Tampilkan postingan dengan label MENJAJAKI GAYA BELAJAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MENJAJAKI GAYA BELAJAR. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Februari 2019

CHANGE MAKER FAMILY
Oleh      : Triamiyati






Menjadi seorang ibu adalah anugerah yang wajib disyukuri sebagai karunia dari Allah. Apalagi dapat mendampingi sang buah hati di setiap tumbuh kembangnya, memahami fitrah nya dan menyaksikan keunikan - keunikan yang dimiliki oleh setiap anak merupakan hal terindah dan saat yang paling membahagiakan.

Usia bukanlah sebuah alasan untuk malu atau berhenti menimba ilmu dan menuliskan pengalaman sebagai jejak sejarah proses belajar. Justru dengan bertambah usia akan semakin merasa butuh untuk beramal dan menebar kebaikan. Jangan terus bertanya bagaimana caranya, lakukan saja mulai dari hal yang paling ringan dan mudah yang dapat kita lakukan. Apa saja, ya apa saja.



jangan  malu dan sungkan untuk berbagi. Walaupun banyak orang yang jauh lebih berarti dari kita namun, bukankah Allah telah memberikan sesuatu yang istimewa pada setiap orang? Sehingga siapapun dan dari manapun kita dapat belajar dan berguru. Barangkali pengalaman hidup yang sarat makna akan menjadi pengingat, penggugah bahkan dapat menginspirasi orang lain. Sehingga apa yang kita sampaikan akan menjadi amal jariyah karena kebermanfaatannya bagi orang lain. Maka teruslah berbagi dengan segenap apa yang kita bisa dan miliki. Karena Setiap kita pasti mempunyai tantangan hidup masing- masing.

Ibarat dua pohon yang ditanam di tempat yang sama. Dengan curah hujan yang sama, frekuensi cahaya matahari yang sama dan unsur hara yang sama. Namun keduanya tidak tumbuh dengan kualitas yang sama. Mengapa bisa demikian? Tentu saja karena kita tidak tahu realitas apa yang dihadapi akar-akar pohon ini di dalam tanah. Bisa jadi akar ini menghadapi batu besar atau bongkahan bekas bangunan yang menjadikan akar harus bekerja lebih kuat menaklukkan rintangan yang dihadapinya sehingga ia mampu menghujamkan akarnya sekuat mungkin di dalam tanah untuk mendapatkan segala kebutuhan untuk tumbuhnya sang pohon. Setelah pohon dapat hidup dengan baik mulai rimbun daunnya berbuah dan berbunga masya allah luar biasa banyaknya manfaat yang diberikan pohon kepada manusia. Berapa banyak gas CO beracun yang diserap oleh pohon dan berapa banyak oksigen yang menebar memberi kesegaran. 





Ketika menghadapi anak-anak yang memiliki karakter berbeda ada baiknya kita juga mengingat akan kisah dua pohon di atas. Meskipun mereka hidup diatas dunia yang sama dan sama- sama makan nasi tapi anak- anak tetaplah anak-anak yang memiliki keunikan dan potensinya masing-masing dan marilah istimewakan semua anak karena mereka begitu berharga. Mereka akan tumbuh dan besar dengan potensi yang mereka miliki mereka akan menebar kebaikan dengan kehebatan mereka masing-masing.

Tentunya seperti ini pulalah manusia dengan jalan hidup yang  tak selalu sama karena kita memiliki potensi unik yang ada pada diri kita begitupun perjalanan hidup kita berbeda-beda ada yang sangat mudah menghujamkan akar kehidupannya dan ada yang yang harus berjuang keras untuk mengokohkan akar kehidupannya. Namun apapun realitas kehidupan yang kita hadapi hendaknya tak menyurutkan semangat kita untuk berbagi dan saling memberi manfaat.

Andai kebajikan itu tampak seperti pohon yang tumbuh hijau merimbun, mungkin akan ada banyak orang yang menanam pohon kebaikan. Namun yakinlah, meskipun kebaikan yang kita tanam itu tak tampak sebenarnya kebajikan itu berakar kuat, tumbuh menjulang, berdaun banyak dan berbuah lebat tanpa kita sadari yang akan kita panen di kampung akhirat.

Saat kita berada dalam sebuah ikatan organisasi dengan visi misi yang sangat menarik dan apik . Menjalin hubungan kekeluargaan dengan banyak kader, bertukar ilmu, menyerap, menganalisa dan menemukan solusi dari berbagai tantangan serta menebarkan manfaat untuk umat bahkan menjadi problem solver ditengah masyarakat adalah bagian dari menanam pohon kebaikan.
Begitulah, mari tampil dengan segenap potensi yang kita miliki sebagai bentuk kesyukuran atas karunia dari Allah SWT.

Karena kitalah sang agen perubahan.
Perempuan yang telah menjadi ibu adalah instrumen utama yang menjadi pemeran utama sebuah perubahan. untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama. Bahkan ibu yang akan membangun peradaban dunia dari dalam rumah. Keberadaan Ibu akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat. Maka betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena

“mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi”

Maka apabila ada 1 ibu membuat perubahan akan terbentuk perubahan 1 generasi yaitu generasi anak-anak kita. Mulailah perubahan di ranah aktivitas yang menjadi misi spesifik hidup kita. Memahami jalan hidup kita ada dimana lalu lihat sebuah komunitas kecil kita bernama keluarga. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi CHANGE MAKER FAMILY. Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang selalu konsisten dijalankan.

Setelah sukses membuat perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah masuk  masyarakat /komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di dalam komunitas dan organisasi ini. Mari lihat kemampuan kita , apa yang bisa  lakukan bersama organisasi ini untuk membuat perubahan di tengah masyarakat kita. Mari jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal terkecil yang kita bisa. Melejitkan potensi dengan pesona islami. Maka ketika orang melihat kita, menyaksikan kemampuan kita mereka akan bicara inilah indahnya islam.


Mari membuat skala perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga.
Sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.

KELUARGA adalah yang utama, ketika kita  aktif di organisasi dan suami protes , maka itu peringatan untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu peringatan keras. Artinya kita harus menata ulang tujuan utama kita aktif di organisasi. Inilah indikator bunda shalehah, yaitu bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya. Sebagai hamba Allah, kita dapat berbuat lebih banyak dalam berkontribusi menebar kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan perasaan damai.

Maka mari lakukan perbaikan diri terus menerus karena kunci tumbuh tak kenal henti adalah hanya dengan perbaikan diri yang senantiasa dilakukan dengan selalu melakukan evaluasi dan terus melangkah . Jadilah seperti pohon yang setiap waktu pucuknya semakin membesar akarnya semakin menghujam kuat dan batangnya semakin kokoh. Tumbuh dan terus tumbuh hingga terwujudlah sebuah perubahan yang dicita-citakan.

Salam semangat

 Pekalongan, 12 Februari 2019

 

Sumber inspirasi

Materi matrikulasi iip_2018
Never ending success_2006






    Rabu, 06 Februari 2019

    MENSTIMULUS KECERDASAN LOGIS MATEMATIS 
    BAGIAN I


    Kecerdasan logis matematis merupakan sebuah kemampuan dalam hal logika dan angka yang mana kecerdasan ini selalu melibatkan keterampilan mengolah kata, angka, dan kemahiran menggunakan logika alias akal sehat. Kemampuan ini adalah kecerdasan yang dimiliki para ilmuwan, akuntan, programer dan lain-lain. Nah, biasanya anak-anak yang memiliki kecenderungan kecerdasan logis matematis ini akan menunjukkan minatnya tehadap kegiatan eksplorasi. Selalu menuntut penjelasan yang logis dari setiap pertanyaannya dan mereka sangat suka sekali mengklasifikasikan benda-benda.



    Apakah kecerdasan logis matematis ini sangat penting? Sebagian orang memang mengunggulkan kecerdasan ini dan menganggap jauh lebih penting dari kecerdasan yang lain. Bahkan konsep penilaian IQ juga bersandar pada logika matematika. Meskipun ada multiple intellegences yang dapat menjadi pilihan untuk mengembangkan kecerdasan yang lain sesuai dengan kecenderungan dan minat anak, namun bukan berarti kecerdasan logis matematis dikesampingkan. Karena kecerdasan ini sangatlah penting dan diperlukan supaya orang menjadi melek angka dan berpikir logis. Memiliki kepekaan terhadap makna angka dan dapat menangkap masalah penting dalam berbagai bidang kehidupan.


    Namun yang perlu kita garisbawahi adalah, logis matematis dengan pelajaran matematika adalah dua hal yang berbeda . Matematis logis bisa kita ajarkan sejak balita. Logis matematis tidak selalu berkaitan dengan hitung-hitungan, melainkan berkaitan dengan logika sehari-hari. Logis Matematis adalah tentang penggunaan logika dan nalar dalam memecahkan permasalahan sehari-hari. Sehingga kemampuan ini perlu kita kembangkan sedini mungkin kepada anak-anak. Dengan berupaya melakukan kegiatan yang akan menstimulus anak memunculkan dan mengembangkan kemampuan matematis logis ini. Banyak cara dan beragam kegiatan dapat dilakukan untuk menstimulus kecerdasan ini. Seperti apa yang yang dilakukan Aqila hari ini, meskipun sederhana dan terlihat sepele, namun kegiatan ini dapat bermanfaat untuk melatih kecerdasan logis matematisnya. Aqila kuajak untuk mencari bunga- bunga yang ada di sekitar rumah dan saya yang memetik daunnya. Setelah itu kutempelkan bunga dan daun pada sebuah kertas hvs secara acak lalu kuminta Aqila untuk memasangkan bunga dengan daunnya dengan menarik garis. Sebagian besar Aqila dapat melakukannya dengan benar namun dia sedikit terkecoh dengan dua jenis bunga krokot yang berbeda warna dan bentuk daunnya. Sambil tertawa karena ia ragu-ragu dan merasa salah, iapun berlari ke halaman rumah untuk mencocokan dengan bunga yang sebenarnya. Dia menyampaikan hasil kerjanya mencocokan bahwa bunga krokot yang bermahkota bertumpuk memiliki bentuk daun yang lancip sedangkan bunga krokot bermahkota lapis satu memiliki bentuk daun yang agak lebar.

    Mencocokkan juga bagian dari proses stimulasi berpikir logis. Dimana anak akan mulai membandingkan untuk mengetahui cocok atau tidaknya sesuatu. Pada usia 3-4 tahun, pemahaman tentang konsep berhitung sudah mulai tampak. Dengan konsep berhitung yang dimiliki, anak akan mampu mengembangkan konsep mencocokkan. Mampu mencocokkan bentuk, warna, ukuran, bilangan, pola dan lain-lain. Dalam hal ini, Anak berada dalam tahap praoperasional menuju tahap operasional konkret. Pada tahap praoperasional anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, sehingga orangtua dapat menstimulasi anak untuk mengembangkan kemampuannya dengan cara mencocokkan bentuk, warna, ukuran, bilangan, pola dan lain-lain.













    Baca Juga ya


    Kamis, 10 Januari 2019

    MENSTIMULUS ANAK SUKA MEMBACA
    Bagian 1





    Orang tua mana yang tak bahagia jika memiliki anak yang senang membaca? Tentunya kita semua akan sangat senang sekali jika memiliki putra putri yang akrab dengan buku dan dunia bacaan. namun, masih sangat sedikit sekali kita jumpai anak-anak yang senag dengan aktivitaas membaca ini, jangankan menjadi kutu buku, membuka buku saja anak-anak sudah malas. Nah ini adalah suatu kondisi yang harus disikapi dengan baik oleh para orangtua. Mengapa membaca itu menjadi sesuatu yang sangat penting dan seharusnya menjadi kebutuhan hidup manusia? Tentunya bukan hanya sekedara agar kita mendapatkan pengetahuan dan mampu membuka cakrawala dunia saja. Namun lebih daripada itu, diharapkan dengan membaca kita akan menemukan hakikat diri kita dan mengenal sang Pencipta. Sehingga dengan bertambahnaya ilmu pengetahuan, maka bertambahlah tingkat keimanannya.

    Baca Juga ya

    Kesungguhan untuk berupaya mendekatkan anak dengan buku harus senantiasa ditunjukkan. Tentunya jika berharap anak senang membaca, maka orangtuanyapun juga harus serius dan antusias membaca juga. So..jadilah orangtua pembaca. Jika aktivitas membaca ini sudah menjadi habbit orangtua maka anak akan penasaran dengan apa yang dilakukan orangtuanya, dia akan meniru perbuatan orangtuanya ini. Nah berangkat dari snilah kita akan menjadi mudah mengenalkan anak pada buku dan dunia bacaan. apalagi jika anak kita masih balita ynag masih memiliki kecenderungan menirunya sangat kuat, maka hal ini akan menjadi keuntungan bagi orangtua untuk mengenalkan buku pada anak tanpa repot-repot memberinya penjelasan Panjang lebar mengapa kita harus rajin membaca. Kita dapat memulainya dari hal yang paling anak sukai, misalnya dengan membacakan buku cerita bergambar. Bersama dengan si kecil kita dapat memperlihatkan gambar-gambar yang menarik dan menceritakan gambar tersebut, dengan cara ini pun kita dapat menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada si anak. Tentunya kebersamaan seperti ini akan menjadi sangat bermakna dan hangat.


    Saya sudah mengenalkan buku kepada aqila sedini mungkin, tepatnya usia berapa saya agak lupa. Namun usia Aqila saat ini memasuki usia ke 3,5 tahun. Dia sudah sering sekali meminta dibelikan buku cerita bergambar. Sesekali meminta ibu dan ayahnya membacakan ceritanya, selebihnya ia membaca dan bercerita sendiri dengan buku yang sama hingga berulang-ulang. Padahal dia samasekali belum bisa membaca. Namun dengan dibacakan cerita sekali saja, Aqila sudah mampu enangkap alur cerita di setiap gambarnya. Sehingga kegiatan yang paling serring dia lakukan Bersama bukunya adalah dengan bercerita sendiri dan seolah-olah sedang membaca buku. Koleksi bukunya pu sudah mulai banyak, dari komik, dongeng, majalah anak, hingga ensiklopedi.

    Baca Juga ya

    Biasanya kegiatan membaca Aqila masih suka-suka. Asal dia senang, dia akan memilih secara acak bukunya, atau buku yag sedang digemarinya dia akan membacanya berulang-ulang. Samasekali tidak terstruktur dan tidak terencana. Namun setelah saya mendapat ilmu baru dari perkuliahan bunda sayang IIP, sekarang saya mulai membuat perencaan. Pertama semua buku milik Aqila saya keluarkan untuk dapat dilihat kembali oleh Aqila. Saya meminta Aqila memilih 5 sampai 10 buku atau majalah yang sangat dia sukai dan ingin dibaca. Setelah ia memilih , saya meminta izin kepadanya untuk mengembalikan buku-buku yang lain ke dalam lemari buku. Kemuadian saya membuat reading tracker untuk memudahkan saya membuat list buku yang akan dibaca dan menandai halaman-halamannya. Selanjutnya adalah membuat pohon literasi yang kami buat berdua dan daunnya akan ditempelkan Aqila, manakala ia telah selesai membaca suatu buku atau majalah. Kami membuat pohon literasi dengan alat dan bahan seadanya dikarenakan kondisi saya saat ini masih dalam keadaan nifas yang tidak memunginkan saya untuk keluar rumah untuk membeli peralatan-pralatan yang dibutuhkan. Tak ada wall paper pohon, maka kertas bekas kalender pun jadi, kami gambar sebisanya Bersama Aqila lalu kami tempelkan di dinding. Dengan kegiatan seperti ini saja Aqila sudah sangat senang sekali. Bahkan setiap kali ia melihat pohon litersinya ia sellalu meminta dibacakan buku lagi.

    Baca Juga ya

    Kali ini Aqila memilih membaca majalah “permata” kesukaannya. Karena kecenderungan belajarnya adalah naturalist, maka dia pun memilih bacaan yang bertema alam. Dia melihat pada sebuah gambar yang menunjukkan berbagai manfaat besi. Seperti tralis rumah kami yang pernah dilihatnya telah berkarat. Dari sumber bacaan ini, ia menemukan jawaban mengapa besi dapat berkarat. Sudah tiga kali ini saya membacakan halaman berjudul “ Besi” ini, saking Sukanya seperti tak bosan ia minta dibacakan lagi.

    Ini cerita saya hari ini tentang menstimulus anak suka membaca, bukan hanya sekedar bisa membaca ya bunda.. tapi menumbuhkan kesukaan, keasyikan dengan dunia bacaan hingga ia dapat menemukan makna dari apa yang dibacanya. Tak masalah jika anak belum bisa membaca, dengan kebiasan yang kita bangun berawal dari kegemaran membaca yabg dimiliki orangtuanya, maka semangat ini insyaallah akan menginduksi anak untuk turut suka membaca. Izinkan anak-anak kita untuk memilih buku bacaannya untuk menumbuhkan keasyikannya dan jangan memaksakan mereka untuk mengubah pilihannya agar sesuai dengan pilihan anda. Besabarlah, biarkan dia perlahan lahan untuk dapat mengubah pilihannya dengan kemauannya sendiri.

    Jumat, 14 Desember 2018


    MENJAJAKI GAYA BELAJAR ANAK DENGAN BERAGAM KEGIATAN
    “ MELOMPAT DAN MENITI”



    Usia dini atau sering disebut dengan usia pra sekolah dimana anak masih berada pada masa ketika anak belum memasuki Pendidikan formal. Rentan waktu ini sangat baik sekali untuk para orangtua dapat mengembangkan potensi dan kecerdasan anak. Melakukan pendampingan dan memberikan arahan untuk pengembangan potensinya akan sangat berpengaruh pada kehidupannya dimasa yang akan datang. Peluang terbesar dan terbaik untuk anak dapat menyerap informasi dan pengetahuan adalah pada anak masih berada pada usia dini dibandingkan dengan ketika anak-anak telah beranjak dewasa. Hal ini disebabkan salah satunya adalah karena otak anak usia dini belum terkontaminasi oleh berbagai macam pengetahuan dan perkembangan otak pada masa usia dini sedang berada pada perkembangan yang pesat.

    Baca Juga ya



    Percayakah anda, bahwa kecerdasan anak berawal dari permainan. Bagi anak-anak, bermain adalah sarana untuk mengubah kekuatan potensi dalam diri menjadi sarana penyalur kelebihan energi dan relaksasi. Dengan bermain mereka akan banyak belajar tentang hukum alam dan berhubungan dengan lingkungan. Dan yang lebih penting lagi adalah, bermain merupakan kegiatan yang dapat mengembangkan potensi anak dalam berkreasi sesuai kemauannya tanpa paksaan dan hambatan untuk melatih fisik dan mental supaya anak dapat lebih mengenal dirinya dan lingkungannya.

    Melalui bermain kita dapat melihat dan mengamati setiap perkembangan yang terjadi pada diri anak, selain itu kita juga dapat mengembangkan potensi kecerdasan anak dengan beragam metode untuk semua aspek kecerdasannya baik di ranah kognitif, afektif dan psikomotornya, Mengamati kecenderungan kecerdasan dan gaya belajarnya. dan tentunya di usia dini juga, kita perlu mengasah semua kemampuan anak di setiap ranah kecerdasan yang secara natural ada dalam diri anak secara keseluruhan. Biarkan jika beberapa atau salah satu kecerdasan dan gaya belajarnya muncul lebih optimal dan lebih dominan sebagai kecenderungannya. Karena jika kecerdasan dan gaya belajarnya telah Nampak yang paling dominan, tahap berikutnya adalah tinggal memberikan pendampingan secara terarah, pemberian fasilitas belajar secara tepat dan sesuai kebutuhan belajarnya serta ketepatan dalam proses pengembangannya. 

    Masih dalam rangka menjajaki gaya belajar Aqila, selain ingin mengasah semua kemampuan potensi kecerdasannya, saya juga perlu mengetahui gaya belajarnya yang paling dominan mealalui beragam kegiatan yang saya lakukan bersamanya. Kali ini adalah melaui permaian fisik yang akan melatih tingkat kefokusan dan keseimbangan tubuhnya. Setiap kegiatan bermain akan menuntut keaktifan secara fisik dan mental dengan cara yang menyenangkan. Maka dengan aktivitas bermain ini , anak pasti akan sangat merasa senang dan bahagia karena menikmati permainan. Dan yang paling penting bagi kita sebagai orangtua, kita tidak boleh memaksakan kegiatan bermain kepada anak dengan permainan-permainan yang memang tidak disukai oleh anak. Jika kita memiliki misi, maka sebaiknya tawarkan kepada anak jenis permainannya, apakah dia suka atau tidak. Kalau anak tidak suka ya jangan dipaksakan. Rubah permainan atau modifikasi bentuk permainannya.




    Setiap permainan yang saya lakukan Bersama Aqila selalu melibatkan gerak tubuh dan olah fisik karena semua aktivitas bermain akan menuntut anak menggerakkan tubuhnya. Seperti halnya dengan permainan yang kami lakukan ini, yaitu melompat dan meniti pada sebuah kayu balok untuk menyeberangi suatu parit. Melompat saat bermain engklek ternyata sangat menyenangkan bagi Aqila, namun butuh beberapa waktu untuk mengenalkan permainan ini kepadanya. Termasuk cara bermain dan mencontohkannya agar ia mengerti dan dapat melakukannya sendiri. Saya masih sangat mengingat sebuah kejadian saat Aqila berusaha untuk dapat melakukan gerakan senam secara teratur, tak dapat ia pahami jika hanya melihat saja dari video di layar laptop. Namun harus dengan arahan dan mencontohkannya langsung melalui kontak fisik.




    Dari pengalaman itu, saya pun menggunakan metode yang sama. Tidak cukup dengan memperlihatkan gerakan di hadapannya, namun dengan menjelaskan melaui kalimat verbal dan harus membersamianya saat melakukan gerakan-gerakan melompat pada permainan engklek. Kegiatan semacam ini dapat melatih kekuatan otot dan keseimbangan. Kegiatan meniti atau berjalan dia atas papan dapat dilakukan pada anak yang sudah berusia 3-4 tahun. Pernah saya mencobanya saat Aqila masih berusia 2 tahunan, ternyata dia belum memiliki kepercayaan diri yang baik, bukannya berjalan meniti tapi justru merangkak. 



    Baca Juga ya








    Namun, untuk melatih kepercayaan dirinya pada saat itu, saya memegang erat tangannya sebagai kode yang seolah ingin kukatakan bahwa ibu ada disampingmu dan menjagamu, maka percayalah pada ibu. Perlahan-lahan dengan berpegangan pada tanganku Aqila berjalan di atas papan. Ketika sukses berkali-kali, iapun melompat kegirangan. Nah, barangkali ia mengingat moment ini saat saya memintanya lagi meniti diatas balok kayu yang melintang diatas parit  Dan dia tertawa sendiri kemudian menunjukkan kelincahan dan kemahirannya di hadapanku tanpa arahan dan penjelasan apapun dariku. Nah, ini juga merupakan sebuah tanda bahwa ia juga telah memiliki kemampuan mengkonstruk sebuah informasi, pengetahuan dan pengalamannya untuk dapat melakukannya dengan lebih baik.



    #harike17
    #Tantangan10hari
    #GameLevel4
    #GayaBelajarAnak
    #kuliahBunSayIIP



    Kamis, 13 Desember 2018


    MENJAJAKI GAYA BELAJAR ANAK DENGAN BERAGAM KEGIATAN
    “ MEWARNAI GARAM”



    Dari kegiatan kemarin dilakukan Aqila, yaitu mengenal bumbu dapur melalui bentuk, tekstur dan aroma, ada satu kegiatan tambahan yang membuat Aqila menjadi begitu asyik melakukannya. Karena bahan-bahan masakan yang paling banyak ditemui dan berlimpah adalah garam, Aqila tanpa sengaja menghamburkannya dari bungkusnya. Jadilah garam-garam itu bertebaran di lantai. Awalnya kupikir oh..pekarjaan baru nih. Harus menyapu, mengumpulkan garam dan mengepel. Karena tentu saja garam-garam yang telah mencair akan menjadikan lantai menjadi lengket dan licin. Tapi karena sedang sibuk membereskan yang lain dan akupun harus melanjutkan aktivitas memasak, ku biarkan saja dulu keadaan ini. Kutinggalkan Aqila dengan garam-garamnya di lantai teras rumah. Sementara aku melanjutkan aktivitasku di dapur. Ketika sedang berbenah dan memasukkan beberpa barang ke dalam lemari makan, aku melihat ada tiga botol pewarna makanan yang masih bisa digunakan. Munculah inisiatof untuk meniru sesuatu yang pernah dilakukan sesorang dalam sebuah buku, namun saya lupa buku apa itu. Okelah daripada Aqila main sendirian tanpa tujuan, lebih baik kuberikan dia permainan baru untuk menyibukkannya yaitu “ mewarnai garam”.


    Baca Juga ya


    Kupanggil Aqila dengan nada dan wajah gembira.
    “ kakak Aqila…”
    “ iyya bu..” jawabnya.
    “ tolong ke dapur sebentar bisa?” pintaku.
    “ ya bu…” dia berlari menghampiriku yang sedang berada di dapur.
    “ apa bu?” tanyanya.
    “mmmm..kakak masih main sama garamnya?” tanyaku memancing .
    “ masih bu…garamnya jadi banyak deh bu.” Ungkapnya sedikit ragu-ragu.
    “ hehe..itu bukan jadi banyak kak, tapi karena terlepas dari wadahnya garamnya berserakan dan kemana-mana. Jadi terlihat banyak.”
    “ apa ibu panggil aku mau marah karena garamnya tumpah?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi.
    “ ya enggaklah kak, ibu malah mau kasih ini ke kakak.” Sambil kutunjukkan ketiga pewarna makanan kepadanya.
    “ wah..pewarna bu? Untuk apa?”
    “ untuk warnain garamnya.” jawabku
    “ sama ibu ?”
    “ masakan ibu belum matang kak, jadi kakak main sendiri dulu bisa?”
    “ bisa…nanti kalau udah matang sayurnya, temenin aku lagi ya?”
    “ pasti kak..”
    “ tapi…gimana caranya aku warnain garamnya bu?”
    Siiip…stimulus yang mengena pikirku.
    “ oh..mudah sekali, kakak ambil sapu ya, garamnya kumpulin dulu.”
    “ iya bu..”
    dia bergegas mengambil sapu dan menyapu garam-garam yang berserakan dengan kemampuannya menyapu. Meski tentu tidak bersihnya, namun dia mengerjakannya dengan baik, hingga garam-garam itu terkumpul juga. Aku hanya mengamatinya dari kejauhan sembari mengerjakan beberapa tugasku. Kulihat ia menghampiriku lagi.
    “ udah selesai bu ngumpulinnya garamnya, trus garamnya tarok mana bu?”
    “ iya sebentar ya sayang ibu lihat dulu” aku berjalan bersamanya menuju teras rumah dan benar saja melihat tumpukan garam telah menjadi satu. Namun kulihat garam-garam ini sudah kotor bercampur dengan pasir dan tanah hasil kreativtasnya bermain tadi. Artinya Sudha tidak bisa digunakan lagi.
    “oh.. kakak ambil cikrak plastic itu ya untuk buuang garamnya.”
    “ kok dibuang bu? Katanya mau untuk main lagi?” tanyanya penasaran.
    “ iya kak, maksud ibu gitu..tapi garamnya dah kotor tu campr pasir sama tanah. Lebih baik kita bersihkan dulu tempatnya dan kita ambil garam yang baru.”


    Baca Juga ya

    “ hehe…ibu maaf ya tadi aku pura-pura masak nasi.”
    “ iya nggak apa-apa, oke sekarang kita bersihkan sama-sama ya tempatnya, Aqila mau kan?”
    “ iya bu..makasih ibu sudah baik.”
    “ sama-sama kak, maksih juga kakak sudah pinter.”
    Setelah semuanya selesai dibereskan dan sedikit terlihat nyaman, barulah aku memulai memberinya penjelasan permainan mewarnai garam.
    Satu-satu kuintruksikan kepadanya tentang apa yang harus dilakukannya.
    “ kak, buka dua bungkus garamnya dan tuang di nampan ya.” Pintaku.
    Sementara itu aku mengepel bagian dalam rumah yang lantainya kotor karena jejak kaki Aqila yang terkena lelehan garam.
    Ku intip dia telah melakukannya dnegan baik. Ya..tepat hanya dua bungkus dia membuka garam dari wadahnya.
    “ kak kalu sudah bagi jadi tiga di cawan-cawan kecil yang udah ibu siapin di situ ya.”
    “ iya bu…pake sendok ya bu.”
    “ iya kak, pinter kamu.”
    Nah saat mengintip lagi, meskipun tidak terbagi secara rata, namun telah terbagi tiga. Nggak masalah lah. Bisa dilanjut kok.
    “ udah belum kak?”
    “udah bu…”
    “ abis itu setiap cawan garamnya kasih pewarna ya.. kalau tiga berarti pakai semua pewarnanya.”
    Selesai sudah kegiatan mengepelku dan aku segera meluncur ke teras tempat Aqila bermain. Dan kudapati dia sudah mulai mengaduk-aduk garam dengan pewarna makanan. Wah ..bisa juga ya Aqila melakukan itu walau intruksi yang kuberikan hanya dari kejauhan. Mungin karena dia mau dan senang melakukannya ya, sehingga hal itu menjadi mudah saja baginya. Tapi ada hal yang telah kudapatkan dari beberpa kegiatan yang kulakukan bersamanya untuk menstimulus muncunya kecenderungan gaya belajarnya. meskipun Aqila dapat menangkap dan mengolah informasi melalui beberapa metode stimulus gaya belajar dengan metode visual,auditory dan kinestetik sekaligus, tapi selama ini aku melihat kecenderungannya yang paling menonjol adalah auditory. Dia sangat cepat dan mudah dalam merespon tatkala mendengar  infoormasi dan dia sanagt suka berhubungan dengan oranglain melaui dialog dan senang diajak diskusi. Kalaupun dia mampu merespon dan memahami informasi dengan gaya belajar yang lain, itu karena fitrahnya seorang anak kecil yang sednag bertumbuh dan berkembang dengan mengoptimalkan seluruh inderanya.

    Baca Juga ya


    Setelah selesai mewarnai garam di ketiga cawan yang ada, aku memintanya untuk meletakkan semua garam berwarna itu di sebuah gelas bening secara berurutan. Dan jadilah pelangi garam dengan tiga warna yang tampak sangat indah sekali. Ah..Aqilaku yang keren sangat bangga sekali dengan hasil karya dan kerjanya. Sebenarnya akan lebih baik jika garmnya dijemur dulu supaya lebih kering, karena garam yang baru dibuka dari bungkusnya masih sangat basah dan jika memungkinkan permainan ini dapat dibuat dengan tujuh warna pelangi. Sekalian untuk mengingatkan atau mengajarkan urutan-urutan warna pelangi.untuk anak usia 2 tahun, kegiatan ini sangat baik untuk pengenalan warna pelangi, recall colour, meningkatkan life skil dalam hal menyendok dan melatih kepercayaan diri. 











    Terkait dengan manfaat permainan ini, alhamdulillah Aqila telah mahir dalam menyebutkan warna, urutan warna pelangi, ketepatan menyendok dan tingkat kefokusan dengan kepercayaan diri yang kunilai telah baik. Jadi Sebenarnya Kegiatan ini sengaja  kulakukan untuk mengatasi permasalahan yang terjadi. Disaat garam-garam berserakan dan beberapa aktivitas rumah yang belum kuselesaikan, sehingga kondisi ini kumanfaatkan untukk menyibukan Aqila sekaligus sebagai jeda waktu untuk kumanfaatkan menyelesaikan pekerjaanku. Selain itu, dengan kegiatan ini, aku tetap bisa menstimulus dan mengamati gaya belajar Aqila melalui komunikasi produktif, intruksi langsung dan dialog. 

    #harike16
    #Tantangan10hari
    #GameLevel4
    #GayaBelajarAnak
    #kuliahBunSayIIP
    ADVERTISEMENT
    ADVERTISEMENT

    ANDROID SOURCE CODES MURAH

    ADVERTISEMENT

    IKUTI KAMI

    Total Pageviews

    Popular Posts

    ADVERTISEMENT

    Aqila Nyanyi - Naik Delman

    IKUTI FANSPAGE KAMI

    Unordered List

    Text Widget