Tampilkan postingan dengan label Aliran Rasa Buncek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aliran Rasa Buncek. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Maret 2020

Aliran Rasa Kelas Ulat-Ulat




Menempuh perjalanan di kelas Bunda Cekatan ini, cukup menantang. Banyak hal yang  kulalui, yang pada akhirnya mengingatkan pada peran yang kujalani. Sehingga harus menata serta mengolah kembali visi dan misi spesifik keluarga. Meskipun sempat terengah-engah dalam perjalanan, namun bukankah di setiap liku perjalanan hidup ini, seorang ibu harus bahagia? Apapun yang sedang dihadapi dan dijalani, bahagia menjadi kunci untuk melakukan pendidikan di rumah. Bahagianya Ibu adalah bahagianya keluarga. Bahagia mendidik dan mendidik dengan bahagia.

Jika di kelas telur, dari telur hijau, telur merah hingga telur oranye aku harus mampu memetakan aktivitas emergency, penting, tidak penting dan mendesak. Mengapa aku harus menggali kembali potensi dan minatku. Dan aku harus memahami gaya dan konsep belajar lagi. Kemudian aku juga harus memetakan beberapa hal mendasar yang ingin aku dalami hingga menjadi terampil dan mahir.

Keterampilan akan menempatkanku pada jalan yang bisa memberiku makna dan kepuasan besar dalam hidup. Dan, keterampilan itu semua sudah ada dalam diri ini rupanya. Hanya saja, keterampilan itu tidak selalu dimanfaatkan seoptimal mungkin, bahkan kadang-kadang aku tidak menyadari potensi yang dimiliki dan setiap keterampilan ini dapat membantuku dalam menjalani hidup dengan berbagai situasi.

Maka di kelas ulat-ulat ini, Aku belajar peduli dengan orang lain. Meskipun aku adalah ulat yang sangat kelaparan dan kehausan. Begitu menemukan hutan dan seabrek makanan yang tersedia di dalamnya, aku harus pandai-pandai memilah antara makanan utama dan camilan. Tentunya kapasitas diriku juga terbatas untuk tidak memakan semuanya. Aku juga harus memikirkan kebutuhan orang lain.

Orang lain dalam struktur sosial merupakan penyangga bagi kebutuhan dan kemajuan kita. Karena pada diri mereka terdapat banyak pengalaman berharga yang dapat dijadikan guru untuk membimbing dan mendukung kehidupan. Saling menolong dalam urusan kehidupan secara berjamaah untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Hidup akan mengalami berbagai hambatan kalau tidak didukung oleh orang lain.

Artinya keberadaan orang lain dengan daya kreasinya bisa menjadi inspirator untukku. Maka belajar dengan orang lain berarti “studi banding” untuk belajar meniru orang lain dalam bidang yang dibutuhkan. Belajar dari orang lain itu ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengakselerasi diri.

Setelah menyusuri hutan ilmu dan melewati lorong gua, perjalanan ini akhirnya bermuara juga. Proses meramu, mencari dan menentukan makanan kebutuhanku. Aku menemukan spesies yang sama denganku. Spesies yang memiliki kebutuhan dan makanan pokok yang sama. Serta berkumpul menjadi sebuah keluarga yang menentukan ekosistem kehidupannya. Pada tahap ini, aku memilih menjadi keluarga cinta sastra. Mengingat pada mind map yang telah kubuat, menulis adalah hal yang menjadi kebutuhan mendasar bagiku.

Aku yang tengah berada di keluarga cinta sastra, juga memiliki kebutuhan lain yang ada dalam mind map. Diantaranya manajemen waktu, portofolio, public speaking, dan kurikulum anak. Dari kebutuhan-kebutuhan itu, aku jadi sering main ke tetangga sekitar yang keluarganya bernama uluwatu, getar suara, dan portofolio anak.

Memperbanyak teman itu penting sekali. Sebab, nantinya akan banyak manfaat. Tidaklah rugi bila mau memperbanyak teman tiap harinya. Dari teman-teman itulah aku bisa belajar dan mendapatkan berbagai informasi, pengalaman, dan pengetahuan. Dengan demikian, aku bisa mengetahui apa saja yang sebelumnya belum aku ketahui.

Apalagi kalau mempunyai teman dari berbagai daerah dan beragam profesi. Mantap sudah. Teman dari beragam profesi, menjadikan aku kaya pengalaman, wawasan, dan pengetahuan. Inilah moment Camping Bersama Teman Baru.

Selanjutnya, sikap ta'awun kepada sesama sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak hanya sekedar mengenal, tapi juga turut merasakan apa dirasakan oleh saudaranya. Sehingga muncul rasa empati dan saling tolong menolong. Tolong-menolong dalam hal ini adalah berbagi "makanan" yang sangat dibutuhkan oleh saudara kita bukan berbagi makanan kesukaan. Memberi hadiah ilmu atau pengetahuan yang dibutuhkan oleh saudaranya.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan ini. Aku perlu berhenti sejenak. Melepas lelah sambil menikmati pemandangan di sekitar danau. Mengumpulkan kekuatan baru dan melakukan refleksi atas pengalaman yang telah didapatkan selama ini dengan cara yang bisa membuat aku memiliki peningkatan kapasitas diri. Tentu saja aku akan mengandalkan kemampuan metakognitif  dalam proses refleksi diri ini, memikirkan bagaimana aku berpikir. Menjadi sadar akan langkah dan strategi yang diambil selama belajar dan memecahkan masalah. Lalu berpacu terus untuk melanjutkan langkah dan strategi itu. Alhamdulillah selama berkelana di hutan ilmu, aku lebih banyak mendapatkan makanan utama daripada camilan.

Kemudian aku menengok kembali tujuan utama belajar dan mind map yang telah kubuat selama ini. Dengan sangat sadar aku telah menetapkan 5 ilmu yang akan aku pelajari untuk beberapa waktu lalu. Yaitu ilmu tentang kepenulisan, public speaking, portofolio anak, manajemen waktu dan problem solving. Nah, dari kelima hal ini aku telah banyak mendapatkan makanan utama yang aku butuhkan.

Namun, aku juga sangat menyadari kelemahan dan keterbatasan yang ada pada diriku, sebagai seorang penulis aku kerap kali direpotkan dengan segudang ide yang ada di kepala. Meskipun sudah tertuang dalam list to do tetap saja pikiranku suka lompat-lompat saat mengerjakan suatu tulisan. Sedang menulis apa, yang dipikirkan gagasan berikutnya. Hal ini cukup menyita waktu dan akhirnya tulisanku tidak segera kelar. Maka sebagai orang yang suka menulis, aku membutuhkan keterampilan untuk fokus dan konsisten.
Dalam kehidupan berorganisasi aku  juga sering menemui beberapa masalah baik internal maupun eksternal, apalagi menjadi seorang ketua. Tentu saja menjadi tanggung jawab yang harus segera diselesaikan. Sering sekali gelagapan apabila dihadapkan dengan berbagai masalah yang komplek terlebih lagi jika masalah itu datang secara bersamaan dan mendadak. Akhirnya menjadi sesuatu yang genting dan urgent untuk segera ditangani. Dalam hal ini aku sangat memerlukan keterampilan problem solving dan psikologi masa yang baik. Sehingga aku berazam untuk meningkatkan kemampuan berorganisasi dengan melatih dan menempa diri dalam menggali ilmu tentang problem solving.
Aktivitas yang sangat disukai dan menjadi skala prioritas bagiku adalah public speaking. Dimana waktu luangku banyak diisi dengan kegiatan berceramah di berbagai pengajian ibu-ibu dan remaja, mengisi seminar parenting, dan mengedukasi remaja putri, calon ibu dan para ibu dalam bidang keperempuanan dan keagamaan. Untuk mendukung aktivitas ini, aku biasanya membuat slide presentasi untuk memudahkan audience memahami apa yang  kusampaikan sekaligus memudahkan dalam mengisi materi. Namun, sejauh ini slide presentasi yang kubuat masih biasa-biasa saja. Aku ingin yang istimewa. Maka aku akan mengembangkan keterampilan dalam make amazing presentation untuk mendukung aktivitas saya ini.
Meskipun aku adalah wanita yang menyukai dunia public, tapi aku adalah seorang ibu yang memiliki dua anak. Di rumah aku sangat senang sekali membaca dan mendampingi anak-anak bermain. Kalau sudah pegang buku dan mulai bersemedi karena asik dengan buku, aku jadi sering lupa waktu, jadi kebablasan saat bersama buku. Tentu saja waktuku menjadi tidak dapat terkondisikan dengan baik. Dalam hal ini aku harus memiliki manajemen waktu yang baik supaya aku dapat menggunakan waktu sebaik mungkin, dan tentu saja keterampilan dalam membaca dan memahami isi bacaan dengan cepat harus aku kuasai. Sehingga aku bisa segera mendampingi anak-anak.
Bahkan saat bermain dengan anak-anak pun, sering kehabisan ide mau main apa, jika ambil idenya dadakan, permainan kami akan terasa garing dan kurang efektif. Apalagi jika aku ingin mengamati sesuatu dari perilaku anak. Maka menurutku, bermain pun harus terkonsep sekaligus membuat lembar pengamatan atau instrumen observasi untuk anak-anak. Ini akan sangat bermanfaat sekali bagiku untuk dapat mengamati minat dan bakat anak. Selain itu juga dapat dijadikan bahan portofolio anak yang akan bermanfaat kedepannya. Bermodalkan pemahaman ini, aku sebagai ibu harus meningkatkan kemampuan dalam mengonsep dan membuat instrumen observasi dalam kegiatan bermain Bersama anak.
Apapun fase kehidupan yang sedang aku jalani, apapun hal yang ingin aku capai, atau apa yang aku rasakan, yang terpenting adalah menyadari tujuan hidup. Mengejar makna hidup akan jauh lebih cepat ketika aku mampu memanfaatkan seoptimal mungkin skill yang aku miliki. Inilah saatnya untuk terus mengasah diri menemukan ramuan yang tepat untuk menjadi mahir memainkan skill itu. Sebuah proses belajar yang tidak boleh berhenti. Inilah yang aku katakan dengan sesuatu yang tak pernah usai.


Pekan terakhir di tahap Ulat-ulat adalah mencari buddy, membuat aliran rasa dan meraba aliran rasa sang buddy. Lalu menyiapkan bekal untuknya menghadapi tantangan pada fase kepompong. Nah, dalam memaknai tugas ini, saya melakukan perenungan terkait perjalanan seekor ulat untuk menjadi kepompong. Setelah makan kenyang, si ulat akan mempersiapkan diri menjadi kepompong dan mencari tempat ternyaman. Masa kepompong adalah masa aktualisasi. Sebelum berpuasa dan menyendiri, perlu kiranya kita menengok di sekitar kita. Peduli dengan orang yang ada di kanan kirinya, mendengarkan kebutuhannya dan menyiapkan bekal kebutuhan mereka sebelum kebutuhan kita sendiri. Saling mengisi dan memberi. Pada fase ini, akhirnya sang calon kupu-kupu juga butuh waktu untuk menyendiri guna memahami hakikat dirinya dan menata kembali ilmunya untuk diamalkan pada kehidupan.

Perasaan bahagia juga aku rasakan saat aku mendapatkan bekal dari buddy-ku. Mulai dari tips menulis best seller, tips manajemen waktu, ide bermain bersama anak, manajemen kepemimpinan, portofolio anak dan tips presentasi cantik.

Aku pun akan bertransformasi, karena siapa pun bisa berubah. Aku akan menjalani sebuah siklus panjang dalam hidup dan bermetamorfosa supaya aku siap untuk menjalani hidup terbaikku. Kini akulah ulat yang tengah merangkak mencari tempat ternyaman bersiap untuk puasa dan menjadi kepompong.

#bundacekatan
#kelasulat-ulat
#institutibuprofesional
#aliranrasatahapulat-ulat

Rabu, 15 Januari 2020

Yang Tak Pernah Usai


"Setiap tujuan hidup yang Sang Pencipta taruh atas hidupmu selalu ditujukkan untuk membuatmu menjadi orang yang berguna bagi banyak orang"~Tunas Melati~

Kita adalah manusia tercipta sebagai individu yang unik. Saat ini, kita sedang menjalani berbagai tahap kehidupan yang berbeda-beda. Ada orang yang menjalankan perannya sebagai seorang profesional yang disibukkan dengan pekerjaan, kira-kira alasan apa yang membuat seseorang memilih bekerja di tempatnya bekerja sekarang ya? Bisa Jadi  karena itu adalah sesuatu yang disukai dan memberinya kepuasan batin. Bisa juga karena pekerjaan itu merupakan hal yang sesuai dengan jurusan yang sudah diambil saat kuliahnya dulu dan kemudian mendapatkan lowongan pekerjaan tersebut. Barangkali mungkin karena besaran gaji di tempat itu cukup besar sehingga seseorang bertahan di ranah profesional sebuah bidang kerja. Akupun berada pada lingkaran ini.

Pada saat merenungi hal seperti ini, ada sebuah pertanyaan yang tak mau pergi dari pikiran dan hatiku. Sebenarnya, Sudahkah aku melakukan semua yang ingin aku lakukan dalam kurun waktu 10-20 tahun terakhir ini? Lalu Tujuan atau impian apa yang belum kesampaian?Apakah aku benar-benar senang dengan hasil dari apa yang telah ku perjuangkan hingga saat ini, tentang semua keputusan dan risiko yang telah ku buat sejauh ini?

Sebuah harapan untuk mendapatkan kehidupan yang baik dan stabil secara finansial serta mampu membayar semua keinginan supaya bisa merasakan dan melakukan hal-hal yang paling disukai.

Namun jika aku melihat kembali ke beberapa tahun belakangan, lalu mendapati telah berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk melakukan hal-hal yang bisa dinikmati dan disukai. Lebih tepatnya hal-hal yang bisa memberi rasa kepuasan batin, apakah semua itu cukup memberikan sebuah arti yang sangat besar dalam hidupku?

Atau jangan-jangan aku sudah menjadi budak ekonomi, budak pekerjaan atau budak bagi yang lain? Bahkan terkadang berfikir, sudahkah aku menemukan keseimbangan antara pekerjaan dan kebahagiaan? Meskipun pekerjaan itu adanya dirumah, tetaplah itu juga menjadi sebuah pekerjaan. Seolah tak mengenal kata kata cukup. Hingga sampai pada sebuah titik dimana aku merasakan sebuah kekosongan. Sebuah ruang yang tak bisa diisi dengan apapun untuk sebuah kebahagiaan.

Lalu aku berpikir bagaimana caranya aku dapat menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari kehidupan ini dan bukan malah memperbudak diriku? Di kelas bunda cekatan Institut Ibu Profesional, tepatnya di kelas telur-telur. Aku seperti diajak menaiki mesin waktu dan berjalan jauh mundur ke belakang sampai pada kehidupanku yang telah lalu. Untuk mundur sejenak dan melihat arti kata kehidupan itu sendiri.

Apa Tujuan Hidupmu? Apa arti hidup bagimu? Aku merasa seolah dicerca dengan sejuta tanya tentang kehidupan.
Jika hanya untuk bekerja, ya tentu saja yang akan aku temukan ya hanyalah pekerjaan saja. Tetapi jika aku memiliki tujuan tentang bagaimana menjadi lebih produktif, mungkin aku akan lebih mengutamakan panggilan hati, sehingga aku akan menemukan lebih dari sekedar pekerjaan. Lalu aku akan bisa menemukan kontribusi apa yang bisa kuberikan untuk orang banyak dan tentu saja aku akan menemukan lebih banyak arti untuk kehidupan ini.

Memiliki tujuan dalam kehidupan ini sangat penting karena makna yang diambil dalam kehidupan dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mengurangi kemungkinan depresi. Karena sadar akan arti hidup dan tujuannya. Sehingga dapat menjadi acuan untuk melakukan segala sesuatu dengan ikhlas, tulus dan bahagia.  Bahagia yang bagaimana? Bahagia yang berbeda. Perjuangannya beda, maka bahagianya juga beda. Menjadi bahagia saja tidak akan cukup, karena kebahagiaan adalah gelombang emosi yang tidak bertahan lama. Bukan bahagia yang hadir hanya ketika sukses memperoleh capaian tertentu dalam karir atau bahagia yang ada hanya ketika berlimpah materi. Tapi bahagia yang berarti, yaitu yang dapat memberi manfaat karena bahagianya memberi makna dalam kehidupan ini. Bukan sekedar tentang suatu kondisi merasa baik atau buruk yang dikorelasikan dengan kebahagiaan.

Setiap tahapan di telur hijau, telur merah hingga telur oranye membuatku bertanya-tanya bagaimana mengambil langkah pertama untuk mencari tahu arahnya mau kemana. Mengapa aku harus menuliskan semua hal yang paling kusukai dan bisa lakukan, lalu aku harus mampu memetakkan aktivitas emergency, penting, tidak penting dan mendesak. Mengapa aku harus menggali kembali potensi dan minatku. Mengapa aku harus memahami gaya dan konsep belajar lagi. Kemudian aku juga harus memetakan beberapa hal mendasar yang ingin aku dalami hingga menjadi terampil dan mahir.

Pada tahap terakhir di kelas telur, rupanya aku harus mendesain mind map ala aku sendiri. Aha...rupanya aku memang benar-benar harus menyusun ulang pikiran dan tindakan supaya aku dapat memulai perjalanan untuk mendapatkan makna sejati bagi hidupku.

Keterampilan akan menempatkanku pada jalan yang bisa memberiku makna dan kepuasan besar dalam hidup. Dan, keterampilan itu semua sudah ada dalam diri ini rupanya. Hanya saja, keterampilan itu tidak selalu dimanfaatkan seoptimal mungkin, bahkan kadang-kadang aku tidak menyadari potensi yang dimiliki dan setiap keterampilan ini dapat membantuku dalam menjalani hidup dengan berbagai situasi apapun.

Yah...Apapun fase kehidupan yang sedang aku jalani, apapun hal yang ingin aku capai, atau apa yang aku rasakan, yang terpenting adalah menyadari tujuan hidup. Mengejar makna hidup akan jauh lebih cepat ketika aku mampu memanfaatkan seoptimal mungkin skill yang aku miliki. Inilah saatnya untuk terus mengasah diri menemukan ramuan yang tepat untuk menjadi mahir memainkan skill itu. Sebuah proses belajar yang tidak boleh berhenti. Inilah yang aku katakan sesuatu yang tak pernah usai.

Aku pun akan bertransformasi, karena siapa pun bisa berubah. Aku akan menjalani sebuah siklus panjang dalam hidup dan bermetamorfosa supaya aku siap untuk menjalani hidup terbaikku. Kini akulah ulat yang telah hadir di dunia, siap melahap makanan yang bergizi sebagai bekal menjalani hidup baru.


#bundacekatan
#kelastelurtelur
#institutibuprofesional
#aliranrasatahaptelurtelur
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

ANDROID SOURCE CODES MURAH

ADVERTISEMENT

IKUTI KAMI

Total Pageviews

Popular Posts

ADVERTISEMENT

Aqila Nyanyi - Naik Delman

IKUTI FANSPAGE KAMI

Unordered List

Text Widget