Tampilkan postingan dengan label CARA MELATIH KEMANDIRIAN ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CARA MELATIH KEMANDIRIAN ANAK. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Januari 2019

MENSTIMULUS ANAK SUKA MEMBACA
BAGIAN 9


Orangtua memiliki kewajiban untuk memberikan motivasi kepada anak untuk suka membaca tentunya dengan keteladanan yang diberikan orangtua. Pengertian tentang pentingnya belajar ilmu pengetahuan bisa disampaikan kepada anak di sela-sela kegiatan bermainnya atau disaat membacakan cerita sebelum tidur atau ketika waktu senggang. Itulah saat yang tepat untuk memberikan pengertian kepada anak. Karena disaat-saat seperti itu, terjalin hubungan orangtua dengan anak yang akrab, santai dan harmonis.

Membacakan cerita merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak secara lisan. Metode bercerita bagi anak dalam mengajarkan kebenaran memang harus menarik, mengundang perhatian dan tentunya tidak lepas dari konsep bercerita. Karena dunia anak adalah sebuah dunia yang penuh suka cita, maka kegiatan bercerita harus diupayakan dapat memberikan perasaan gembira, penuh kelucuan, dan mengasyikan. Anak akan berusaha mengaitkan apa yang kita ceritakan dengan seluruh kehidupannya, baik di rumah, sekolah dan di luar lingkungannya. Begittu banyak Teknik bercerita yang menarik yang dapat digunakan oleh orangtua yaitu dengan Teknik membacakan langsung dari buku, menggunakan ilustrasi dari buku gambar, menggunakan papan flannel, boneka dan bermain peran. Semuanya dapat kita gunakan sebagai variasi dan akan menstimulus anak untuk dapat memilih mana metode yang paling ia sukai.


Untuk membangun kebiasan anak suka membaca haruslah dilakukan secara konsisten begitupun dengan orangtuanya juga harus konsisten untuk membaca buku. Namun disamping memotivasi anak suka dengan aktivitas membaca ada beberapa hal yang menajadi kebutuhan dasar manusia yang harus kita penuhi kepada anak. Jadi tidak melulu menyuruh, menjelaskan akan pentingnya membaca, menerapkan aturan yang mengikat dll. Lalu aa saja yang menjadi kebutuhan dasar ini?

Baca Juga ya

Yang pertama adalah kebutuhan pokok yang harus terpenuhi sebelum memenuhi kebutuhan yang lain yaitu kebutuhan fisik, seperti ketika anak lapar, maka orangtua harus peka. Karena disaat anak lapar ia tidak memiliki motivasi dan biasanya anak balita jarang yang mengungkapkan rasa laparnya. Yang kedua adalah kebutuhan akan rasa aman. Anak yang merasa dengan lingkungannya akan mudah untuk distimulus minat belajarnya. yang ketiga adalah kebutuhan afeksi, anak memerlukan sentuhan kasih sayang terutama dari orangtuanya dan lingkungannya. Selanjutnya yang keempat kebutuhan untuk dihargai. Maka jangan pelit untuk memberikan pujian dan apresiasi kepada anak manakala anak telah melakukan sesuatu yang baik. Yang terakhir adalah kebutuhan untuk mencapai aktualisasi, artinya anak diberikan kepercayaan dan keleluasaan untuk memilih dan melakukan sesuatu yang ia minati dan yang menarik baginya.




Selamat mendampingi sang buah hati dalam berproses ya bunda…
Sama seperti halnya Aqila hari ini yang sedang kurang sehat. Dari semalam badannya panas hingga 39 derajad. Namun Aqila masih teringat dengan pohon literasinya, hingga sesore ini ia belum menempelkan daunnya. Meskipun saya tak mengingatkannya dan tak memaksanya untuk melakukannya, namun dia memilih untuk membaca buku ceritanya sendiri untuk menghibur diri dan ingin menempelkan daun literasinya. Rupanya dengan membaca dan dibacakan buku cerita ini, Aqila jadi merasa lebih baik. Ia mengatakan bahwa dengan tertawa badannya jadi nggak lemes lagi. setelah membaca buku cerita ia kuminta untuk makan siang dan minum obat, lalu setelah itu istirahat siang. Dan alhamdulillah, dengan pemenuhan kebutuhan pokoknya ini, Aqila bangun tidur merasa lebih baik, panasnya sudah turun dan ia ingin melanjutkan membaca buku lagi dan membuat gambar.


Sabtu, 19 Januari 2019

 MENSTIMULUS ANAK SUKA MEMBACA




Masa peka belajar akan datang sesuai dengan fase perkembangan anak. Kita sebagai orangtua tak bisa memaksa datangnya masa ini. Yang bisa dilakukan hanya merangsang sebanyak mungkin untuk memepercepat kedatangannya. Bila telah tiba masa ini, anak akan mudah untuk mengikuti disiplin yang diajarkan. Merekapun akan senang menerima dan mengerjakan tugas yang diberikan tanpa harus dipaksa. Mereka mulai menyadari bahwa mereka butuh untuk memepelajari sesuatu karena mereka telah matang kepribadian dasarnya dan sudah melewati masa peka belajar.

Nah, bagaimana anak bisa mendapatkan kematangan kepribadiannya? Tentunya proses pematangan kepribadian anak dapat diperoleh melalui kegiatan bermain. Segala sesuatu yang besifat menggembirakan dan menghibur hati anak. Hampir setiap harinya anak yang berusaia dua atau tiga tahun akan menhabiskan waktunya dengan bermain. Mereka yang berada di usia ini biasanya memiliki sifat egosentris yang tinggi sehingga mereka belum siap dengan aturan yang mengikat. Yang dapat dilakukan hanyalah pengenalan dan pembiasaan disiplin serta membuat mereka nyaman dengan aturan.

Untuk mempercepat datangnya masa belajar, perlu sebuah rangsangan. Rangsangan itu dapat berupa mengenalkan anak pada buku dan pembiasaan mencintai buku. Dapat juga dilakukan dengan membacakan cerita , memberikan buku-buku bacaan yang menarik dan yang paling disukainya untuk menumbuhkan rasa ingintahunya. Sehingga anak menjadi tak asing lagi dengan buku dan menyukai aktivitas membacanya.



Baca Juga ya

Seperti hari ini Aqila mengutarakan keinginannya untuk bermain Bersama ibu lagi seperti dulu saat belum mempunyai adik bayi. namun keadaan ibu yang masih dalam masa nifas tak dapat berbuat banyak untuk membantunya menyiapkan segala alat dan bahan yang diperlukan untuk bereksperimen. Kulihat Aqila tampak kecewa dengan jawaban yang kuberikan. Namun saya berusaha menghiburnya dan untuk mengobati kekecewaannya, saya tawarkan Aqila bermain mewarnai garam. Membuat pelangi dalam gelas. Karena garam sangat mudah ditemui di dapur dan tidak memerlukan banyak bahan untuk melakukan kegiatan ini. Aqilapun sepakat dan ia dapat emeprsipakan semua bahannya sendiri karena masih mengingatnya, kerena kegiatan ini pernah kami lakukan Bersama dulu.

Setelah menghabiskan waktu dua jam Aqila bermain mewarnai garam, kemudian ia menunjukkan hasilnya kepadaku. Oh pintar sekali ia melakukannya, meskipun kulihat teras tempatnya bermain berserakan garam dimana-mana dan tampak berantakan sekali. Namun proses belajarnya telah ia lalui dengan baik dengan hasil yang baik pula. Dengan sedikit apresiasi yang kuberikan, ia sangat gembira dan lupa dengan kekecewannya.
Pada saat ia kuminta untuk memajang hasil karyanya itu, tiba-tiba ia bertanya tentang asal mula garam.
“ bu, kenapa si kita harus punya garam?”
“ ya harus dong nak, garam kan slahh satu bumbu dapur untuk ibu memasak. Kalau masaknya nggak dikasih garam ya jadinya nggak enak sayang.”
“ oh, jadi kita harus beli garam di warung ya bu biar punya garam untuk masak?”
“ iya benar banget tu..kalau garam kita habis, ibu akan beli di warung.”
“ trus, warungnya dapat garam darimana bu?” pertanyaannya semakin Panjang nih anak.
“ mmm…penjaga warungnya beli ke pasar dulu nak.” Saya mulai bingung dengan pertanyaan Aqila.
“memang garamnya yang buat siapa bu dipasar?”
Oh mungkin maksudnya ini terbuat dari apa garamnya, mulai mutar otak untuk menjawab pertanyaan Aqila. Saya jadi teringat kalau kami memiliki buku ensiklopedia tentang laut dan Samudra. Mending saya ajak Aqila membaca bukunya saja.

“ oke, nanti ibu kasih tau, sekarang Aqila cuci tangan dan bersihkan badan yang kena garam-garam itu. Setelah itu ibu akan tunjukkan ke Aqila darimana garam berasal.
Setelah Aqila siap, kumnta ia mengambil buku besar dengan kertas tebal yang berjajar diantara beberapa buku lain. kebetulan buku ensiklopedi ini masuk dalam daftar reading tracker Aqila, karena dia memang sangat menyukai buku ini karena kualitas gambarnya yang baik. Kamipun membuka buku ini, kutunjukkan padanya darimana garam berasal sabil melihat gambar di dalam buku kumanfaatkan untuk memberinya penjelasan, bagaimana mengolah air laut hingga menjadi garam dan sampai di tangan kita untuk bumbu masakan ibu. Hingga rasa ingintahunya ini terjawab semua. Lalu ia beralih dengan halaman berikutnya yang menampilkan berbagai macam ikan di laut.

Kamis, 17 Januari 2019

MENSTIMULUS ANAK SUKA MEMBACA




Saya sependapat dengan apa yang disampaiakan oleh Tony Buzan seorang ahli brain management bahwa, “ jika hendak menuju planet Mars, lalu ada penyimpangan arah satu centimetre saja di awal keberangkatan, bisa jadi pesawat tersebut tidak akan sampai di mars. Kesalahan kecil di awal perjalanan bisa jadi akan menimbulkan penyimpangan yang sangat jauh sehingga tidak akan sampai di tujuan.” Nah apa maksud dari yang dikatan oleh Buzan ini? Lebih lanjut ia menjelaskan, “jika ada penyimpangan sedikit pada Pendidikan usia dini, maka pada usia dewasa penyimpangannya akan semakin lebar. Sehingga anak menjadi sosok dwasa yang jauh dari yang diharapkan.”


Baca Juga ya



Meskipun Nampak hal yang sepele, namun untuk urusan Pendidikan kepada anak terutama nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan agar menjadi sebuah kebiasaan baik , harusnya mendapatkan perhatian lebih. Karena menanamkan kebiasaan kepada anak usia dini akan berdampak besar pada kehidupannya di masa dewasanya kelak. Termasuk dalam menumbuhkan kebiasaan membaca kepada anak, jika tidak diniati dengan tekad yang kuat agar anak menjadi pecinta buku dengan melakukan berbagai upaya, maka untuk menjadikan anak gemar membaca akan mustahil didapatkan. jangankan menjadi kutu buku, membukanya saja anak akan enggak melakukannya. Karena ia tidak distimulus untuk mendapatkan hal yang menarik dan mengasyikkan ketika bersama buku oleh kedua orangtuanya.




Kali ini saya mendapati Aqila sedang bertengkar dengan teman yang usianya lebih besar darinya. Karena tak tahan dengan pertengkaran itu, dan hatinya semakin jengkel iapun pulang ke rumah dan menemuiku dengan nafas yang teratur, wajah ditekuk, mulutnyapun cemberut. Setelah kugali informasi mengapa ia marah pada temannya rupanya mereka berdebat tentang seseorang yang berprofesi sebagai astronot. Ketika mereka berdua melihat seorang pemulung lewat di jalan sambil mengais-ngais sampah untuk mencari barang bekas, temannya mengatakan bahwa orang itu adalah astronot karena membawa tongkat dan karung besar yag terdapat di punggung pemulung tersebut, namun Aqila tahu bahwa yang namanya astronot itu adalah angkasawan yang menaiki roket dan pergi ke luar angkasa. Entah informasi darimana yang di dapatkan teman Aqila ini sehingga pemulung itu disebutnya sebagai astronot. Dalam hati saya tertawa juga mendengarnya, pertengkaran khas anak-anak yang sedang berbeda pendapat. Mungkin ada seseorang yang mengatakan pada teman Aqila ini bahwa pemulung itu sering disebut juga dengan astronot darat. Karena begitu juga yang kudapati dari guyonan para ibu-ibu tetangga rumah kami.

Baca Juga ya



Namun, meskipun begitu memberikan informasi yang tidak benar kepada anak tetap saja salah. Kerena anak akan sangat mempercayai apa yang dikatakan oleh orang dewasa kepadanya. Tentu saja hal seperti ini akan berakibat buruk pada pola pemahamannya di kemudian hari. Karena melihat Aqla yang tak juga sembuh dari amarahnya, sayapun berinisiatif untuk membacakannya sebuah buku menarik yang juga digemari Aqila. Saya hanya ingin ia dapat meredam amarahnya dan menunujukkan kepadanya bahwa Aqila lah yang benar dalam konsep profesi seseorang sebagai astronot. Karena ia juga sangat senang membaca, maka iapun setuju membaca buku Bersama ibu. Sebuah buku lama dengan format besar dan tebal yang di dalamnya terdapat informasi yang menarik tentang astronot dengan disertai foto-foto yang ekskulusif.

Bahkan moment ini menjadi kesempatan bagiku untuk mengenalkan kepadanya macam-macam planet dan satelit. Saya memulainya dari bab pertama tentang system tata surya dimana dengan melihat gambar urutan-uritan planet ini Aqila menjadi tercengang bahwa bumi yang ditempatinya ini sangatlah kecil dibandingkan dengan matahari dan beberapa planet lainnya. Kemudian ia mengetahui bahwa bulan bukanlah sebuah benda langit yang dapat mengeluarkan cahayanya sendiri melainkan dari pantulan sinar matahari. Semuanya menjadi sangat mudah dijelaskan manakala kegiatan ini dilakukan dengan media sebuah buku yang tepat.

Tiba-tiba Aqila mengatakan kepadaku ,” ibu kalau aku ingin naik roket bisa enggak?”
“ insyaallah bisa nak, besok kalau Aqila sudah besar.” Jawabku
“besok kalau aku sudah besar, ibu belikan aku roket ya?” tanyanya
“ hahaha…memang Aqila mau kemana kok pengen naik roket?”
“ aku mau ke bintang bu, kan bintang itu tinggi banget adanya di langit sana, kan nggak bisa kalau kita Cuma naik mobil, harusnya naik roket kan bu?”

Baca Juga ya


“ iya sayang kamu benar, ke bintang itu naikknya roket ya bukan naik mobil.” Ujarku menguatkan pendapatnya.
“ kelak kalau kamu sudah besar, kamu akan tahu dimana bisa kamu temukan roket dan bagaimana bisa menghitung jarak bumi kita dengan bintang-bintang di langit itu. Maka Aqila harus rajin belajar dan semangat membaca buku nya ya?” lanjutku kepadanya dengan memberikan penjelasan.

Dari kegiatan ini, saya melihat Aqila telah hilang api amarahnya dan berubah menjadi api semangat untuk menjajaki bukunya. Demikianlah, masalah yang kudapati saat mendampingi Aqila dapat teratasi hanya dengan sebuah buku. Tahukah anda bahwa baru-baru ini sedang mencuat gagasan alat untuk menyembuhkan pasien penderita depresi dengan menggunakan buku? Ya, metode ini dikenal sebagai metode biblioterapi yang hasilnya para pasien merasa lebih bersemangat setelah mengetahui bahwa masalah yang dihadapinya ternyata jauh lebih ringan disbanding kisah yang dibacanya. Meskipun hal ini masih dalam penelitian lebih lanjut dan masih dalam perdebatan, namun saya merasakan sekali manfaat buku ini yang dapat menyembuhkan amarah dan ledakan emosi putri kecilku.

Selasa, 15 Januari 2019

MENSTIMULUS ANAK SUKA MEMBACA
BAGIAN 6


Masih tentang menstimulus anak suka membaca, membuat berbagai upaya agar anak semangat dan senang dengan aktivitas membaca dengan tanpa anak merasa dipaksa untuk melakukanya. Hal ini telah kita ketahui besama bahwa tahap mengenalkan buku pertamanya adalah buku yang paling ringan dan paling menarik baginya, biasanya anaka paling suka dengan bku yang banyak gambar dan full colour. Ketika anak sudah menyenangi aktivitas membacanya maka tak akan mudah bagi kita uuntuk memberinya pilihan berbgai macam buku dan biarkan dia asyik memilih buku yang diinginkannya. Meskipun begitu, aktivitas membacakan cerita tetap harus dilakukan sampai anak dapat membaca teks bacaan atau sampai mereka tidak lagi meminta dibacakan buku cerita lagi. membacakan cerita akan merangsang minat belajarnya.

Baca Juga ya


Sebuah kisah menarik terjadi pada hari ini saat Aqila tak mengambil buku pilihannya yang masuk dalam reading tracker. Melainkan ia mengambil sebuah buku lama yang terdapat dalam rak buku milik ibu. Yang diambilnya adalah buku kesehatan anak yang dalamnya penuh gambar dan full colour. Entah mengapa ia kembali tertarik mengambil buku ini untuk dibacanya. Di sampul depan buku itu pernah kutulisakan Namanya dan waktu itu kubacakan ejaan Namanya dihadapannya. Rupanya ia masing mengingat jejak tulisan Namanya dan iapun mengeja Namanya sendiri “AQILA SAYYIDAH EL HAFIZHAH” begitu ucapan yang keluar dari bibirnya. Meskipun ia belum dapat membaca dan mengahafal huruf, namun dengan sangat percaya dirinya ia mengeja Namanya. Lalu ia mencoba menuliskan Namanya di kertas lain dengan beberapa abjad yang tidak teratur. Kemudian dia mencocokan dengan tulisanku yang ada dihalaman depan buku itu. Oh… ibu ini huruf “A” untuk Aqila, kemudian ia mencari contoh huruf A lagi di beberapa tulisan yang ada di dalam buku. Rupanya ia banyak menemukan huruf A yang sama dengan tulisan ibunya. Dengan sangat mudah iapun dapat mengenal dan mengingat huruf A dengan mudah.

Baca Juga ya


Aqila pun bertanya kepadaku,”bu, adik bayi kita kan Namanya Adzkiya, berarti pakai huruf A juga ya bu?”
“iya kak, Adzkiya juga pakai huruf A. kakak sudah bisa menulis huruf A ya?”
“iya bu..aku sudah bisa. Bu lihat gambar buku ini, anak-anak kayak aku tu kan harus rajin sikat gigi, mandi terus makan makanan yang sehat ya bu.”
“ oh iya sayang makanan yang sehat itu apa saja, coba tunjukkin ke ibu nak.”
“ ini bu ada nasi,sayur, ikan,telur,ayam sama buah-buahan.”
“wah hebat Aqila, sekarang kita cari yuk buah-buahan yang depannya huruf A”
“ayuk bu…terimakasih ibu sudah melahirkan adik bayi, aku sayang sama ibu dan adik bayinya.”
Ha? Dalam hatiku apa hubungannya makanan sehat dengan adik bayi ya? Hehe, tapi itulah anak-anak ia selalu mampu mengungkapkan perasaannya dengan berbagai cara. Namun dari cerita hari ini saya mendapatkan beberapa pengalaman baru, bahwa sebenarnya membaca adalah hal yang sebenarnya mudah bagi anak-anak, apalagi jika anak dalam keadaan gembira mereka akan belajar dengan caranya sendiri tanpa harus kita paksakan. Namun hal ini sangat kontras sekali dengan apa yang terjadi di masyarakat pada umumnya. Anak dipaksa untuk menghafal huruf lalu mengejanya. Tak jarang kita jumpai proses seperti ini diiringi dengan bentakan-bentakan.



Baca Juga ya

Kebanyakan orangtua sangat gelisah saat anaknya usia TK belum dapat membaca lalu para orangtua akan sibuk mencarikan tempat kursus untuk anaknya yang metodenya belum tentu tepat dan meyenangkan bagi anak. Saya teringat pada sebuah perkataan dari seseorang bernama Sylvia Ashton Warner. Ia mengatakan bahwa,” kata pertama haruslah bermakna bagi anak. Kata itu harus merupakan bagian dari dirinya. Harus merupakan ikatan organic, secara organic lahir dari dinamika hidup itu sendiri. Harus kata yang sudah menjadi bagian dari dirinya.”

Pada kisahku Bersama Aqila, kudapati ia sangat bersemangat mengenal huruf dari nama orang-orang yang dekat dengan dirinya, Namanya sendiri, nama adiknya, dan nama ibunya. Meskipun hanya satu huruf saja, huruf “A”. membaca akan menjadi hal yang mudah jika hal itu bermakana bagi kehidupan anak dan prosesnya menyenangkan baginya. Maka saya sarankan kepada para orangtua dan guru jangan mengajarkan membaca kepada anak justru dari hal yang asing bagi anak karena itu sangat membosankan. Mulailah mengajarkan membaca dari yang memiliki ikatan organic dengan si anak. Membaca yang menjadi ikatan organic adalah melalui proses alamiah sejalan dengan perjalanan kehidupan sang anak.

Minggu, 13 Januari 2019

MENSTIMULUS ANAK SUKA MEMBACA
Bagian 3

Menjadikan anak suka membaca dan memiliki kebiasaan untuk membaca tidak cukup hanya dengan waktu beberapa hari saja, namun waktu yang dibutuhkan bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Sebagai orangtua memang harus bersabar dalam mendampingi putra putrinya untuk pembiasaan ini. Bagi yang masih memiliki anak balita, tentunya ada beberapa tahapan yang harus dilalui. Seperti yang pernah saya lalui Bersama Aqila, namun apa yang saya sampaikan ini bukan berarti menjadi patokan mutlak ya bun..bahkan tahapan-tahapan yang dilalui setiap anak bisa saja berbeda-beda dan orangtua juga dapat menstimulasi anak dengan cara yang lebih kreatif dan inovatif.

Baca Juga ya


Pada tahap awal pengenalan anak balita dengan buku, maka akan kita jumpai anak balita ini akan membolak-balikan buku dengan sesekali membuka buku dan kertas halaman secara acak. Bahkan terkadang si kecil ini secara tidak sengaja akan merobek halamannya. Janan kecewa ya bunda…tetaplah bersabar di tahap ini, ajari si kecil cara membuka bukunya dan biarkan dia tetap asyik membolak-balikan halamannya. Pasti buku anda akan terlihat kumal dan rusak, tapi tak jadi masalah, itu tandanya si kecil mmiliki respon yag baik terhadap buku. Karena tentu saja dia belum mengerti isi buku itu dan hanya melihat-lihat gambarnya saja.

Selanjutnya, setelah si kecil tahu cara menggunakan buku, bunda harus aktif membacakan cerita untuknya melalui buku yang bergambar warna-warni, biarkan dia ikut mengamati buku dan menikmati alur cerita yang bunda sampaikan. Dalam hal ini si kecil berada dalam tahap menuju buku berkualitas seperti komik atau majalah anak. Biasakan anak untuk menyimak cerita dan mencerna kalimat-kalimat sederhana yang banyak gambarnya. Cerita-cerita pendek akan menghindarkan anak yang belum bisa membaca dari kebosanan.

Baca Juga ya

Menuju buku pertamanya, setelah anak terbiasa denan dunia bacaan baik melalui komik atau majalah kesukaannya,maka bunda dapat mulai mengenalkan buku kepadanya dari yang paling ringan muatannya dan disesuaikan dengan kemampuan membaca si kecil. Anak dibawah usia 7 tahun masih sangat senang dengan buku yang banyak gambarnya tidak terlalu Panjang isinya namun berkesan bagi anak-anak dan mengandung unsur pengetahuan.

Tahap berikutnya adalah munculnya keasyikan pada diri anak untuk membaca buku. Ia mulai akan tertarik pada jenis buku tertentu yang menjadi favoritnya bahkan ia akan membaca berulang-ulang kali untuk judul buku yang sama. Pada tahap ini anak akan sangat sulit sekali dirubah pilihan bukunya sesuai keinginan orangtua. Tapi tak mengapa bunda… biarkan dengan seiring berjalannya waktu dia akan dengan sendirinya mengubah pilihan bukunya.

Baca Juga ya


Nah itulah tahapan yang akan dilalui anak balita dalam pengenalan buku kepadanya. Seperti kegiatan membaca Aqila hari ini, ia telah berulang-ulang kali membeca buku cerita yang sama. Sekali saya bacakan cerita bergambarnya, untuk selanjutnya ia sudah dapat bercerita sendiri dengan alur yang ia buat sendiri namun tetap konsisten denga nisi ceritanya dan sesuai dengan gambarnya. Kali ini Aqila bersemangat membaca buku cerita tentang anak yang tidak bersegera melakukan sesuatu hingga akhirnya dia sendiri yang merugi. Melalui buku ceritapun kita dapat sambil menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak. Bahkan waktu seperti ini merupakan waktu yang baik untuk dapat membentuk karakter anak menuju akhlakul karimah.

Walau hanya buku cerita, namun banyak hikmah dan banyak nilai-nilai kebaikan yang dapat kita tanamkan kepada anak, ketika si anak dapat memahami hal ini, kita patut memberinya apresiasi. Setelah selesai membaca, tak lupa Aqila menempelkan daun pohon literasinya yang sudah saya tuliskan judul buku dan halaman yang dibacanya tadi.


INI ADA CUPLIKAN SAAT AQILA MEMBACA


MENSTIMULUS ANAK SUKA MEMBACA
Bagian 4
 Tahukah anda bahwa kegiatan membaca dapat mengasah kecerdasan linguistic seseorang. Yang mana kemampuan linguistic yang menonjol pada seseorang akan menjadikannya cerdas dalam hal berargumentasi, meyakinkan oranglain, menghibur atau memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata yang diucapkannya. Selain itu, ia juga memilili emampuan yang baik dalam menyimpan berbagai informasi. Nah, hal ini sangat erat kaitannya dengan proses berpikirnya. Sehingga menstius anak untuk menyukai membaca haruslah dilakukan sejak dini. Tentunya anak yang memiliki kecerdasan linguistic, ia menuasai beberpa keterampilan yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca dan menulis.


Begitu erat kaitannya aktivitas membaca ini dengan kecerdasan linguistic, sehingga bisa kita lihat banyak anak yang hobbi membaca ia akan mampu berkomunikasi dengan baik baik secara lisan ataupun tulisan, ia mampu mengingat dan menghafal berbagai informasi serta mampu memberikan penjelasan dengan baik.

Baca Juga ya

Mari perhatikan bayi-bayi yang baru lahir, bayi manusia sudah memiliki keinginan untuk berbicara dan menyampaikan informasi. Menangis dan menggerak-gerakkan tubuhnya adalah cara bayi berbahasa untuk menyampaikan keinginannya. Kemudian di usia 1 tahun bayi ini sudah dapat mengucapkan kata-kata , dan kemampuannya akan semakin meningkat di usia 2 tahun dan berusaha mengucapkan kalimat-kalimat dengan kata yang tepat dan efektif.
Untuk mengembangkan kecerdasan linguistic anak, maka diperlukan peran orangtua untuk menstimulasi anak dengan berbagai permainan yang dapat mengasah kemampuan berbahasa anak. Bila perlu kenali potensi atau bakat berbahasanya sejak dini. Kayakan anak dengan berbagai wawasan, informasi dan pengetahuan baru. Ketika anak sudah terbiasa dengan hal ini, maka anak akan semakin tertarik dengan hal-hal yang dapat menjawab rasa ingintahunya salah satunya adalah buku. Sehingga anak memiliki minat terhadap buku dan berbagai sumber bacaan lain yang muncul dari dalam dirinya sendiri.

Jika

Baca Juga ya

kebiasaan membaca sudah ditanamkan sejak dini, kelak membaca buku bukan lagi menjadi alternative bermain, melainan merupakan suatu kebutuhan. Jangan bosan membacakan cerita atau mendongeng untuk anak sejak masih bayi, kegiatan ini sangat mudah dilakukan dan dapat dilakukan kapan saja. Sehingga kita dapat mengenalkan buku kepada anak sejak masih bayi. bimbing anak untuk membacakan isi ceritanya berulang-ulangg sebagai bekal pemahamannya kelak. Aktivitas inipun dapat melatih meningkatkan konsentrasinya. Ekspresi wajah kita yang diiringi dengan intonasi emosi saat membacakan cerita dapat mengarahkan anak dalam mengekplorasi bacaan.
Dengan dasar-dasar itulah saya selalu bersemangat mengajak Aqila melakukan permainan yang melibatkan bahan bacaan. merangkai cerita merupakan kegiatan yang paling ia gemari saat membuka buku. Aqila memang belum dapat membaca tulisan, namun ia sangat gemar “membaca” gambar. Sering saya memberinya potongan gambar memintanya untuk mengungkapkan apa yang dipikirkannya tentang gambar itu. Kemudian dari potongan-potongan gambar itu saya mengajak Aqila menyusunnya menjadi sebuah rangkaian cerita. Kegiatan ini sangat asyik dan menarik sehingga seringkali Aqila meminta memainkan permainan ini berulang-ulang.

Seperti kegiatan hari ini, ia memilih sendiri buku yang ingin dibacanya lalu ia membolak-balikkan setiap halaman pada buku tersebut sampai ia menemukan sebuah gambar proses metamorphosis katak. Dengan alur dan urutan gambar itulah ia mulai merangkai ceritanya, lucu dan menggemaskan sekali melihatnya bercerita tentang daur hidup katak, apalagi saat kesulitan mengucapkan “berudu”. Meski begitu ia telah dapat memahami darimana katak berasal dan seperti apa proses hidupnya. Tak lupa saya samaiakn bahwa proses hidup yang seperti itu dinamakan metamorphosis yang sama dialami oleh kupu-kupu, nyamuk dan belalang. Iapin semakin bersemangat mencari binatang yang memiliki proses hidup yang sama dengan katak. Dihalaman berikutnya iapun menemukan gambar kupu-kupu, belalang dan nyamuk. Selanjuutnya bisa ditebak bahwa diapun bersemangat membaca gambar binatang-binatang yang memiliki proses metamorphosis itu.
INI ADA CUPLIKAN SAAT AQILA MEMBACA


Jumat, 14 Desember 2018


MENJAJAKI GAYA BELAJAR ANAK DENGAN BERAGAM KEGIATAN
“ MELOMPAT DAN MENITI”



Usia dini atau sering disebut dengan usia pra sekolah dimana anak masih berada pada masa ketika anak belum memasuki Pendidikan formal. Rentan waktu ini sangat baik sekali untuk para orangtua dapat mengembangkan potensi dan kecerdasan anak. Melakukan pendampingan dan memberikan arahan untuk pengembangan potensinya akan sangat berpengaruh pada kehidupannya dimasa yang akan datang. Peluang terbesar dan terbaik untuk anak dapat menyerap informasi dan pengetahuan adalah pada anak masih berada pada usia dini dibandingkan dengan ketika anak-anak telah beranjak dewasa. Hal ini disebabkan salah satunya adalah karena otak anak usia dini belum terkontaminasi oleh berbagai macam pengetahuan dan perkembangan otak pada masa usia dini sedang berada pada perkembangan yang pesat.

Baca Juga ya



Percayakah anda, bahwa kecerdasan anak berawal dari permainan. Bagi anak-anak, bermain adalah sarana untuk mengubah kekuatan potensi dalam diri menjadi sarana penyalur kelebihan energi dan relaksasi. Dengan bermain mereka akan banyak belajar tentang hukum alam dan berhubungan dengan lingkungan. Dan yang lebih penting lagi adalah, bermain merupakan kegiatan yang dapat mengembangkan potensi anak dalam berkreasi sesuai kemauannya tanpa paksaan dan hambatan untuk melatih fisik dan mental supaya anak dapat lebih mengenal dirinya dan lingkungannya.

Melalui bermain kita dapat melihat dan mengamati setiap perkembangan yang terjadi pada diri anak, selain itu kita juga dapat mengembangkan potensi kecerdasan anak dengan beragam metode untuk semua aspek kecerdasannya baik di ranah kognitif, afektif dan psikomotornya, Mengamati kecenderungan kecerdasan dan gaya belajarnya. dan tentunya di usia dini juga, kita perlu mengasah semua kemampuan anak di setiap ranah kecerdasan yang secara natural ada dalam diri anak secara keseluruhan. Biarkan jika beberapa atau salah satu kecerdasan dan gaya belajarnya muncul lebih optimal dan lebih dominan sebagai kecenderungannya. Karena jika kecerdasan dan gaya belajarnya telah Nampak yang paling dominan, tahap berikutnya adalah tinggal memberikan pendampingan secara terarah, pemberian fasilitas belajar secara tepat dan sesuai kebutuhan belajarnya serta ketepatan dalam proses pengembangannya. 

Masih dalam rangka menjajaki gaya belajar Aqila, selain ingin mengasah semua kemampuan potensi kecerdasannya, saya juga perlu mengetahui gaya belajarnya yang paling dominan mealalui beragam kegiatan yang saya lakukan bersamanya. Kali ini adalah melaui permaian fisik yang akan melatih tingkat kefokusan dan keseimbangan tubuhnya. Setiap kegiatan bermain akan menuntut keaktifan secara fisik dan mental dengan cara yang menyenangkan. Maka dengan aktivitas bermain ini , anak pasti akan sangat merasa senang dan bahagia karena menikmati permainan. Dan yang paling penting bagi kita sebagai orangtua, kita tidak boleh memaksakan kegiatan bermain kepada anak dengan permainan-permainan yang memang tidak disukai oleh anak. Jika kita memiliki misi, maka sebaiknya tawarkan kepada anak jenis permainannya, apakah dia suka atau tidak. Kalau anak tidak suka ya jangan dipaksakan. Rubah permainan atau modifikasi bentuk permainannya.




Setiap permainan yang saya lakukan Bersama Aqila selalu melibatkan gerak tubuh dan olah fisik karena semua aktivitas bermain akan menuntut anak menggerakkan tubuhnya. Seperti halnya dengan permainan yang kami lakukan ini, yaitu melompat dan meniti pada sebuah kayu balok untuk menyeberangi suatu parit. Melompat saat bermain engklek ternyata sangat menyenangkan bagi Aqila, namun butuh beberapa waktu untuk mengenalkan permainan ini kepadanya. Termasuk cara bermain dan mencontohkannya agar ia mengerti dan dapat melakukannya sendiri. Saya masih sangat mengingat sebuah kejadian saat Aqila berusaha untuk dapat melakukan gerakan senam secara teratur, tak dapat ia pahami jika hanya melihat saja dari video di layar laptop. Namun harus dengan arahan dan mencontohkannya langsung melalui kontak fisik.




Dari pengalaman itu, saya pun menggunakan metode yang sama. Tidak cukup dengan memperlihatkan gerakan di hadapannya, namun dengan menjelaskan melaui kalimat verbal dan harus membersamianya saat melakukan gerakan-gerakan melompat pada permainan engklek. Kegiatan semacam ini dapat melatih kekuatan otot dan keseimbangan. Kegiatan meniti atau berjalan dia atas papan dapat dilakukan pada anak yang sudah berusia 3-4 tahun. Pernah saya mencobanya saat Aqila masih berusia 2 tahunan, ternyata dia belum memiliki kepercayaan diri yang baik, bukannya berjalan meniti tapi justru merangkak. 



Baca Juga ya








Namun, untuk melatih kepercayaan dirinya pada saat itu, saya memegang erat tangannya sebagai kode yang seolah ingin kukatakan bahwa ibu ada disampingmu dan menjagamu, maka percayalah pada ibu. Perlahan-lahan dengan berpegangan pada tanganku Aqila berjalan di atas papan. Ketika sukses berkali-kali, iapun melompat kegirangan. Nah, barangkali ia mengingat moment ini saat saya memintanya lagi meniti diatas balok kayu yang melintang diatas parit  Dan dia tertawa sendiri kemudian menunjukkan kelincahan dan kemahirannya di hadapanku tanpa arahan dan penjelasan apapun dariku. Nah, ini juga merupakan sebuah tanda bahwa ia juga telah memiliki kemampuan mengkonstruk sebuah informasi, pengetahuan dan pengalamannya untuk dapat melakukannya dengan lebih baik.



#harike17
#Tantangan10hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#kuliahBunSayIIP



ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

ANDROID SOURCE CODES MURAH

ADVERTISEMENT

IKUTI KAMI

Total Pageviews

Popular Posts

ADVERTISEMENT

Aqila Nyanyi - Naik Delman

IKUTI FANSPAGE KAMI

Unordered List

Text Widget