstimulus anak untuk mengetahui kecenderungan gaya belajar yang paling dominan, sudah semestinya orangtua mengajak si kecil untuk melakukan beragam aktvitas. Melihat basic kecerdasan pada Aqilla yang paling menonjol adalah naturalis, maka bereksperimen adalah hal yang paling dia sukai. Setelah kemarin mencoba dengan stimulus visual, kali ini saya mencoba untuk tiga gaya sekaligus visual, auditory dan kinestetik. Jenis eksperimen kali ini adalah membuat hujan dalam toples, meskipun percobaan yang sejenis pernah dilakukan, namun saya juga ingin melihat daya nalarnya dalam menghubungkan beberapa peristiwa dan pola sebab akibat. dalam berekperimen juga kita dapat melihat perkembangan kognitif anak.
Baca Juga

Aqila sudah tidak asing dengan kegiatan bereksperimen, sehingga tidak memerlukan banyak waktu untuk memberinya penjelasan. Dia langsung bertanya apa saja yang harus disiapkan dan apa perannya dalam percobaan kali ini. Tentu saja dengan gesit ia melakukan intruksi ibunya dan memainkan perannya.

“ ibu..kita mau percobaan apa?”
“ bikin hujan dalam toples kak”
“ aku harus ambil apa aja bu?”
“ ambil telur dua buah”
“ di kulkas ya bu?”
“iya betul”
Dia bergegas menuju kulkas berada dan kembali membawa dua telur yang sudah dimasukkan dalam mangkuk kecil.
“trus apa lagi bu?”
“ambil air pakai botol dan pewarna makanan di meja belakang ya”
“ oke bu…” ia pun berlari mengambil dua benda sekaligus dan ia membutuhkan waktu beberapa saat untuk mengisikan air ke dalam botol.
“ ini bu..dah siap, aku ambil warna merah dan hijau.”
“iya, nggak apa-apa.”
“ ada lagi bu?”
“ iya kak, satu lagi toples kaca di lemari makanan bagian bawah sama bawa sendok satu aja ya.”
“ siap bu..”


Baca Juga

Nah… selesai sudah membuat persiapannya. Dia sangat mudah menerima intruksi dan mengingatnya, bahkan ia mempunyai ide untuk beberapa hal meski tidak masuk dalam intruksi. Seperti membawa telur yang dimasukkan dalam sebuah mangkuk. Aku tidak menyuruhnya begitu, namun mungkin dia berpikir akan lebih mudah membawanya dan mangkuknya akan digunakan untuk memecahkan telur. Dan benar saja, apa yang dia pikirkan sangat tepat sekali.
Percobaan pun kami mulai dengan antusiasnya Aqila terlibat penuh dalam melakukan eksperimennya. Pertama aku membantunya memecahkan telur dan memisahkan kuning dan putih telurnya. Lalu dia mengocok putih telur sampai mengembang dan berbusa seperti awan. Lalu kuminta Aqila memasukkan air sedikit demi sedikit kedalam toples hingga terisi separuhnya. Lalu Aqila memasukkan hasil kocokan putih telur ke atas air yang telah berada dalam toples. Dia pun kuminta untuk meneteskan pewarna makanan dengan warna pilihannya ke dalam toples menggunakan suntikan bekas. Nah setelah itu ia diam dan mengamati apa yang terjadi dalam toples itu.
Tiba-tiba dia berteriak kegirangan,
“yeiiiy…bu…lihat aku berhasil”
“apa yang kakak lihat?”
“ ada tetesan air berwarna dalam toples, bagus banget bu…”
“ wow..iya ya kak…jadi yang netes-netes itu apa kak?”
“ ya itu pewarnanya bu…jatuh kayak hujan dari langit. Ada awannya juga, aku bisa bikin awannya ya bu?” ungkapnya penuh kebanggaan.
“ kakak suka?”
“ iya bu suka banget, apa aku bisa pakai warna yang lain?”
“ tentu saja bisa, nah..pakailah warna yang lain dan cobalah.”
“ baik bu…terimaksih ibu..”
“sama-sama sayang..”









Hanya sebuah percobaan sederhana yang kami lakukan, namun sarat akan makna. Kami memiliki kedekatan batin dengan bermain bersama, akupun dapat melihat dan mengamati kecenderungan tipe kecerdasan Aqila semakin kuat dan terlihat jelas. dalam kegiatan bereksperimenpun tampak sekali gaya belajar kinestetik dan auditorynya terlihat menonjol. Ia mampu melaksanakan intruksi dengan baik dan enjoy melakukannya. Semakin banyak melakukan sesuatu Ia semakin bersemangat untuk mengasah kemampuannya. Hal ini juga dapat menstimulasi kognitifnya berupa pengetahuan tentang hujan serta hubungan sebab akibat yang dapat dengan mudah ia pahami dengan bereksperimen setelah sebelumnya ia menyaksikan hujan malam hari dibalik jendela sambil memanjatkan doa.

#harike3
#Tantangan10hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#kuliahBunSayIIP

Jumat, 23 November 2018


PIKIRAN BUKAN SEBUAH WADAH UNTUK DIISI TAPI API UNTUK DINYALAKAN




Setiap proses berpikir tak akan terlepas dari perkembangan organ bernama otak. Pada belahan otak  kanan dan otak kiri memiliki perbedaan fungsi yang sangat ditentukan oleh aktivitas mental yang berproses pada masing-masing belahan otak. Apa saja perbedaan fungsi kedua belahan otak ini? Belahan otak kiri bekerja secara linier dan sangat rasional. Bergerak dengan menghubungkan satu ide dengan ide yang lainnya. Bagian ini adalah pusat control untuk fungsi intelektual seperti ingatan, Bahasa, logika, perhitungan, klasifikasi, menulis, dan analisis. Sedangkan belahan otak kanan merupakan pusat control untuk fungsi mental. Seperti tingkah laku dan emosi, persepsi, koordinasi tubuh, music, irama dan penyimpanan pikiran.

Norman Cousins mengatakan, bahkan jagad raya, dengan jutaan galaksinya pun tidak sanggup menandingi kompleksitas otak manusia yang menakjubkan. Otak manusia adalah cermin ketakterhinggaan. Tidak ada batas, ruang lingkup atau kapasitas bagi otak untuk tumbuh secara kreatif. Sehingga manusia perlu memaksimalkan fungsi otaknya sebbaik mungkin. Memahami kebutuhan otak dengan memberi rangsangan dan stimulasi yang baik. Apalagi optimalisasi otak pada anak usia dini. Mereka membutuhkan rasa aman, kasih sayang dan perlindungan dalam mengoptimalkan fungsi otaknya melalui stimulasi positif. Mereka membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitarnya terutama keluarga yang akan memudahkannya menangkap informasi.

Stimulasi positif untuk mengoptimalkan fungsi otak juga dapat dilakukan dengan mengasah kreativitasnya melalui bermain. Anak harus terlibat secara intensif dalam berdialog saat bermain dengan teman atau orangtuanya. Berikan rangsangan melalui hal-hal yang menjadi minatnya sehingga anak terdorong untuk berpikir. Dengan seperti itu akan melatih keterampilan berpikir kreatifnya. Ia akan menjajaki dirinya dan lingkungannya dengan berbagai cara menggunakan kemampuan yang baru berkembang pada dirinya.

Bermain pun merupakan sarana untuk anak belajar mengenali diri dan lingkungannya. Jauh dari apa yang orang pahami selama ini bahwa, belajar adalah untuk menemukan jawaban-jawaban, belajar yang diukur denan indeks prestasi dan nilai-nilai ujian. Bahkan belajar sering dikaitkan dengan aktivitas menuliskan hal-hal yang teah diketahui oranglain diatas kertas atau papan tulis. Padahal beajar adalah sebuah petualangan seumur hidup. Sebuah proses Panjang dan perjalanan eksplorasi tanpa akhir untuk menciptakan pemahaman personal kita sendiri. Dan kita harus memahami bbahwa petualangan itu akan melibatkan segenap kemampuan secara terus menerus untuk sadar akan proses belajar dan berpikir.

Kita membutuhkan keleluasaan untuk menghadapi petualangan  ini. Keleluasaan yang bagaimana? Yaitu keleluasaan untuk berpikir dan menemukan makna serta persepsi tentang sesuatu. Leluasa dalam memilih dan mengambil keputusan serta kesiapan mental dalam menghadapi konsekuensinya. Bukan dengan sebuah pikiran yang dijejali dan didoktrin sedemikian rupa sehingga pikiran itu terkungkung dan tidak berkembang. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang sepertinya tak jauh dari tempat kita. ada pengalaman menarik dari seorang siswa taman kanak-kanak yang sedang bermain dengan anak saya, Aqila. Mereka bermain warna menggunakan crayon. Masing-masing memiliki gambar yang sama untuk diwarnai dari kertas yang berbeda.

Selanjutnya terjadi perdebatan hebat hingga melibatkan emosi masing-masing hanya karena perbedaan pendapat tentang warna bunga. Ini adalah hal sangat menarik untuk saya amati. Bagi siswa TK ini, bunga itu merah dan daun itu hijau. Berbeda dengan Aqila yang lebih sering mengamati segala makhluk yang ada di lingkungannya bersamaku. Ia berpendapat bahwa terlalu banyak warna di dalam kotak crayon ini yang bisa dia gunakan untuk memberi warna bunga, dan ia memiliki banyak pengalaman dengan melihat bunga yang beraneka macam warnanya. Bahkan dallam kelopak bunga yang sama, ia melihat ada warna yang berbeda disana. Daun pun tak selalu hijau yang ia jumpai. Dia sering melihat daun berwarna kuning atau merah.

Karena perdebatan mereka mengarah pada sebuah pertengkaran, saya merasa tersentuh untuk melerai mereka berdua dan kutanyakan permasalahan mereka. Masing-mmasing memberikan pendapat dan argumennya. Oke… saya memahami pola pikir Aqila. Namun bagaimana dengan temannya? Ingin sekali saya menggali informasi darinya mengapa bunga harus merah dan daun harus hijau. Dan apa yang keluar dari bibirnya benar-benar tak kuduga, ia mengatakan bahwa begitulah gurunya di TK mengajarinya mewarnai. Hal itupun didukung oleh ibunya di rumah, bahwa bunga itu merah dan daun itu hijau titik! Saya setengah kaget namun saya harus menyadari bahwa teman Aqila memang tidak salah mengikuti ajaran guru dan ibunya. Namun dalam hati saya menyayangkan hal ini, anak ini terjejali dengan paradigma orang dewasa yang ada disekitarnya dan enggan berpikir bebas untuk berusaha melakukan sesuatu yang berbeda dan lain dari biasanya. Gurunya yang justru menyumbat kreatifitasnya sehingga sangat dikhawatirkan anak ini tidak dapat mengoptimalkan fungsi otaknya yang luarbiasa, karena apa? Karena kurang mendapatkan dukungan lingkungannya dalam melakukan stimulasi fisik dan mentalnya. Ia tidak diberi kesempatan untuk melihat bunga dengan cara lain, meskipun dia tahu bawa di sekitarnya bunga tak selalu berwarna merah. Padahal kegiatan mewarnai adalah sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan dan realitanya ada banyak warna pada bunga, namun anak inii hanya mengambil warna merah dan hijau untuk mewarnai semua bunga meskipun dlam kotak crayon terdapat beraneka warna.

Kita tentu masih ingat bahwa tujuan terpenting dari sebuah Pendidikan adalah belajar bagaimana belajar. Karena pada dasarnya Pendidikan bukanlah sebuah kejadian sekali saja bagi setipa orang, melainkan sebuah proses yang berkesinambungan sepanjang hayat.  Seringkali tanpa disadari anak-anak telah dicetak dengan cara pendang baik di rumah atau di sekolahnya.mereka seolah-olah hanya diberikan satu jalan keluar dan didoktrin ahwa itulah satu-satunya jalan yang benar. Padahal begitu  banyak pilihan jalan yang dapat diambil. Jadi seolah-olah pendapat lain adalah salah karena sang guru mengganggap ccara yang lain memang salah. Namun hal ini menjadi hal yang paling menyedihkan manakala cara pandang ini menjadi terpatri kuat dalam diri sang anak. Meskipun sang anak telah mendapatkan tempat keleluasaan dan kebebasan untuk berekspresipun si anak tetap tak mau dana tak mampu mengambil pilihan lain secara kreatif dan ia cenderung memilih menggunakan cara berpikir yang sama meski situasi telah berubah.

Perlu kita semua ketahui bahwa memberikan keleluasaan bagi anak untuk senantiasa memilih sedini mungkin akan membuatnya terampil dalam mengambil pilihan terbaik dan siap dengan konsekuensi dari setiap pilihannya. Bukankah hidup ini juga merupakan serangkaian untuk memilih dan mengambil keputusan? Maka berikanlah keleluasaan pada anak-anak kita untuk memilih dan mengambil keputusannya sendiri dan berikan kepercayaan padanya untuk bertanggungjawab atas pilihan yang diambilnya. Dengan kepercayaan inilah kita akan menyalakan api pikiran dan kreatifitas anak-anak kita, bukan menjejalinya dengan cara pandang orang terdahulu.

Kepercayaan anak pada kedua orangtuanya adalah modal untuk menumbuhkan mental yang sehat. Dengan kepercayaan ini orangtua memiliki pintu masuk untuk mengakses hati dan pikiran anak. Sehingga akan mudah bagi orangtua untuk menanamkan nilai-nilai agama,moral, kedisiplinan dan perilaku. Anak akan percaya kepada orangtuanya, bahwa orangtuanya akan memahaminya dan dapat enjadi teman baginyaa, sehingga anak akan berlaku jujur kepada orangtuanya kerena orangtuanya dapat memberikan maafnya jika dia bersalah.

Semoga kita dapat menjadi orangtua yang terpercaya.

Kamis, 08 November 2018

Minggu ini alhamdulillah hujan sudah mengguyur setelah sekian minggu tidak turun hujan. musim hujan seperti ini aktifitas mengawasi Aqila mulai lebih ekstra nih, bisa bisa seperti waktu itu, hee
nah tulisan ini sudah pernha aku terbitkan di sebuah blogku yang lain, nah kali ini aku muat saja di blog ini, ini dulu tulisanku..
Bermain Itu Bersenang Senang 
 
Air adalah benda yang teramat Aqila sukai.sejak bayi,Aqila sudah tahu bagaimana ia menikmati bermain air.kaki mungilnya dihentak hentakkannya di air setiap kali aku memandikannya ,tertawa kecil dan merekah.membuat penatku hilang seketika.

Suatu hari aku kenalkan ia dengan kran air.ku ajarkan ia memutar kran,dan keluarlah airnya.
"Bunda...airnya keluar ya nda...hihihi,aku bisa mandi ya bunda?"
Komentarnya sembari tertawa riang tanda bahagia
"Iya sayang...air ini ciptaan Alloh,kita harus mensyukuri nya.ayo Aqila ucapkan alhamdulillah..." jawabku sambil memberikan pengajaran Aqidah.
Setiap hari Aqil mulai terbiasa menggunakan kran air .dari memutar kran ukuran kecil,sedang dan pol.biasanya ia memutar kran air untuk keperluannya cuci tangan dan kaki.
Siapa sangka akal nya lebih dari itu,dia ingin mencoba hal yang baru.
Saya terkejut dibuatnya.sore hari ketika saya sedang masak untuk makan malam,Aqila menghampiriku.

"Bunda,aku main ya..gak jauh kok.main di rumah saja" katanya minta izin.
"Iya,sayang nanti kalau bunda panggil Aqila jawab ya.."
Jawabku tanda setuju.
Ditengah kesibukanku memasak,aku sempatkan tengok Aqila yang sedang bermain.pertama ku lihat dia,dia main masak masakan dengan peralatan yang dia ambil di rak piring.entah kenapa dia tak mau pakai peralatan masak mainannya.dan lebih suka pakai punya bunda di dapur.dia begitu sibuk memasak nasi dari tanah dan sayur mayur dari daun dan bunga-bunga yang ada di halaman rumah.kulihat ia bicara sendiri dan asyik menghidangkan hasil masakannya.
Melihat dia aman-aman saja,aku kembali ke dapur melanjutkan memasak.tak lama aku melanjutkan masak,terdengar gemericik air dari kran samping rumah.karena penasaran,ku tengok lagi anakku yang berusia 2,5 tahun itu.benar saja,Aqila yang menghidupkan kran air itu.rupanya Aqila menyadari kedatanganku." Bunda,aku cuci tangan ni...kotor,kakinya juga" ucap Aqila memberi penjelasan padaku.

"Ya sudah,Aqila pinter ini kalau tangan dan kaki kita kotor harus dicuci ya.oya,Aqila juga bisa berwudhu dari kran air ini lho" kesempatan tepat bagiku untuk mengajarkan wudhu padanya.
"Wudhu itu apa nda?" Tanyanya padaku serius.
"Wudhu itu membersihkan diri sebagai syarat untuk kita sholat,begini caranya" jawabku sambil langsung mengajarkan wudhu padanya.
Usai kami belajar berwudhu,tiba-tiba aku teringat dengan masakan ku.aku berlari menuju dapur begitu saja tanpa ku perhatikan Aqila.

Ku selesaikan memasakkan sampai tuntas.kemudian aku menyusul Aqila dengan perasaan khawatir apa yang sedang Aqila lakukan sepeninggalku.
Belum jauh aku berjalan,kakiku merasakan becek-becek tanah.pertanda ada air menggenang di tanah yang mengotori kakiku.kuangkat pandanganku ke depan.dan....kulihat Aqilaku sedang berguling guling di tanah.bajunya basah kuyup dan tubuhnya penuh tanah.ku lihat ia sedang begitu santai menikmati becekan tanah dengan berguling sambil menghentakkan tangannya di genangan air,supaya tercipta cipratan air yang mendarat ke wajah dan tubuhnya.
Ku cari sumber airnya darimana sehingga bisa membuat genangan air dan becek.perasaanku mengatakan ini dari kran air yang terbuka,dimana Aqila cuci tangan dan berwudhu denganku tadi.dan benar saja...kran air itu terus menerus mengeluarkan air yang membuat tanah samping rumah kami menjadi becek.mungkin karena agak lama kran air itu terbuka,sehingga airnya bisa kemana mana.

"Bunda....sini nda..lihat aku!" Teriak aqila bersemangat.
" nda..enak nda,asyik nda...." lanjutnya memperlihatkan ekspresi bahagia.
"Subhanalloh Sayang....kanapa airnya buat mainan?kan aqila jadi basah semua dan kotor,lihat itu badanmu banyak tanahnya iiiih..jijiknya" 
" gak apa apa ya nda....nanti mandi sama bunda" bujuknya padaku 
" hmmmm..ya sudah gak apa-apa.tapi sekarang sudah sore sayang,Aqila sudah waktunya mandi ya.."
"Bentar lagi ya nda..." bujuknya
" Bunda siapin air hangat dulu ya,Aqila boleh main lagi.tapi kalau bunda panggil berarti Aqila harus berhenti main dan cepat mandi ya" jawabku memberi peringatan.
"Iya nda...sana masak air dulu " celotehnya yang membuatku gemas.
Siap sudah air hangat yang aku siapkan untuk aqila mandi.dan aku ajak dia untuk berhenti main becek-becekan lalu mandi.
Alhamdulilah bahagia Aqila ku bermain hari itu.dan yang lebih penting lagi, aku bisa memberinya pembelajaran untuk beberapa hal,tanpa membuatnya berhenti bermain dan tanpa pemaksaan.

nah, ini tulisan asli tanpa editan sih, sudah lama juga nulsinya. jadi kenangan juag buat Aqila
 
Menjadi memori yang indah kegiatan bersam Aqila putri kecilku yang manis,kelak ia akan membaca isi blog ini dengan hangat.
tulisan ini dibuat tanggal 28 sptember 2017
........................
Aku dan aqila memiliki rutinitas baru yang kami lakukan setiap pagi.
menyuapkan susu ke kucing kucing kecil di belakang rumah.
Kucing kucing malang yg ditinggal induk nya setelah 2 minggu dilahirkan.
Kucing kecil yang berjumlah 5 ekor itu ditinggalkan begitu saja oleh induknya di dalam kardus bekas.

Gemas sekali aqila melihat kucing kecilnya yang lucu dan beraneka warnanya.
Hari ini Aqila relakan dua sendok susunya untuk kucing kucing kecil itu.Aqil meramu larutan susu dan air,bunda yang mengkondisikan kucingnya.lalu kami bergegas menuju belakang rumah tempat para kucing kecil menjerit jerit kelaparan.
Sesampainya di sana,oh....betapa terkejutnya Aqila.aku kira dia kegirangan karena kucingnya,tapi ternyata tidak.ia lebih excited dengan dua butir telur yang ada di petarangannya,kebetulan kardus kucing kucing kecil itu berada dekat dengan petarangan ayam.
"Bunda,lihat ini nda...."jerit Aqila kegirangan.
"Iya sayang...itu telur ayam,Aqila lihat saja telurnya ya,kasian ibu ayamnya nanti nyariin telurnya"
"Iiiii.....aku mau telur bunda" nada Aqila merayuku.
"Oke,tapi nanti ya..setelah bunda selesai kasih susu ke kucingnya.kan kasihan...laper tu kucingnya"
Tak lagi ku dengar suara Aqila yg berada di belakngku.yah...ku fikir dia lagi asyik melihat lihat telur.dan aku konsentrasi untuk menyuapi kucing kucing kecil yang malang itu.
Tapi...seketika aku terkejut dengan suara yang seperti balon meletus.
Cetttarrrrr...
Oh..ku tengok Aqila yang sedari tadi diam di belakangku.ku cari cari suara apa tadi dan apakah Aqila terjadi sesuatu ?
"Aaaaaaa......"jeritku menggelegar.
" hahaha....bunda..lihat,telurnya meletus" jelas Aqila sambil tertawa termehek mehek.
Ia tak sadar tangannya berlumuran telur dan wajahnya kecipratan cairan telur.
"Nda....ini bau apa ya nda...ughhhh baunya.." tanya aqil padaku yang tak tau itu adalah bau telur.
"Masyaalloh sayang,itu telur busuk ternyata.bunda bilang kan telurnya dilihat saja,kenapa Aqila pegang?" Protesku yang tak tau juga kalau ternyata salah satu telur di petarangan adalah telur busuk.
Ternyata si nenek yang menaruh telur busuk itu sebagai umpan ayam agar bertelur di situ.
"Hahahaha....telurnya meletus ya nda...kaget aku,anda kaget nggak?" tanpa bersalah Aqila tetap terbahak.

Lalu ku mandikan Aqila,kubersihkan semua kotorannya sampai hilang bau busuknya.
Hari ini Aqila sudah belajar beberapa hal,ia peduli dan sayang dg binatang,ia pun belajar bahwa telur itu bisa busuk dan meletus.

Uniknya sekarang ia jadi suka mengocok telur jika ada telur dalam kulkas.tanda Aqila sedang menguji apakah telur nya masih bagus atau sudah busuk.
Itulah pengalaman belajar di lingkungan ,Aqila bisa membedakan telur bagus dan telur busuk.
Peluk cium sayang dari bunda buat Aqila...putri kecilku,permata hatiku.


 

Rabu, 31 Oktober 2018

 BULAN MENGIKUTI KITA YA..

anak-anak sering sekali bertanya segala hal dalam kehidupannya, karena itu adalah fitrah setiap anak. dia akan bertanya sebelum dia akan menyimpan lekat dalam file memorinya.
“bu…itu bulan kan?” tanyanya
“iya sayang, indah ya?” jawabku
“kok kalau kita naik motor bulannya mengikuti kita ya bu, emang bulannya mau kemana?”
“hehe… iya ya bulannya ngikuti kita ya?” aku menimpali pertanyaan unik si kecil.lalu aku melanjutkan dengan sebuah penjelasan.
“ sebenarnya bulannya nggak mau kemana-mana lho sayang, karena jarak bumi kita dengan bulan kan sangat jauh, karena saking jauhnya bulan dapat dilihat di seluruh permukaan bumi. Sehingga ia tampak seperti mengikuti kita”.
“jadi bulannya nggak ngikutin kita?” tanyanya lagi.
“enggak sayang…tapi bukan berarti bulan nggak bergerak, bulan tetap bergerak kok tapi geraknya bukan mengikuti kita tapi bergerak mengelilingi bumi kita”.
Terlihat sepele sekali tapi sangat menggemaskan. Betapa tidak, hampir-hampir saya bingung mau menjelaskan bagiamana tentang gerak bulan itu. Tapi bagi saya adalah sebuah prinsip untuk dapat memberikan penjelasn yang benar.
pada masa pertumbuhan, sel-sel neuron pada otak anak tidak begitu saja menelan informasi yang diterima. terlebih lagi anak itu sangat percaya pada setiap yang dikatakan orangtuanya. jadi jangan berbohong kalau menjawab pertanyaan anak, apalagi dengan jawaba yang nggak masuk akal samasekali, itu kuno sekali jika ada orantua yang masih menjawab bahwa bulan adalah makanan betoro kollo. orangtua mesti siap dengan pengetahuan yang cukup untuk menjawab dengan benar setiap pertanyaan anak.

Baca Juga ya

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

ANDROID SOURCE CODES MURAH

ADVERTISEMENT

IKUTI KAMI

Total Pageviews

Popular Posts

ADVERTISEMENT

Aqila Nyanyi - Naik Delman

IKUTI FANSPAGE KAMI

Unordered List

Text Widget