Tampilkan postingan dengan label MENCERDASKAN EMOSI ANAK MELALUI FAMILY PROJECT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MENCERDASKAN EMOSI ANAK MELALUI FAMILY PROJECT. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Februari 2019

MENSTIMULUS KECERDASAN LOGIS MATEMATIS 4



Setiap anak dilahirkan cerdas dengan potensi dan keunikan masing-masing yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Tugas orang tua menggali potensi yang dimiliki anak dan mengembangkan potensi kecerdasannya serta mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai dewasa, dengan memberikan lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak.
Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis. Yang juga dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya. Tugas level 6 kali ini selain bertujuan untuk menstimulasi anak menyukai matematika juga menuntut kreativitas seorang ibu dalam mendampingi anak untuk menggali potensi logis matematis yang dimiliki oleh anak. Pada awalnya hari ini belum terpikirkan akan melakukan apa dengan si kecil. Namun ide itu muncul justru saat kami bertemu dengan masalah. Pada saat kakak Aqila sedang ingin bermain dokter-dokteran ia mencari peralatan kedokterannya yang terpisah satu sama lain. Beberapa telah ditemukan, namun ia menjumpai stetoskopnya dalam keadaan rusak dan yang tersisa hanya bagian atasnya saja. Saya menjumpai ia mampu mengutarakan perasaan dan keinginannya dengan baik sebagai bentuk kemampuan komunikasinya. 

Baca Juga ya

Disadari atau tidak bahwa dalam menyelesaikan masalah itu terkadang diperlukan kemampuan berbahasa , saya sejak awal menanamkan kepada kakak Aqila jika menjumpai masalah jangan hanya menangis karena keadaan tidak akan berubah jika hanya menangis tapi harus bicara. Sehingga orang lain mengerti apa mau kita. Menangis boleh sebagai ungkapan kesedihan atau luka fisik yang dialami tapi tetap harus bicara untuk menyampaikan semuanya. Hal ini telah tertanam pada diri Aqila sehingga ia pun mampu mengungkapkan perasaannya dan menyampaikan keinginannya.
“ ibu, aku mau jadi dokter tapi yang untuk periksa malah rusak.” wajahnya tampak muram dan sedih .
“ oh kok bisa ya...apa karena menyimpannya kurang baik ya kak kok bisa putus semua gitu?” tanyaku perlahan.
“ aku nggak tau, dulu waktu aku main udah aku beresin tapi malah rusak.” ujarnya.
“ ya mungkin karena alat itu ketekuk - tekuk terus jadinya mudah putus ya kak, nggak apa- apalah ya besok kalau tabungan kakak udah cukup bisa beli lagi” ujarku sedikit membujuknya.
“ terus sekarang aku gimana bu..aku kan mau jadi dokter...apa aku bisa pake alat periksa pura-pura?”
“ oh..ya tentu saja bisa memang mainan yang pura -pura mau pake apa?” tanyaku.
Kakak aqila tidak menjawab sama sekali. Ia berlari menuju kamar tengah dan berusaha menemukan tali rafia. Tiba- tiba ia memintaku untuk membuat simpul untuk mengikatkan tali pada bagian atas stetoskop yang masih dapat digunakan lalu bagian bawah tali ia mengusulkan menggunakan tutup gelas. Hal ini membuatku terharu, karena ia tidak merengek tapi justru berusaha membuat solusi agar ia tetap bisa main berperan sebagai dokter meskipun sangat terlihat sekali bahwa ia sedih.
Melihat hal ini saya teringat pada sebuah majalah anak yang dapat membuat stetoskop sederhana dengan menggunakan kain flanel. Saya pun mengusulkan kepada Aqila untuk membuat stetoskopnya dari kain flanel supaya lebih cantik daripada pakai tali rafia. Rupanya kegiatan ini sangat berhubungan dengan kegiatan kemarin saat mengenal dan membuat pola bentuk geometri dua dimensi. Kami hanya memerlukan sebuah bando , kain flanel dan lem untuk membuat stetoskop ini. Setelah itu Aqila kuminta membuat dua buah pola persegi panjang diatas kain flanel dengan menggunakan penggaris yang ukurannya telah ibu buatkan dan disesuaikan dengan bandonya dan yang satunya lagi dibuat lebih panjang sebagai pipa stetoskopnya. Meski sedikit kurang rapi namun Aqila telah mampu membuat polanya dan mengguntingnya dengan benar. Lalu membuat lingkaran dengan cara menjiplak tutup gelas yang sudah ia ambil tadi.




Setelah pola persegi panjangnya jadi, ia kuminta menggulungkannya ke bando yang telah disiapkan dan menutup ujungnya dengan warna kain flanel yang berbeda setelah itu ibu yang merekatkannya dengan lem bakar. Karena kakak Aqila belum dapat menggunakan lem bakar karena itu sedikit berbahaya baginya. Lalu menempelkan pola persegi panjang yang satunya di tengah bando dan dibiarkan menjuntai ke bawah sebagai pipa stetoskop. Selanjutnya tinggal memberi lem pada kain flanel berbentuk lingkaran dan menempelkannya di ujung pipa stetoskop. Dengan sedikit hiasan yang berbentuk hati di atas kain flanel berbentuk lingkaran Aqila telah dapat menyelesaikan stetoskopnya dan siap untuk dimainkan. Setelah stetoskopnya jadi kakak Aqila tampak senang sekali dan ia bersemangat menjadi dokter. Oya disela - sela prose pembuatan stetoskop ini, Aqila kuminta untuk menyebutkan bentuk geometri yang sedang dibuat nya.sambil bermain sambil belajar bentuk geometri. Kegiatan ini juga dapat melatih kaka Aqila dalam membuat garis dengan menggunakan penggaris dan konsentrasi saat memotong garisnya supaya lurus dan rapi. Meski hasilnya belum sempurna namun sudah dapat dikatakan kakak Aqila berhasil. Alhamdulillah kakak Aqila sangat bangga dengan stetoskop buatannya sendiri ia pun memainkanya dengan senang hati dan bahkan ia tunjukan hasil kerjanya kepada teman-temannya.

Baca Juga ya


Rabu, 06 Februari 2019

MENSTIMULUS KECERDASAN LOGIS MATEMATIS 
BAGIAN I


Kecerdasan logis matematis merupakan sebuah kemampuan dalam hal logika dan angka yang mana kecerdasan ini selalu melibatkan keterampilan mengolah kata, angka, dan kemahiran menggunakan logika alias akal sehat. Kemampuan ini adalah kecerdasan yang dimiliki para ilmuwan, akuntan, programer dan lain-lain. Nah, biasanya anak-anak yang memiliki kecenderungan kecerdasan logis matematis ini akan menunjukkan minatnya tehadap kegiatan eksplorasi. Selalu menuntut penjelasan yang logis dari setiap pertanyaannya dan mereka sangat suka sekali mengklasifikasikan benda-benda.



Apakah kecerdasan logis matematis ini sangat penting? Sebagian orang memang mengunggulkan kecerdasan ini dan menganggap jauh lebih penting dari kecerdasan yang lain. Bahkan konsep penilaian IQ juga bersandar pada logika matematika. Meskipun ada multiple intellegences yang dapat menjadi pilihan untuk mengembangkan kecerdasan yang lain sesuai dengan kecenderungan dan minat anak, namun bukan berarti kecerdasan logis matematis dikesampingkan. Karena kecerdasan ini sangatlah penting dan diperlukan supaya orang menjadi melek angka dan berpikir logis. Memiliki kepekaan terhadap makna angka dan dapat menangkap masalah penting dalam berbagai bidang kehidupan.


Namun yang perlu kita garisbawahi adalah, logis matematis dengan pelajaran matematika adalah dua hal yang berbeda . Matematis logis bisa kita ajarkan sejak balita. Logis matematis tidak selalu berkaitan dengan hitung-hitungan, melainkan berkaitan dengan logika sehari-hari. Logis Matematis adalah tentang penggunaan logika dan nalar dalam memecahkan permasalahan sehari-hari. Sehingga kemampuan ini perlu kita kembangkan sedini mungkin kepada anak-anak. Dengan berupaya melakukan kegiatan yang akan menstimulus anak memunculkan dan mengembangkan kemampuan matematis logis ini. Banyak cara dan beragam kegiatan dapat dilakukan untuk menstimulus kecerdasan ini. Seperti apa yang yang dilakukan Aqila hari ini, meskipun sederhana dan terlihat sepele, namun kegiatan ini dapat bermanfaat untuk melatih kecerdasan logis matematisnya. Aqila kuajak untuk mencari bunga- bunga yang ada di sekitar rumah dan saya yang memetik daunnya. Setelah itu kutempelkan bunga dan daun pada sebuah kertas hvs secara acak lalu kuminta Aqila untuk memasangkan bunga dengan daunnya dengan menarik garis. Sebagian besar Aqila dapat melakukannya dengan benar namun dia sedikit terkecoh dengan dua jenis bunga krokot yang berbeda warna dan bentuk daunnya. Sambil tertawa karena ia ragu-ragu dan merasa salah, iapun berlari ke halaman rumah untuk mencocokan dengan bunga yang sebenarnya. Dia menyampaikan hasil kerjanya mencocokan bahwa bunga krokot yang bermahkota bertumpuk memiliki bentuk daun yang lancip sedangkan bunga krokot bermahkota lapis satu memiliki bentuk daun yang agak lebar.

Mencocokkan juga bagian dari proses stimulasi berpikir logis. Dimana anak akan mulai membandingkan untuk mengetahui cocok atau tidaknya sesuatu. Pada usia 3-4 tahun, pemahaman tentang konsep berhitung sudah mulai tampak. Dengan konsep berhitung yang dimiliki, anak akan mampu mengembangkan konsep mencocokkan. Mampu mencocokkan bentuk, warna, ukuran, bilangan, pola dan lain-lain. Dalam hal ini, Anak berada dalam tahap praoperasional menuju tahap operasional konkret. Pada tahap praoperasional anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, sehingga orangtua dapat menstimulasi anak untuk mengembangkan kemampuannya dengan cara mencocokkan bentuk, warna, ukuran, bilangan, pola dan lain-lain.













Baca Juga ya


Selasa, 22 Januari 2019

MENSTIMULUS ANAK SUKA MEMBACA
BAGIAN 9


Orangtua memiliki kewajiban untuk memberikan motivasi kepada anak untuk suka membaca tentunya dengan keteladanan yang diberikan orangtua. Pengertian tentang pentingnya belajar ilmu pengetahuan bisa disampaikan kepada anak di sela-sela kegiatan bermainnya atau disaat membacakan cerita sebelum tidur atau ketika waktu senggang. Itulah saat yang tepat untuk memberikan pengertian kepada anak. Karena disaat-saat seperti itu, terjalin hubungan orangtua dengan anak yang akrab, santai dan harmonis.

Membacakan cerita merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak secara lisan. Metode bercerita bagi anak dalam mengajarkan kebenaran memang harus menarik, mengundang perhatian dan tentunya tidak lepas dari konsep bercerita. Karena dunia anak adalah sebuah dunia yang penuh suka cita, maka kegiatan bercerita harus diupayakan dapat memberikan perasaan gembira, penuh kelucuan, dan mengasyikan. Anak akan berusaha mengaitkan apa yang kita ceritakan dengan seluruh kehidupannya, baik di rumah, sekolah dan di luar lingkungannya. Begittu banyak Teknik bercerita yang menarik yang dapat digunakan oleh orangtua yaitu dengan Teknik membacakan langsung dari buku, menggunakan ilustrasi dari buku gambar, menggunakan papan flannel, boneka dan bermain peran. Semuanya dapat kita gunakan sebagai variasi dan akan menstimulus anak untuk dapat memilih mana metode yang paling ia sukai.


Untuk membangun kebiasan anak suka membaca haruslah dilakukan secara konsisten begitupun dengan orangtuanya juga harus konsisten untuk membaca buku. Namun disamping memotivasi anak suka dengan aktivitas membaca ada beberapa hal yang menajadi kebutuhan dasar manusia yang harus kita penuhi kepada anak. Jadi tidak melulu menyuruh, menjelaskan akan pentingnya membaca, menerapkan aturan yang mengikat dll. Lalu aa saja yang menjadi kebutuhan dasar ini?

Baca Juga ya

Yang pertama adalah kebutuhan pokok yang harus terpenuhi sebelum memenuhi kebutuhan yang lain yaitu kebutuhan fisik, seperti ketika anak lapar, maka orangtua harus peka. Karena disaat anak lapar ia tidak memiliki motivasi dan biasanya anak balita jarang yang mengungkapkan rasa laparnya. Yang kedua adalah kebutuhan akan rasa aman. Anak yang merasa dengan lingkungannya akan mudah untuk distimulus minat belajarnya. yang ketiga adalah kebutuhan afeksi, anak memerlukan sentuhan kasih sayang terutama dari orangtuanya dan lingkungannya. Selanjutnya yang keempat kebutuhan untuk dihargai. Maka jangan pelit untuk memberikan pujian dan apresiasi kepada anak manakala anak telah melakukan sesuatu yang baik. Yang terakhir adalah kebutuhan untuk mencapai aktualisasi, artinya anak diberikan kepercayaan dan keleluasaan untuk memilih dan melakukan sesuatu yang ia minati dan yang menarik baginya.




Selamat mendampingi sang buah hati dalam berproses ya bunda…
Sama seperti halnya Aqila hari ini yang sedang kurang sehat. Dari semalam badannya panas hingga 39 derajad. Namun Aqila masih teringat dengan pohon literasinya, hingga sesore ini ia belum menempelkan daunnya. Meskipun saya tak mengingatkannya dan tak memaksanya untuk melakukannya, namun dia memilih untuk membaca buku ceritanya sendiri untuk menghibur diri dan ingin menempelkan daun literasinya. Rupanya dengan membaca dan dibacakan buku cerita ini, Aqila jadi merasa lebih baik. Ia mengatakan bahwa dengan tertawa badannya jadi nggak lemes lagi. setelah membaca buku cerita ia kuminta untuk makan siang dan minum obat, lalu setelah itu istirahat siang. Dan alhamdulillah, dengan pemenuhan kebutuhan pokoknya ini, Aqila bangun tidur merasa lebih baik, panasnya sudah turun dan ia ingin melanjutkan membaca buku lagi dan membuat gambar.


Sabtu, 19 Januari 2019

 MENSTIMULUS ANAK SUKA MEMBACA




Masa peka belajar akan datang sesuai dengan fase perkembangan anak. Kita sebagai orangtua tak bisa memaksa datangnya masa ini. Yang bisa dilakukan hanya merangsang sebanyak mungkin untuk memepercepat kedatangannya. Bila telah tiba masa ini, anak akan mudah untuk mengikuti disiplin yang diajarkan. Merekapun akan senang menerima dan mengerjakan tugas yang diberikan tanpa harus dipaksa. Mereka mulai menyadari bahwa mereka butuh untuk memepelajari sesuatu karena mereka telah matang kepribadian dasarnya dan sudah melewati masa peka belajar.

Nah, bagaimana anak bisa mendapatkan kematangan kepribadiannya? Tentunya proses pematangan kepribadian anak dapat diperoleh melalui kegiatan bermain. Segala sesuatu yang besifat menggembirakan dan menghibur hati anak. Hampir setiap harinya anak yang berusaia dua atau tiga tahun akan menhabiskan waktunya dengan bermain. Mereka yang berada di usia ini biasanya memiliki sifat egosentris yang tinggi sehingga mereka belum siap dengan aturan yang mengikat. Yang dapat dilakukan hanyalah pengenalan dan pembiasaan disiplin serta membuat mereka nyaman dengan aturan.

Untuk mempercepat datangnya masa belajar, perlu sebuah rangsangan. Rangsangan itu dapat berupa mengenalkan anak pada buku dan pembiasaan mencintai buku. Dapat juga dilakukan dengan membacakan cerita , memberikan buku-buku bacaan yang menarik dan yang paling disukainya untuk menumbuhkan rasa ingintahunya. Sehingga anak menjadi tak asing lagi dengan buku dan menyukai aktivitas membacanya.



Baca Juga ya

Seperti hari ini Aqila mengutarakan keinginannya untuk bermain Bersama ibu lagi seperti dulu saat belum mempunyai adik bayi. namun keadaan ibu yang masih dalam masa nifas tak dapat berbuat banyak untuk membantunya menyiapkan segala alat dan bahan yang diperlukan untuk bereksperimen. Kulihat Aqila tampak kecewa dengan jawaban yang kuberikan. Namun saya berusaha menghiburnya dan untuk mengobati kekecewaannya, saya tawarkan Aqila bermain mewarnai garam. Membuat pelangi dalam gelas. Karena garam sangat mudah ditemui di dapur dan tidak memerlukan banyak bahan untuk melakukan kegiatan ini. Aqilapun sepakat dan ia dapat emeprsipakan semua bahannya sendiri karena masih mengingatnya, kerena kegiatan ini pernah kami lakukan Bersama dulu.

Setelah menghabiskan waktu dua jam Aqila bermain mewarnai garam, kemudian ia menunjukkan hasilnya kepadaku. Oh pintar sekali ia melakukannya, meskipun kulihat teras tempatnya bermain berserakan garam dimana-mana dan tampak berantakan sekali. Namun proses belajarnya telah ia lalui dengan baik dengan hasil yang baik pula. Dengan sedikit apresiasi yang kuberikan, ia sangat gembira dan lupa dengan kekecewannya.
Pada saat ia kuminta untuk memajang hasil karyanya itu, tiba-tiba ia bertanya tentang asal mula garam.
“ bu, kenapa si kita harus punya garam?”
“ ya harus dong nak, garam kan slahh satu bumbu dapur untuk ibu memasak. Kalau masaknya nggak dikasih garam ya jadinya nggak enak sayang.”
“ oh, jadi kita harus beli garam di warung ya bu biar punya garam untuk masak?”
“ iya benar banget tu..kalau garam kita habis, ibu akan beli di warung.”
“ trus, warungnya dapat garam darimana bu?” pertanyaannya semakin Panjang nih anak.
“ mmm…penjaga warungnya beli ke pasar dulu nak.” Saya mulai bingung dengan pertanyaan Aqila.
“memang garamnya yang buat siapa bu dipasar?”
Oh mungkin maksudnya ini terbuat dari apa garamnya, mulai mutar otak untuk menjawab pertanyaan Aqila. Saya jadi teringat kalau kami memiliki buku ensiklopedia tentang laut dan Samudra. Mending saya ajak Aqila membaca bukunya saja.

“ oke, nanti ibu kasih tau, sekarang Aqila cuci tangan dan bersihkan badan yang kena garam-garam itu. Setelah itu ibu akan tunjukkan ke Aqila darimana garam berasal.
Setelah Aqila siap, kumnta ia mengambil buku besar dengan kertas tebal yang berjajar diantara beberapa buku lain. kebetulan buku ensiklopedi ini masuk dalam daftar reading tracker Aqila, karena dia memang sangat menyukai buku ini karena kualitas gambarnya yang baik. Kamipun membuka buku ini, kutunjukkan padanya darimana garam berasal sabil melihat gambar di dalam buku kumanfaatkan untuk memberinya penjelasan, bagaimana mengolah air laut hingga menjadi garam dan sampai di tangan kita untuk bumbu masakan ibu. Hingga rasa ingintahunya ini terjawab semua. Lalu ia beralih dengan halaman berikutnya yang menampilkan berbagai macam ikan di laut.

Kamis, 17 Januari 2019

MENSTIMULUS ANAK SUKA MEMBACA




Saya sependapat dengan apa yang disampaiakan oleh Tony Buzan seorang ahli brain management bahwa, “ jika hendak menuju planet Mars, lalu ada penyimpangan arah satu centimetre saja di awal keberangkatan, bisa jadi pesawat tersebut tidak akan sampai di mars. Kesalahan kecil di awal perjalanan bisa jadi akan menimbulkan penyimpangan yang sangat jauh sehingga tidak akan sampai di tujuan.” Nah apa maksud dari yang dikatan oleh Buzan ini? Lebih lanjut ia menjelaskan, “jika ada penyimpangan sedikit pada Pendidikan usia dini, maka pada usia dewasa penyimpangannya akan semakin lebar. Sehingga anak menjadi sosok dwasa yang jauh dari yang diharapkan.”


Baca Juga ya



Meskipun Nampak hal yang sepele, namun untuk urusan Pendidikan kepada anak terutama nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan agar menjadi sebuah kebiasaan baik , harusnya mendapatkan perhatian lebih. Karena menanamkan kebiasaan kepada anak usia dini akan berdampak besar pada kehidupannya di masa dewasanya kelak. Termasuk dalam menumbuhkan kebiasaan membaca kepada anak, jika tidak diniati dengan tekad yang kuat agar anak menjadi pecinta buku dengan melakukan berbagai upaya, maka untuk menjadikan anak gemar membaca akan mustahil didapatkan. jangankan menjadi kutu buku, membukanya saja anak akan enggak melakukannya. Karena ia tidak distimulus untuk mendapatkan hal yang menarik dan mengasyikkan ketika bersama buku oleh kedua orangtuanya.




Kali ini saya mendapati Aqila sedang bertengkar dengan teman yang usianya lebih besar darinya. Karena tak tahan dengan pertengkaran itu, dan hatinya semakin jengkel iapun pulang ke rumah dan menemuiku dengan nafas yang teratur, wajah ditekuk, mulutnyapun cemberut. Setelah kugali informasi mengapa ia marah pada temannya rupanya mereka berdebat tentang seseorang yang berprofesi sebagai astronot. Ketika mereka berdua melihat seorang pemulung lewat di jalan sambil mengais-ngais sampah untuk mencari barang bekas, temannya mengatakan bahwa orang itu adalah astronot karena membawa tongkat dan karung besar yag terdapat di punggung pemulung tersebut, namun Aqila tahu bahwa yang namanya astronot itu adalah angkasawan yang menaiki roket dan pergi ke luar angkasa. Entah informasi darimana yang di dapatkan teman Aqila ini sehingga pemulung itu disebutnya sebagai astronot. Dalam hati saya tertawa juga mendengarnya, pertengkaran khas anak-anak yang sedang berbeda pendapat. Mungkin ada seseorang yang mengatakan pada teman Aqila ini bahwa pemulung itu sering disebut juga dengan astronot darat. Karena begitu juga yang kudapati dari guyonan para ibu-ibu tetangga rumah kami.

Baca Juga ya



Namun, meskipun begitu memberikan informasi yang tidak benar kepada anak tetap saja salah. Kerena anak akan sangat mempercayai apa yang dikatakan oleh orang dewasa kepadanya. Tentu saja hal seperti ini akan berakibat buruk pada pola pemahamannya di kemudian hari. Karena melihat Aqla yang tak juga sembuh dari amarahnya, sayapun berinisiatif untuk membacakannya sebuah buku menarik yang juga digemari Aqila. Saya hanya ingin ia dapat meredam amarahnya dan menunujukkan kepadanya bahwa Aqila lah yang benar dalam konsep profesi seseorang sebagai astronot. Karena ia juga sangat senang membaca, maka iapun setuju membaca buku Bersama ibu. Sebuah buku lama dengan format besar dan tebal yang di dalamnya terdapat informasi yang menarik tentang astronot dengan disertai foto-foto yang ekskulusif.

Bahkan moment ini menjadi kesempatan bagiku untuk mengenalkan kepadanya macam-macam planet dan satelit. Saya memulainya dari bab pertama tentang system tata surya dimana dengan melihat gambar urutan-uritan planet ini Aqila menjadi tercengang bahwa bumi yang ditempatinya ini sangatlah kecil dibandingkan dengan matahari dan beberapa planet lainnya. Kemudian ia mengetahui bahwa bulan bukanlah sebuah benda langit yang dapat mengeluarkan cahayanya sendiri melainkan dari pantulan sinar matahari. Semuanya menjadi sangat mudah dijelaskan manakala kegiatan ini dilakukan dengan media sebuah buku yang tepat.

Tiba-tiba Aqila mengatakan kepadaku ,” ibu kalau aku ingin naik roket bisa enggak?”
“ insyaallah bisa nak, besok kalau Aqila sudah besar.” Jawabku
“besok kalau aku sudah besar, ibu belikan aku roket ya?” tanyanya
“ hahaha…memang Aqila mau kemana kok pengen naik roket?”
“ aku mau ke bintang bu, kan bintang itu tinggi banget adanya di langit sana, kan nggak bisa kalau kita Cuma naik mobil, harusnya naik roket kan bu?”

Baca Juga ya


“ iya sayang kamu benar, ke bintang itu naikknya roket ya bukan naik mobil.” Ujarku menguatkan pendapatnya.
“ kelak kalau kamu sudah besar, kamu akan tahu dimana bisa kamu temukan roket dan bagaimana bisa menghitung jarak bumi kita dengan bintang-bintang di langit itu. Maka Aqila harus rajin belajar dan semangat membaca buku nya ya?” lanjutku kepadanya dengan memberikan penjelasan.

Dari kegiatan ini, saya melihat Aqila telah hilang api amarahnya dan berubah menjadi api semangat untuk menjajaki bukunya. Demikianlah, masalah yang kudapati saat mendampingi Aqila dapat teratasi hanya dengan sebuah buku. Tahukah anda bahwa baru-baru ini sedang mencuat gagasan alat untuk menyembuhkan pasien penderita depresi dengan menggunakan buku? Ya, metode ini dikenal sebagai metode biblioterapi yang hasilnya para pasien merasa lebih bersemangat setelah mengetahui bahwa masalah yang dihadapinya ternyata jauh lebih ringan disbanding kisah yang dibacanya. Meskipun hal ini masih dalam penelitian lebih lanjut dan masih dalam perdebatan, namun saya merasakan sekali manfaat buku ini yang dapat menyembuhkan amarah dan ledakan emosi putri kecilku.

Selasa, 15 Januari 2019

MENSTIMULUS ANAK SUKA MEMBACA
BAGIAN 6


Masih tentang menstimulus anak suka membaca, membuat berbagai upaya agar anak semangat dan senang dengan aktivitas membaca dengan tanpa anak merasa dipaksa untuk melakukanya. Hal ini telah kita ketahui besama bahwa tahap mengenalkan buku pertamanya adalah buku yang paling ringan dan paling menarik baginya, biasanya anaka paling suka dengan bku yang banyak gambar dan full colour. Ketika anak sudah menyenangi aktivitas membacanya maka tak akan mudah bagi kita uuntuk memberinya pilihan berbgai macam buku dan biarkan dia asyik memilih buku yang diinginkannya. Meskipun begitu, aktivitas membacakan cerita tetap harus dilakukan sampai anak dapat membaca teks bacaan atau sampai mereka tidak lagi meminta dibacakan buku cerita lagi. membacakan cerita akan merangsang minat belajarnya.

Baca Juga ya


Sebuah kisah menarik terjadi pada hari ini saat Aqila tak mengambil buku pilihannya yang masuk dalam reading tracker. Melainkan ia mengambil sebuah buku lama yang terdapat dalam rak buku milik ibu. Yang diambilnya adalah buku kesehatan anak yang dalamnya penuh gambar dan full colour. Entah mengapa ia kembali tertarik mengambil buku ini untuk dibacanya. Di sampul depan buku itu pernah kutulisakan Namanya dan waktu itu kubacakan ejaan Namanya dihadapannya. Rupanya ia masing mengingat jejak tulisan Namanya dan iapun mengeja Namanya sendiri “AQILA SAYYIDAH EL HAFIZHAH” begitu ucapan yang keluar dari bibirnya. Meskipun ia belum dapat membaca dan mengahafal huruf, namun dengan sangat percaya dirinya ia mengeja Namanya. Lalu ia mencoba menuliskan Namanya di kertas lain dengan beberapa abjad yang tidak teratur. Kemudian dia mencocokan dengan tulisanku yang ada dihalaman depan buku itu. Oh… ibu ini huruf “A” untuk Aqila, kemudian ia mencari contoh huruf A lagi di beberapa tulisan yang ada di dalam buku. Rupanya ia banyak menemukan huruf A yang sama dengan tulisan ibunya. Dengan sangat mudah iapun dapat mengenal dan mengingat huruf A dengan mudah.

Baca Juga ya


Aqila pun bertanya kepadaku,”bu, adik bayi kita kan Namanya Adzkiya, berarti pakai huruf A juga ya bu?”
“iya kak, Adzkiya juga pakai huruf A. kakak sudah bisa menulis huruf A ya?”
“iya bu..aku sudah bisa. Bu lihat gambar buku ini, anak-anak kayak aku tu kan harus rajin sikat gigi, mandi terus makan makanan yang sehat ya bu.”
“ oh iya sayang makanan yang sehat itu apa saja, coba tunjukkin ke ibu nak.”
“ ini bu ada nasi,sayur, ikan,telur,ayam sama buah-buahan.”
“wah hebat Aqila, sekarang kita cari yuk buah-buahan yang depannya huruf A”
“ayuk bu…terimakasih ibu sudah melahirkan adik bayi, aku sayang sama ibu dan adik bayinya.”
Ha? Dalam hatiku apa hubungannya makanan sehat dengan adik bayi ya? Hehe, tapi itulah anak-anak ia selalu mampu mengungkapkan perasaannya dengan berbagai cara. Namun dari cerita hari ini saya mendapatkan beberapa pengalaman baru, bahwa sebenarnya membaca adalah hal yang sebenarnya mudah bagi anak-anak, apalagi jika anak dalam keadaan gembira mereka akan belajar dengan caranya sendiri tanpa harus kita paksakan. Namun hal ini sangat kontras sekali dengan apa yang terjadi di masyarakat pada umumnya. Anak dipaksa untuk menghafal huruf lalu mengejanya. Tak jarang kita jumpai proses seperti ini diiringi dengan bentakan-bentakan.



Baca Juga ya

Kebanyakan orangtua sangat gelisah saat anaknya usia TK belum dapat membaca lalu para orangtua akan sibuk mencarikan tempat kursus untuk anaknya yang metodenya belum tentu tepat dan meyenangkan bagi anak. Saya teringat pada sebuah perkataan dari seseorang bernama Sylvia Ashton Warner. Ia mengatakan bahwa,” kata pertama haruslah bermakna bagi anak. Kata itu harus merupakan bagian dari dirinya. Harus merupakan ikatan organic, secara organic lahir dari dinamika hidup itu sendiri. Harus kata yang sudah menjadi bagian dari dirinya.”

Pada kisahku Bersama Aqila, kudapati ia sangat bersemangat mengenal huruf dari nama orang-orang yang dekat dengan dirinya, Namanya sendiri, nama adiknya, dan nama ibunya. Meskipun hanya satu huruf saja, huruf “A”. membaca akan menjadi hal yang mudah jika hal itu bermakana bagi kehidupan anak dan prosesnya menyenangkan baginya. Maka saya sarankan kepada para orangtua dan guru jangan mengajarkan membaca kepada anak justru dari hal yang asing bagi anak karena itu sangat membosankan. Mulailah mengajarkan membaca dari yang memiliki ikatan organic dengan si anak. Membaca yang menjadi ikatan organic adalah melalui proses alamiah sejalan dengan perjalanan kehidupan sang anak.

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

ANDROID SOURCE CODES MURAH

ADVERTISEMENT

IKUTI KAMI

Total Pageviews

Popular Posts

ADVERTISEMENT

Aqila Nyanyi - Naik Delman

IKUTI FANSPAGE KAMI

Unordered List

Text Widget