Tampilkan postingan dengan label CERDAS FINANSIAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERDAS FINANSIAL. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Mei 2019

CERDAS FINANSIAL 17
“Berbagi Itu Indah”



Usai sholat Subuh, keluarga kami biasa melakukan kegiatan marathon bersama. Dalam perjalanan pulang, kakak Aqila melihat sebuah pohon jambu biji yang lebat buahnya tepat di pinggir jalan. Namun sayang, pemilik pohon  jambu biji itu tidak ada di tempat karena jarak rumah dan pohon itu cukup jauh. Namun meski begitu, saya tetap meminta kakak Aqila untuk meminta izin kepada pemiliknya.

Kakak Aqila minta dipetikkan beberapa buah yang terlihat masak. Setelah mendapatkan 7 buah jambu biji yang masak, datanglah sepupu kakak Aqila menghampiri. Ia juga menginginkan buah jambu biji itu. Saya katakan, petik buahnya sudah cukup, jadi jambu biji itu akan kita bagi di rumah. Sesampainya di rumah mereka berdua menghitung jumlah jambu biji dan membaginya. Maksud hati ingin dibagi sama rata. Tapi mereka menemui masalah karena jumlah jambu biji itu ganjil. Terjadilah drama rebutan di antara mereka sehingga salah satunya menangis. Karena tak tahan mendengar aksi rebutan, berkelahi dan tangis yang keras, sang nenek berinisiatif untuk memetikan lagi buah jambu biji di pekarangan tetangga. Namun, saya berusaha mencegahnya. Karena masih bisa diatasi dengan cara lain. Jambu biji yang tersisa saya belah menjadi dua dan saya berikan kepada keduanya. masing-masing mendapatkan setengah bagian. Karena hanya setengah, mereka pun cemberut.  Tampak ada rasa tak terima dan tak puas . Tapi pada akhirnya pertikaian diantara mereka mereda meskipun menyisakan kedongkolan dan kemarahan. Namun hal itu harus mereka hadapi, bahwa tak semua hal yang kita inginkan bisa seutuhnya menjadi milik kita. Bahkan bisa saja kita juga tak bisa memilikinya. Inilah pentingnya rasa cukup dan menerima apa adanya.

Ada hal menarik dari pengalaman ini. Yang pertama, kita perlu memperhatikan keberkahan rezeki kita. Meskipun tak ada yang melihat, wajib bagi kita meminta izin kepada pemilik buah jambu biji itu. Supaya apa yang dimakan menjadi rezeki yang halal dan berkah. Pelajaran buat kakak Aqila supaya terbiasa untuk meminta izin jika menginginkan buah milik tetangga. Karena apa yang dimakan itulah yang masuk ke dalam perut dan akan mengalir ke dalam darah. Dan kehalalan suatu makanan akan menentukan kebaikan darah yang mengalir dalam tubuh. Yang tanpa disadari akan sangat berdampak pada perilaku dan akhlak seseorang. Kedua, belajar berbagi meskipun diri sendiri sangat membutuhkan atau sangat menyukai suatu benda milik kita dan belajar menunda kepuasan diri. Kedua hal tersebut adalah dasar yang sangat penting untuk ditanamkan kepada anak manakala kita hendak melatih kecerdasan finansial kepadanya.

Seringkali diantara kita, merasa tidak nyaman dengan teriakan anak karena anak-anak bertengkar memperebutkan sesuatu. Baik mainan maupun makanan. Ketidaknyamanan ini akan menjadikan seribu upaya orang tua untuk melerai konflik yang terjadi diantara anak anak dan bahkan mengusahakan agar konflik itu tidak terulang lagi. Misalnya saja, saat anak-anak mulai berebut makanan, banyak diantara kita yang enggan menyelesaikan konflik rebutan ini dengan berbagi. Kita  cenderung lebih memilih memberikan mereka masing-masing dengan jumlah yang sama. Jika anak nya ada dua maka makanannya juga dua dan seterusnya.

Hal ini kita pikir tak akan menimbulkan masalah di awalnya, namun ternyata berdampak cukup serius bagi kehidupan anak-anak di masa yang akan datang.  Apa dampaknya? Diantara mereka tak ada kedekatan satu sama lain. Mereka hidup sendiri-sendiri meskipun mereka saudara kandung. Mereka jarang saling tolong menolong saat salah satu diantara mereka membutuhkan pertolongan, yang lain tidak peduli. Yang ada pada diri anak-anak hanyalah memikirkan kehidupannya sendiri.


Inilah pentingnya pengajaran berbagi sejak dini. Jangan sampai fasilitas yang dimiliki orang tua menjadi alat menyelesaikan konflik secara instan tanpa memikirkan akibatnya. Dengan memberi barang masing-masing pada tiap anak, membuat mereka kurang memiliki pengalaman berbagi.

Meskipun dengan berbagai ini akan memicu timbulnya masalah, namun demikian anak-anak akan belajar dan merasakan banyak hal. Mereka akan merasakan indahnya kasih sayang , belajar menunda kepuasan dan belajar berempati.

Sebagai umat islam, kita diperintahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah bagi kaum miskin saat idul fitri. Perintah ini berlaku untuk semua manusia dan semua umur. Dari bayi hingga orang sepuh. Artinya apa? Bahwa sesungguhnya berbagi itu harus dibiasakan sedini mungkin. Jika memungkinkan, ajak anak untuk memberikan langsung pada mereka yang membutuhkan. Nah, ibrohnya adalah jika anak tidak dibiasakan berbagi sejak kecil, maka saat dewasa mereka akan sulit untuk menolong sesama.


#IbuProfesional
#BundaSayang
#Level8
#Tantangan10Hari

ADVERTISEMENT

Jumat, 10 Mei 2019

CERDAS FINANSIAL 16
“ Melek Finansial”


Sepulang dari rumah nenek, kakak Aqila dengan bangganya menunjukan beberapa lembar uang kertas yang didapatkan dari nenek nya. Dia masih ingat betul bahwa uang diberikan itu diperuntukan untuk menabung. Sempat ia bertanya kepada saya untuk apa kita harus susah -susah menabung. Karena menabung itu waktunya lama dan tidak bisa segera dimanfaatkan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Meskipun ia bertanya demikian, saya berusaha menjelaskan kepadanya bahwa  dengan menabung itu wujud kedisiplinan kita terhadap uang. Apalagi saat ini adalah bulan puasa dan akan menghadapi hari raya yang pasti ia akan mendapatkan uang saku yang cukup banyak dari saudaranya. Sehingga waktu sekarang ini harus saya manfaatkan sebaik mungkin supaya kakak Aqila melek financial.

Kebiasaan menabung sebenarnya merupakan salah satu kunci kecerdasan dan keberhasilan finansial. walaupun sepertinya memakan waktu lama, menabung itu menguntungkan masa depan. Tapi kebanyakan orang sekarang ini, segalanya ingin cepat dan langsung mendapat dalam jumlah yang besar. Bukankah yang besar dan banyak itu, dimulai dari yang kecil dan sedikit.

pendidikan finansial atau “melek finansial” sudah harus diajarkan sejak anak masih kecil. Melek finansial bisa menumbuhkan disiplin anak dan membantunya mengelola uang secara tepat.

Dalam mengajarkan  melek finansial kepada anak tidak bisa terlepas dari faktor orangtua sebagai teladan. Orangtua harus memberikan contoh dulu sebelum mengharapkan anak mampu memiliki kecerdasan dan keterampilan financial yang baik.

Menabung berarti mengumpulkan uang untuk suatu tujuan tertentu dalam kurun waktu tertentu. Menabung berkaitan erat dengan kedisiplinan. Sebelum usia sekolah, celengan bisa dijadikan sarana latihan. Setelah usia sekolah, kita dapat membiasakan anak untuk memberikan target tabungan dalam jangka waktu tertentu sehingga mengisi tabungan menjadi rutin. Ajarkan prinsip bahwa jumlah uang yang bisa disimpan lebih penting dari pada jumlah uang yang bisa didapat.

Jangkauan berpikir seorang anak belum seluas orang dewasa. Apa yang penting untuk kita, belum tentu penting bagi mereka, sesuatu yang kita inginkan mereka belum tentu setuju dan kemungkinan besar malahan akan membantah, juga melakukan kesalahan-kesalahan dalam mengelola uangnya adalah hal-hal yang akan kita hadapi dalam proses mengajarkan pengelolaan uang pada anak.

Namun, bukankah cara anak kita belajar tentang uang sama dengan cara kita belajar tentang uang juga hal-hal lain yang sangat penting dalam hidup ini. Yaitu dengan selangkah demi selangkah membuat makin sedikit kesalahan dan menjalani konsekuensinya. Karena itu memaksakan logika berpikir orang dewasa kurang tepat diterapkan kepada anak-anak. Artinya jika kita ingin mengajarkan nilai uang pada anak, tempatkan diri kita terlebih dahulu pada posisi mereka. Ada Tiga konsep pendekatan yang bisa membantu Kita membangkitkan kecerdasan finansial untuk anak kita yaitu:

1 . Menabung Dengan Gembira.
2 . Konsep Kebebasan Mengambil Keputusan.
3 . Konsep Orang Tua Sebagai Teladan.

Maka dari itu, cara terbaik untuk mengajarkan uang kepada anak-anak adalah dengan menjalani hidup dimana uang digunakan dengan tepat dan selalu memberikan teladan yang baik tentang penggunaan uang.

#IbuProfesional
#BundaSayang
#Level8
#Tantangan10Hari


Rabu, 08 Mei 2019

CERDAS FINANSIAL 15
“Sepiring Nasi”



Sudah beberapa hari anak kecil berusia 4 tahun itu selalu cemberut saat berada di meja makan. Dia tidak mau menyantap makanan yang telah terhidang di hadapannya. Seringkali ia mengatakan bahwa ia tak suka makanan yang sudah susah payah dimasak oleh ibunya.

“ ibu, aku nggak mau makan. Nggak selera.” ujarnya penuh kesal.

“ ini yang ada nak, syukuri makanan ini dan makanlah.” jawab sang ibu yang sama kesalnya.

“ ibu tiap hari ngomongnya bersyukur terus.”

Saya merasa anak ini merasa tidak nyaman ketika ibu dan ayahnya memintanya untuk bersyukur. Saya berusaha mencari tahu apa yang salah dari komunikasi seperti ini. Dan benar saja peristiwa yang tidak hanya satu kali terjadi itu menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman antara anak dan orangtua.

Ada hal yang terlupa dari kami, bahwa kami sering menganggap anak dengan usia  empat tahun itu sudah paham dengan konsep syukur. Sehingga kata-kata syukur sering terungkap supaya si anak mau menerima keadaan yang sebenarnya tidak diinginkannya. Tentu saja pesan yang disampaikan oleh orangtua tidak sampai kepadanya dan cenderung menjadi sebuah pemaksaan baginya.

Sebenarnya bagaimana kita harus memaknai rasa syukur itu? Saya kembali bertanya kepada diri sendiri dan mencoba mendiskusikannya dengan ayah. Bahwa sebenarnya syukur itu merupakan sebuah ungkapan baik dan positif yang didasari  perasaan bahagia dan rasa terimakasih. Perasaan syukur ini harusnya terungkap secara otomatis dan spontan saat dihadapkan dengan suatu keadaan, situasi dan peristiwa yang sangat diharapkan dan dirasakan memberi manfaat. Namun, karena salah penyampaian dan cara memberi pemahaman kepada anak, ungkapan positif ini justeru menjadi sebaliknya.

Bukankah setiap orang tua sangat menginginkan memiliki anak yang pandai bersyukur? Namun kita terlalu sering lupa memikirkan bagaimana caranya  dan justru lebih sering meminta anak melakukannya. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan saat kita meminta anak untuk bersyukur? Orang Tua seharusnya memberi banyak pengalaman yang membuat anak spontan memiliki rasa syukur.

Saya menginginkan anak saya mensyukuri makanan yang dihidangkan di hadapannya, tidak membuang nasi dan mau menghabiskan makanannya. Sehingga keinginan ini membawa saya untuk melakukan hal lain yang lebih dapat dipahami oleh anak. Saya mengajak anak saya keliling dusun untuk melihat aktivitas para penduduk di sini yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan pekebun.



Saya ajak kakak Aqila melihat tanaman padi di sawah. Ku ceritakan bagaimana para petani itu menanam padi, merawat dan menjaganya supaya dapat berbuah dengan baik. Perjuangan petani yang tak hanya ingin memperoleh makanan tapi juga uang supaya dapat membeli berbagai keperluan hidup lainnya. Tentu saja orang hidup tak hanya butuh makan saja. Mereka juga memerlukan tempat tinggal, pakaian dan membayar sekolah anak-anaknya. Dengan kegiatan ini Kakak Aqila tak menunjukkan reaksi apa-apa kecuali ia memahami sebuah profesi seorang petani dan apa saja yang dilakukan melalui ungkapan-ungkapan sederhana.

Selanjutnya saya ajak ia melihat pakde dan bude nya yang sedang menjemur padi yang sudah dipanen. Ia mengatakan,

“ bu kasian mereka harus jemur gabah ya bu? Harus diangkat-angkat dulu. Kan berat ya bu?”

“ ya begitulah kak, namanya juga petani. Biar kering gabahnya ya dijemur.”

“ kemarin hujan lho bu, mereka buru-buru sekali menutup gabahnya biar nggak kehujanan.”

“Iya nak, kalau hujan lebih repot lagi. Dan tentunya itu melelahkan.”

Keesokan harinya kami berkeliling dusun lagi dan melihat beberapa tetangga menggiling gabahnya dengan mesin penggiling gabah yang biasa berkeliling kampung. Kakak Aqila melihat profesi seorang penggiling gabah keliling dan melihat upah yang didapat orang itu.

“ ibu, kenapa orangnya tidak dapat uang bu?”

“ iya nak, kebanyakan penggiling gabah tidak menerima uang sebagai upahnya. Tapi mereka dapat upah dengan beras. Beras itu nanti akan dijual dan penggiling gabah akan dapat uang yang lebih banyak.”

“ oh...gitu ya bu. Jadi yang giling gabah dapat beras. Bisa langsung dimasak atau dijual ya bu?”

“ iya..betul sekali. Kita juga kan makan nasi to kak?” tanyaku memancingnya.

“ iya bu…”

“ sayang banget ya, kakak sering nggak habis makannya atau malah sering nggak mau makan. Padahal susah banget kak biar bisa dapat nasi.”

“ iya ya bu, kasian mereka harus tanam padi, menyemprot, jemur dulu, cari tukang giling.hhhh lamanya….”

“ nah...maka dari itu, kakak harus habiskan ya makannya.”

“ kan kita bisa beli bu.” ujarnya lagi.

“ ya memang si kak, tapi kita bisa beli kan harus ada uang. Nah...yang didapat dari kerja keras kak, lelah. Kayak tukang giling itu. Walaupun ayahmu bukan tukang giling capeknya sama lho kak. Namanya juga cari uang.” jawabku menjelaskan.

“ kasihan ayah kerja ya bu..dia juga pasti capek.”

“ iya sayang, maka ayah pasti senang kalau kakak makannya lahap dan habis. Selain itu kita juga harus berhemat ya kak.” lanjutku.


Sedikit demi sedikit kakak Aqila dapat memahami betapa panjang proses nasi hingga bisa ke atas meja makan. Hari ini, saya melihat dia bersemangat sarapan dan berusaha menghabiskan sepiring nasi yang ada di hadapannya. Inilah yang dikatakan oleh para ahli tentang hidden movement yaitu sebuah proses yang tidak terlihat. Jika anak memahami hidden movement, ia akan menjadi anak yang pandai bersyukur karena ia paham prose panjang di balik kehadiran suatu benda.

Apa yang dipikirkan anak tentu saja berbeda dengan orang tua. Karena pengalaman yang dialaminya juga berbeda. Maka untuk menanamkan sikap positif kepada anak apalagi anak usia dini, tak cukup hanya dengan nasihat. Tapi juga pengalaman secara langsung.

#IbuProfesional
#BundaSayang
#Level8
#Tantangan10Hari


CERDAS FINANSIAL 14
“ Secukupnya”


“Kak, ambil makanannya  secukupnya saja. Kalau kakak ambil semua belum tentu habis.” ujarku mengingatkan kakak Aqila yang sedang asyik membawa semua menu buka puasa.
Namun ia hanya berhenti dan berdiri menatapku.

“ ibu nih...secukupnya itu apa?” tanyanya heran.

“ secukupnya itu, kalau mau makan jangan melebihi kemampuan perut kita kak. Coba kakak lihat yang kakak siapin semuanya itu, sepertinya banyak banget. Ibu saja belum tentu habis lho.”

“ oh...maksudnya aku bawanya kebanyakan to bu?”

“heheh..iya..seperti itu maksudnya.” jawabku sedikit salah tingkah karena bahasa yang kugunakan mungkin sedikit ribet.

“ kata mamak juga gitu kok bu, kalau kita bawa-bawa barang harus cukup di tangan kita. Kalau gak cukup  nanti bisa jatuh katanya.”

“ iya kak sama. Bener tu kata mamak kalau barang yang dibawa melebihi kemampuan tangan kita, pasti barangnya akan jatuh. Makan juga gitu lho kak, kalau kebanyakan juga  pasti perutnya jadi sakit.” imbuhku.

“tapi aku mau makan semuanya lho bu..gimana ya?” ujarnya sambil mengernyitkan dahi.

“ kalau gitu makannya gantian. Sedikit-sedikit dan lanjut nanti lagi.” jelasku singkat.

Kumpuin semua buat buka puasa

Meskipun kakak Aqila tidak puasa, dia cukup bersemangat saat mendekati waktu berbuka. Ia menyiapkan semua makanan di hadapannya untuk dimakannya bersama dengan ayah dan ibu yang sedang berbuka. Dari es campur, empek-empek, semua jajan yang diberikan oleh mamak, dll. Semuanya dikumpulkannya jadi satu seolah ia ingin melahap semuanya sekaligus.

Nah, tahukah bunda bahwa konsep “secukupnya” juga merupakan konsep dasar dalam melatih anak untuk cerdas finansial. Selain itu juga kita dapat mengajarkan kepada anak  untuk tidak tamak. Siap berbagi dan mendahulukan orang lain. Begitupun dengan pengelolaan keuangan yang sudah semestinya ia harus siap berbagi, ingat bagian untuk orang yang lebih membutuhkan dan belanja secukupnya sesuai kebutuhan.


Kita juga sering melihat perilaku beberapa orang saat di depan meja prasmanan, banyak orang yang mengambil makanan melebihi jatah yang disediakan. Fenomena itu menjadi hal yang biasa di masyarakat kita. Kita akan melihat fenomena yang sama saat ada acara hajatan dan sejenisnya. Orang akan mengambil sebanyak-banyak nya tanpa memikirkan apakah makanan itu akan habis atau tidak.

Kata “ secukupnya” terlihat sangat sepele, tapi memiliki arti dan dampak yang sangat besar dalam kehidupan. Contohnya, realita yang terjadi saat terjadi banyak bencana longsor atau banjir. Berawal dari hal sepele yang tidak diperhatikan yaitu ‘ mengambil sesuatu hanya secukupnya’  tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Intinya adalah sesuai dengan kebutuhan. Bukankah tragedi tanah longsor biasanya diakibatkan oleh banyak nya pohon yang ditebangi secara besar-besaran? Ada Lagi fenomena yang marak terjadi di negeri kita. Pejabat-pejabat negara yang sudah kaya raya ingin menjadi lebih kaya lagi sehingga merwka melakukan korupsi. Inilah perilaku-perilaku yang melanggar sikap “secukupnya” yang dapat berakibat fatal.

Namun sikap “secukupnya” ini tidak kemudian ada dan datang dengan sendirinya melainkan perlu penanaman sejak dini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

#IbuProfesional
#BundaSayang
#Level8
#Tantangan10Hari


Selasa, 07 Mei 2019

CERDAS FINANSIAL 13
“ Rezeki Tak Akan Berkurang Karena Sedekah”

Yuk Sedekah...


Hal penting yang harus dimiliki oleh orang tua jika menginginkan anaknya memiliki kecerdasan finansial adalah dengan adanya kekompakan tim di rumah alias a home team. Siapa saja? Tentunya team ini terdiri antara ayah, ibu, dan anak-anak. Orang Tua harus siap menjadikan dirinya sebagai role model untuk anak-anaknya. sehingga mereka memiliki kecerdasan finansial. Tahukah anda bahwa pendidikan finansial berkaitan dengan parenting? Tentu saja kaitannya sangat erat ya bunda, manakala kita hendak menanamkan hidup sederhana, suka menabung, suka berbagi, tidak berlebih-lebihan dalam membeli sesuatu seharusnya anak-anak melihatnya langsung dari orangtuanya.


Apalagi di bulan puasa ini, kita mendapatkan momentum yang tepat untuk mengisi batin anak dengan hal-hal yang positif. Terutama untuk melatih anak cerdas finansial. Kita dapat mensinergikan antara pengelolaan keuangan dengan keimanan, kepedulian, atau rasa empati. Untuk menjadi anak yang sukses, jelas tak cukup dengan kemampuan kognisi saja. Namun tak kalah penting juga adalah sisi rohani anak yang harus diperkaya.

Antar makanannya bareng ayah

Wajib kita tanamkan kepada anak bahwa bukan harta, kedudukan, dan uang saja jaminan mendapatkan kebahagiaan hidup. Kita harus punya kemampuan mensyukuri apa yang kita terima dan miliki. Terkadang, justru bersyukur ini yang lebih sulit untuk dilakukan. Karena hal ini juga melanda para orang dewasa. Sehingga akan menjadi sulit mengajarkan cara bersyukur kepada anak apabila sebagai orang dewasa kita sulit melakukannya atau bahkan tidak pernah. Syukur bukan hanya mampu mengucap hamdalah ya Bu? Tapi banyak sekali cara untuk menunjukkan rasa syukur atas apa telah dimiliki.

Nah? Dengan demikian kita perlu membekali anak dengan nilai-nilai kehidupan untuk melindungi dirinya dari dunia yang semakin materialistis dan seringkali mengukur segala sesuatu dengan uang. Bahwa seseorang dinilai bukan dari apa yang dimiliki, melainkan dari kepribadian dan integritasnya. Sehingga apabila anak dibesarkan dengan asuhan dan didikan yang penuh kasih sayang, serta mengantarkan anak arah yang benar dengan cara yang benar, maka insya Allah, ia akan tumbuh menjadi insan yang paripurna. Manusia yang merasa sejahtera walau hidupnya tidak berkelebihan.

Sesuatu telah menyentuh hati, saat melakukan aktivitas untuk melatih si kecil berempati kepada orang lain. Dengan Menyisihkan sebagian hartanya dan merelakannya untuk berbagi dengan orang lain yang lebih membutuhkan. Kakak Aqila sempat bertanya kepada saya saat dalam perjalanan mengantarkan sedekah nasi yang kami lakukan setiap hari jumat.

“ ibu, kok kita harus menabung untuk orang lain? Uang kita dibelikan makanan untuk orang, lama-lama nanti uang kita habis gimana bu?”

“ kakak sayang, berbagi dengan orang lain itu perintah Allah. Kalau Allah yang perintah, berarti harus kita lakukan. Dan Allah juga lho yang menjamin harta kita nggak akan habis.”

“ kan setiap jumat uangnya diambil untuk dikasihkan orang, berarti akan cepat habis dong bu?”

“ iya, sekilas uang kita terlihat berkurang kak, tapi sebenarnya Allah sudah siapkan rezeki baru yang lebih banyak untuk kita, kalau kita ikhlas sedekah.”

“ apa iya bu.”

“ iya sayang, buktinya kita bisa makan setiap hari. Beras kita juga tetap masih banyak. Kakak bisa beli baju baru, itu berarti kita masih punya banyak dan nggak habis lho kak. Malah sama Allah semua rezeki kita akan ditambah.”


Walau sederhana, tapi kakak Aqila sudah ikut andil sedekah
Dia terdiam sambil manggut-manggut. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Tapi saya juga menyampaikan kepadanya bahwa uang hanyalah salah satu bentuk rezeki yang Allah berikan. Masih banyak bentuk rezeki lain yang juga wajib kita syukuri seperti badan yang sehat, teman yang baik dan ilmu yang kita miliki. Selain itu, tak lupa saya katakan kepadanya bahwa yang memberi rezeki itu Allah. Harta yang kita punya milik Allah yang dititipkan kepada ayah dan ibu. Pekerjaan ayah dan ibu adalah sebagai bentuk upaya untuk menjemput rezeki dari Allah.

Karena saat ini bulan Ramadhan agenda sedekah nasi hari jumat kami alihkan dengan memberi makanan berbuka puasa di masjid. Saat Ku sampaikan hal ini, alhamdulillah kakak Aqila semangat sekali. Dan tidak lagi bertanya seperti hari lalu. Bahkan ia sempat menyerahkan celengan infaqnya untuk membeli ikan sebagai lauk menu buka puasa. Dalam hati saya tertawa geli dibuatnya sekaligus senang dan terharu. Uang dalam toplesnya hanya berjumah tujuh ribu rupiah, dia berpesan kepada saya untuk dibelikan ikan. Ya sudahlah tak apa-apa, saya mengangguk tanda setuju. Yang penting kakak Aqila bersedia untuk berbagi dengan orang lain.

Kakak Aqila tak kalah heboh ikutan menyiapkan makanan untuk berbuka puasa orang-orang yang di masjid. Dia menawarkan dirinya untuk mengupas timun dan memotong sayuran. Hingga ia turut serta untuk menghitung jumlah makanan yang telah siap. Lalu saat makanan telah siap,ia juga mengantarkan makanan itu ke masjid bersama ayah. Dengan demikian ia pun juga merasakan bagaimana lelahnya dan berapa banyak energi yang diperlukan untuk menyiapkan semua makanan itu. Sehingga ia juga akan dapat menghargai pemberian dari orang lain.

Udah berapa ya...hitung dulu ah.

Selalu ada kebahagiaan dalam berbagi dan memberi, apapun bentuknya. Anak hendaknya dibentuk dan dibiasakan untuk mudah memberi. Sampaikan kepadanya bahwa masih banyak orang yang hidupnya sulit dan lebih susah dari kita. Kegiatan ini juga sekaligus mengajarkan anak untuk mensyukuri setiap apa yang dimiliki. Kalau mampu berbagi dan memberi, insyaallah kita juga akan memperoleh berkah yang lebih dari Allah Ta’ala. Aamiin.



#IbuProfesional
#BundaSayang
#Level8
#Tantangan10Hari

Minggu, 05 Mei 2019

CERDAS FINANSIAL 12
“ menghormati yang puasa”


Pilih apa ya...

Setiap hari pasti akan ada tukang sayur keliling yang mampir ke rumah kami menawarkan dagangannya. Seperti biasa, saya pasti akan membeli beberapa keperluan dapur untuk memasak. Beruntung sekali jika setiap hari ada tukang sayur yang datang karena akan memudahkan saya untuk proses memasak tanpa repot-repot keluar rumah lagi.


Tak ketinggalan kakak Aqila ikutan nimbrung. Biasanya ia hanya minta 1 buah susu kedelai dan itu cukup baginya. Tapi karena hari ini awal puasa, si ibu tukang sayur membawa lebih banyak dagangan dan beberapa makanan untuk takjil. Wah, inilah ujian kakak Aqila untuk bisa menahan diri untuk tidak ingin ini dan itu. Dia sempat menunjuk beberapa makanan yang diinginkannya. Tapi dia tak  meminta dibelikan dan hanya memandang ke arahku dengan tatapan yang dapat kutafsirkan maksudnya.


Kakak Aqila memang belum jatuh hukum wajib puasa, sebenarnya dia bisa saja makan apapun yang diinginkannya. Tapi masalahnya kan bukan puasa atau tidaknya melainkan adalah kemampuannya untuk menahan diri supaya tidak membeli sesuatu dengan berlebihan. Hanya membeli yang dibutuhkan saja dan bukan yang diinginkannya. selain itu dia juga harus menghormati mbak Ella yang lagi belajar puasa di usia 5,5 tahunnya. alhamdulillah kakak Aqila bisa mengerti hal ini. Kontrol diri sebagai salah satu mental diri dalam mengupayakan cerdas finansial.

#IbuProfesional
#BundaSayang
#Level8
#Tantangan10Hari



CERDAS FINANSIAL 11
“ Makan di Rumah Atau Restaurant”


Mengelola keuangan untuk anak, juga hal yang fundamental ketika kita mulai memperkenalkan anak dengan istilah kebutuhan dan keinginan. Di usia 3-5 tahun paling tidak mereka tahu apa itu kebutuhan dan apa itu keinginan, kita sebagai orang tua bisa memberikan contoh yang sederhana misalkan tentang makan di rumah itulah sebuah kebutuhan sedangkan makan di restoran itu adalah sebuah keinginan.


Saat dalam perjalanan pulang dari kota, kakak Aqila menunjuk sebuah rumah makan yang bagus dan mewah. Di depannya tampak tersaji deretan menu makanan yang menggoda selera.

“ Ibu, makanan di sana kayaknya enak-enak ya bu?”

“ hmmm...iya mungkin kak.”

“ kapan kita bisa makan di sana bu? Kita kan belum pernah makan di sana.”

“ sebentar lagi kita juga sampai rumah kak. Di rumah juga ada lauk ayam yang bisa kita makan kan? “

“ tapi aku lapar bu”

“Kalau kita lapar lebih baik ya makan di rumah. Sama-sama makan dan sama-sama kenyang. Apalagi jarak rumah kita dekat.”

“ apa makan di sana mahal bu?”

“ iya kak, kalau sama-sama makan kan lebih baik makan di rumah. Uangnya sayang untuk makan di sana.”

“ hehe..cuma pengen aja bu.”

“ oke deh...itulah bedanya kak. Makan itu kebutuhan kita. Tapi kalau makan di restaurant itu namanya keinginan. Padahal yang penting kan kita makan. Bikin kenyang dan sehat.”

“ apa kita juga nggak boleh makan di restaurant bu.”

“ boleh dong sayang. Kalau misalnya kita pergi jauh kita bisa istirahat sambil makan di restaurant. Karena jauh itu biasanya kan kita nggak punya makanan untuk dimakan.”

“oh...besok kalau kita pergi-pergi jauh, kita makan di restaurant ya bu.”

“ oke kakak”

Anak perlu dikenalkan dengan mentalitas keuangan yang benar yaitu :

1. Kita membutuhkan uang untuk membeli barang

2. Kita harus bekerja untuk menghasilkan uang

3. Kita harus menunggu sebelum bisa membeli sebuah barang

4. Bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan



#IbuProfesional
#BundaSayang
#Level8
#Tantangan10Hari

Jumat, 03 Mei 2019

CERDAS FINANSIAL 10
“ Saat Aku Menginginkan Sesuatu”

Karya Kakak Aqila

Setelah beberapa hari melakukan proses pendidikan finansial, saya semakin menyadari bahwa zaman seperti  sekarang ini, anak memang sangat perlu dibekali pengetahuan tentang keuangan atau bagaimana cara mengelola uang. Karena uang merupakan komponen penting yang tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia, meski masih kecil sekalipun.

Telah kita ketahui bersama bahwa di dunia pendidikan saat ini  tidak ada pelajaran keuangan tersebut. Oleh karena itu, kami sebagai orang tua lah yang wajib mengajarkannya. Mengajarkan masalah keuangan disini bukan tentang gaji. Melainkan mengajarkan mereka mengenai konsep dasar dan nilai-nilai mata uang yang akan anak - anak kita pakai di kemudian hari. Meski hal ini menjadi tantangan, tetapi berbicara tentang uang dengan anak perlu dilakukan sedini mungkin melalui berbagai aktivitas sehari-hari. Termasuk saat anak meminta sesuatu yang dirasa kurang kebermanfaatannya atau karena harganya yang mahal, maka kita perlu mengajarkan kepadanya untuk menunda atau menahan keinginan.

Seperti saat kakak Aqila meminta mainan rumah-rumahan beberapa bulan lalu. Dengan harganya yang tidak sesuai dengan anggaran belanja keluarga kami. Permintaannya yang pertama, diawali dengan rengekan dan menunjuk-nunjuk mainan yang dimaksud. Kami sepakat untuk tidak membelikannya. Selain karena tak ada dalam daftar belanja,harganya yang mahal cukup membuat kami membulatkan tekad untuk tidak akan membelinya. Kami sampaikan kepada kakak Aqila bahwa harganya mahal dan ibu tidak memiliki cukup uang untuk membelinya. Dari sinilah ia berinisiatif sendiri untuk menabung supaya bisa membeli rumah-rumahan impiannya.

Yang kedua kalinya saat kami belanja di tempat yang sama, kakak Aqila menghampiri tempat mainan itu berada dan memandangnya tanpa rengekan lagi. Dia hanya mengatakan kepada saya bahwa dia hanya ingin melihat mainannya saja. Yang ketiga kalinya di bulan berikutnya, ia melakukan hal yang sama  dan mengatakan kepada saya bahwa harga mainan itu mahal dan tabungannya belum cukup untuk membelinya. Sekilas saya melihat kakak Aqila baik-baik saja. Tapi tidak di hatinya. Ia tetap mengharapkan mainan itu dapat dimilikinya. Sudah tiga bulan saya mengamati hal ini setiap kali belanja.

Di bulan berikutnya saya masih melihat kakak Aqila menghampiri tempat mainan itu dan memandangnya lagi. Namun kali ini saya  mengambil tindakan untuk mengajaknya membeli beberapa lembar kain flanel dan beberapa bahan lainnya untuk membuat mainan rumah-rumahan. Saya melibatkan kakak Aqila untuk memilih warna dan mengajaknya membuat rumah-rumahan bersama. hasilnya cukup baik dan sangat disukai olehnya. Terlebih lagi kakak Aqila sangat membanggakannya karena ia terlibat dalam proses pembuatannya.

Semangat bikinnya ya...

Waktu belanja bulan ini saya tetap mengunjungi supermarket yang sama dan seperti biasa, kakak Aqila turut serta. Saat kami melewati bagian mainan, saya sedikit risau dengan apa yang akan dilakukan oleh kakak Aqila. Namun sesuatu terjadi tidak seperti yang saya khawatirkan. Justru saat melihat rumah-rumahan yang sangat didambakannya itu, ia mengatakan kepada saya bahwa harganya sangat mahal, sayang kalau uang tabungannya habis untuk beli mainan itu. Apalagi sekarang dia sudah punya rumah-rumahan baru yang dibuatnya sendiri bersama ibu. Dia pun mengatakan kalau hasil karyanya justru lebih bagus dari rumah-rumahan yang terpajang di etalase toko.

Ini lho mainan yang didambakan😃

Terkadang masih banyak diantara kita yang bangga jika anak mereka memiliki apapun yang sedang kekinian. Padahal hal itu sama saja tidak mendidik. Orang tua adalah guru terbaik, bukan pengabul keinginan dengan seketika. Mari ajarkan anak untuk bertanggung jawab dengan kehidupan finansial yang sama sekali berbeda dari keinginan mereka. Supaya mereka paham dan dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Jika si kecil tidak tahu mana kebutuhan dan keinginan finansial sejak dini, itu akan membuat mereka kesulitan mengelola keuangan saat sudah besar nanti. Bisa saja mereka menghamburkan uang karena merasa semua hal itu berguna, padahal belum tentu  seperti itu.

#IbuProfesional
#BundaSayang
#Level8
#Tantangan10Hari

Kamis, 02 Mei 2019

CERDAS FINANSIAL 9
“ Bermain Sambil Belajar”


Dalam rangka melatih anak cerdas finansial, beberapa permainan yang saya lakukan bersama kakak Aqila bertema tentang uang. Seperti hari ini, saya dan kakak Aqila bermain peran. Sebelumnya saya telah menyiapkan beberapa lembar uang mainan sebagai alat tukar dalam permainan kami.

Sengaja saya susun beberapa makanan, minuman dan mainan kesukaannya sebagai stimulus agar hasratnya untuk memilikinya muncul. Saya bangun percakapan sederhana dengannya. Sebuah percakapan yang dimulakan oleh kakak Aqila yang merasa penasaran dengan apa yang saya lakukan.

“ ibu..kenapa semuanya ibu keluarkan? Aku mau ager nya bu.”

“ hehe...ini ceritanya ibu lagi jualan loh. Kamu kalau kepengen ya beli sama ibu kak.”

“ iya bu aku mau beli dua ya.”

“ oh oke...kakak punya uang nggak untuk beli?”

“ nggak bu...ya nanti kan aku dikasih uang ibu untuk beli itu.”

“ wah..kakak nggak selamanya lho kalau kita menginginkan sesuatu bisa minta uang ke ibu atau ayah. Kakak harus berusaha untuk bisa dapat uang.”

*Ngambek*

“ jadi mau beli nggak? Kita kan lagi main. Jadi ya pura-pura aja kak. Kalau kakak pingin makanan itu dan gak punya uang kakak bisa kerja atau jualan apa saja untuk dapat uang. Kita pura-pura ya kak.”

“ aku nggak jadi beli lah. Aku mau minta aja.”

“ hmmmm… kamu inget nggak, boneka itu dulu kita dapat dimana?”

“ di toko kaca, ibu yang belikan.”

“ oh ya? Hebat ya kakak inget. Gimana ceritanya tu ibu bisa punya uang dan beli boneka buat kakak?”

“ kan ibu sekolah. Jadi bu guru. Jadi ibu punya uang.”

“ nah...itu salah satu profesi kak, dengan kemampuan yang kita punya, kita bisa dapat uang. Jadi kakak bisa lakukan dari apa yang kakak suka untuk bisa dapat uang.”

“aku sukanya main”

*gleek saya tahan nafas*

“ iya...kakak ingat kan waktu kita main di dapur dan kakak jadi koki kecil? Kakak bikin apa ya waktu itu?”

“ bikin es krim”

“ nah dari bikin es krim bisa kita jual loh buat dapetin uang.”

“ hehehehe…iya ya bu...kalau gitu aku mau bikin es krim ah nanti aku jualan ya bu, terus ibu yang beli.”

“ oke…”

Kakak Aqila bergegas mengambil peralatan membuat es krim. Setelah es krim jadi ia berperan menjadi penjual es krim keliling dan membunyikan suara sebagai reklame yang ia lakukan sambil sesekali menawarkan es krim buatannya. Saya pun berperan menjadi pembeli yang baik. Es krim yang saya beli cukup banyak, sehingga saya menyerahkan sejumlah uang mainan senilai harga es krim yang telah disepakati. Meskipun kakak Aqila belum mengerti nominal uang dan macam-macam uang pecahan. Hal ini tetap saya lakukan untuk mengenalkannya.

Beberapa saat kemudian ia merasa telah memiliki banyak uang dari hasil jualan es krim. Segera ia ingin membeli agar-agar kesukaannya dan boneka kesayangannya. Tapi saya cegah ia untuk membelinya. Saya ajarkan ia untuk berpura-pura menghitung uang yang diperoleh dari hasil jualan es krim. Saya sampaikan ke kakak Aqila untuk mengelola uangnya supaya tidak habis untuk membeli barang-barang. Ada bagian untuk infaq, bagian untuk belanja , dan bagian untuk di tabung. Seperti biasa, ketiganya akan diletakkan di tempat yang berbeda. Dalam hal ini, kami menggunakan toples karena hanya mainan. Lalu ia hendak  membelanjakan uang jatah belanjanya untuk membeli boneka dan agar-agar kesukaannya.. Karena uangnya terbatas tentu saja ia tidak mendapat keduanya. Tapi salah satunya saja. Ia harus belajar menahan diri sampai ia mendapat cukup uang untuk membeli agar-agar.

Permainan ini sangat sederhana namun sarat akan makna. Banyak hal yang dapat dipelajari dari permainan ini. Diantaranya adalah :

1 . Mengajarkan anak untuk memahami bahwa untuk mendapatkan uang dia harus bekerja terlebih dahulu dan uang yang dia dapatkan baru dapat dibelikan makanan ataupun barang lain. Cara edukasi keuangan untuk anak yang bagus dan tepat  menurut saya karena dalam suasana bermain dan terasa menyenangkan.

2 . Belajar menunda kesenangan dan bersabar. Banyak penelitian yang mengatakan bahwa anak yang mampu menunda kesenangan hidupnya jauh lebih baik ketika anak itu telah dewasa. Artinya kemampuan seseorang untuk menunda kesenangan itu sangat penting untuk mulai diajarkan dan ditanamkan pada anak sejak dini. Tetapi sangat disayangkan sebagai orang tua kadang kita tidak mengajarkan anak untuk menunda kesenangan, malah sebaliknya mempercepat kesenangan itu didapatkan oleh anak.

3 . Mengajarkan anak untuk ber entrepreneur sejak dini. Hal ini dapat menjadi stimulasi jiwa dagang anak melalui hal-hal yang menjadi hobby nya.

#IbuProfesional
#BundaSayang
#Level8
#Tantangan10Hari

Rabu, 01 Mei 2019

CERDAS FINANSIAL 8
“Literasi Keuangan”

sumber gambar.m.hukumonline.com

Tidak banyak orang tua yang mengenalkan budaya menyimpan uang di
lembaga keuangan kepada anak. Sebagian orang tua menganggap
anak belum perlu untuk menyimpan uang–uang mereka di lembaga keuangan. Padahal banyak sekali lembaga keuangan di sekitar kita dari koperasi, bmt, bahkan bank. Hal tersebut dikhawatirkan akan sangat berpengaruh terhadap perilaku dan cara pandang anak tentang lembaga keuangan di masa yang akan datang.

ketika anak tidak dibiasakan menabung uang mereka di lembaga keuangan, di kemudian hari anak akan sulit untuk dengan sengaja menyisihkan uang mereka untuk disimpan di lembaga keuangan. Mengenalkan menyimpan
uang di lembaga keuangan kepada anak supaya anak memahami bahwa uang yang disimpan di lembaga keuangan sangat bermanfaat dari segi keamanan dan segi kedisiplinan. Anak tidak mudah untuk mengambil uang mereka. Beda jika hanya menyimpan uang di
rumah. Anak akan menjadi lebih leluasa untuk mengambilnya setiap saat. Selain itu mereka juga dikhawatirkan tidak bisa menahan diri untuk membelanjakan uang mereka untuk hal-hal yang tidak begitu penting. Dengan menyimpan uang di lembaga keuangan, anak akan terbiasa untuk menyisihkan uang mereka agar bisa disimpan di lembaga keuangan.

Maka saya tidak ragu untuk mengajak kakak Aqila untuk ikut serta ke lembaga keuangan untuk menyimpan uang. Seringkali ia juga bertanya mengapa harus disimpan di lembaga keuangan.

“ ibu, apa kita ke sini mau menabung lagi?” tanyanya ingin tahu.

“ iya kak,  kita nabung di sini biar bisa bayar sekolahnya kakak.” ujarku.

“ tapi bu, aku kan sudah nabung di celengan. Kenapa harus nabung di sini jug?”

“ iya si kak, tapi nabung di celengan itu  tidak bisa lama.karena tempatnya terbatas, terus uang yang kertas juga bisa cepat rusak kalau terlalu lama di dalam celengan.”

“ kalau gitu uang yang di celenganku aku tabung di sini aja bu, biar gak rusak.”

“ ya nggak usah kak, kita tetap perlu menabung di rumah pake celengan. Kalau ada uang sisa belanja ibu atau jajan kakak yang cuma seribu atau dua ribu, masa kita harus nabung ke sini. Ya kita masukkan ke celengan saja kak.”

“ jadi kita harus punya banyak uang ya bu, biar bisa nabung di tempat yang banyak?”

Pertanyaannya kali ini makin banyak dan sedikit kritis. Membuat saya sedikit mengeluh dalam hati karena bingung menjawabnya.

“ nggak gitu juga kak, menabung kan juga nggak harus banyak, tapi wajib kita dahulukan dari kepentingan yang lain. Seperti sekolah kakak itu penting, bayarnya juga kan banyak. Jadi kita harus menyisihkan uang setiap bulannya untuk ditabung biar bisa untuk bayar sekolah kakak kalau sudah SD.kalau nggak nabung dari sekarang, besok waktu kakak masuk SD belum tentu kita punya uang kan? Nah...makanya ibu menabungnya di sini biar bisa lama.”

“ oh..jadi kalau untuk sekolah nabungnya di sini ya bu? Nggak di celengan.”

“ iya kak, disini bisa lama dan uang kita aman. yang di celengan, asal sudah penuh bisa kita buka kan? Padahal belum cukup untuk bayar sekolah.”

“ jadi yang di celengan untuk apa bu kalau sudah penuh?”

“ hehehe...kalau sudah penuh, kita buka dan akan kita masukkan di tempat ini sama seperti punya ibu. Tapi di bukunya besok pakai nama Kakak Aqila, bukan nama ibu.”

Berhubung kakak Aqila belum punya keinginan untuk membelanjakan uang celengannya, maka ini adalah saat yang tepat untuk mengarahkannya menabung di lembaga keuangan.

“ wah, beneran bu? Asik...nanti aku nabungnya bisa lama ya bu.”

“ iya sayang…”


Keluarga merupakan komunitas pertama anak dalam berinteraksi. Orang tua berperan penting dalam memberikan nilai–nilai pendidikan literasi keuangan. Perlu kita ketahui bahwa anak-anak belajar tentang keuangan dari orang tuanya melalui instruksi yang disengaja, partisipasi, dan praktek bahkan melalui pengamatan yang dilakukan anak terhadap perilaku orang tuanya terhadap uang. Ketidaksadaran orang tua akan pendidikan literasi keuangan pada anak
hanya akan menjadikan anak tidak memahami  literasi keuangan dengan baik dan tidak bermakna serta akan menjadikan anak tumbuh dan
berkembang menghadapi dunia yang semakin kompleks tanpa bekal pengetahuan yang cukup mengenai literasi keuangan.

#IbuProfesional
#BundaSayang
#Level8
#Tantangan10Hari


ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

ANDROID SOURCE CODES MURAH

ADVERTISEMENT

IKUTI KAMI

Total Pageviews

Popular Posts

ADVERTISEMENT

Aqila Nyanyi - Naik Delman

IKUTI FANSPAGE KAMI

Unordered List

Text Widget