Tampilkan postingan dengan label SEMUA ANAK ADALAH BINTANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SEMUA ANAK ADALAH BINTANG. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 November 2019

Ketika Ibu Harus Kembali Bekerja


Dari beberapa informasi yang ada, jumlah ibu bekerja yang memiliki bayi jumlahnya semakin bertambah. Dan saya salah satunya. Biasanya yang menjadi alasan seorang perempuan bekerja adalah karena masalah keuangan keluarga. Namun, banyak juga yang memilih bekerja di ranah publik karena memang menyukai dunia publik untuk mengembangkan kapasitas dirinya baik dari tantangan karir atau alasan lainnya. Tapi, saya tidak akan membahas mengenai ibu bekerja di ranah domestik atau di ranah publik. Karena bagi saya, keduanya sama-sama istimewa. Keduanya juga mulia.

Siapapun orangnya pasti akan merasa sangat berat saat harus meninggalkan bayinya. Banyak kekhawatiran dan kecemasan yang muncul. Rasa takut dan bersalah seolah datang bertubi-tubi. Karena tidak memberikan seluruh waktunya kepada anak sehingga memunculkan perasaan seolah-olah tidak bisa menjadi ibu yang baik. Waktu itu, hal itulah yang paling saya rasakan.

Namun, saya mencoba  menyiasatinya dengan menuliskan semua hal yang membuat saya cemas pada saat meninggalkan bayi atau balita di rumah. Beberapa hal itu diantaranya adalah, apakah bayi saya nanti tercukupi ASI nya, apakah saya akan mendapatkan pengasuh yang sayang dan sabar saat anak saya rewel, bagaimana jika tiba-tiba anak saya badannya panas, bagaimana jika anak saya diperlakukan tidak baik oleh pengasuhnya, dan lain-lain.

Saya benar-benar membuat lembar kecemasan dalam sebuah buku pribadi saya. Semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi dan yang akan saya dapati serta seluruh bentuk kecemasan saya. Lalu saya melakukan identifikasi masalah satu per satu. Tujuannya adalah untuk menemukan arah solusinya dan keputusan yang akan diambil. Dan hasil identifikasi itu mengerucut pada siapa yang akan menjadi "pengganti" si kecil jika saya sedang tidak di rumah. Namun sebenarnya, ini adalah masalah klasik bagi setiap ibu bekerja.

Terkadang diantara kita, ada yang merasa  lebih beruntung karena ada orangtua atau mertua yang bisa  membantu mengawasi anak disamping pengasuhnya. Tapi, bagaimana bila jika orangtua, mertua atau saudara yang lain tak ada atau tak bisa membantu kita dalam mengawasi anak? Tentu saja hal ini pasti akan menjadi pemikiran mendalam bagi seorang ibu yang hendak bekerja.

Saya berusaha sejak jauh-jauh hari untuk mencari pengasuh sebelum saya berangkat bekerja. Sehingga saya memiliki waktu yang cukup untuk mengenali calon pengasuh yang akan menggantikan saya. Selain itu, supaya calon pengasuh juga belajar dan terbiasa dengan peraturan yang saya terapkan. Mencari pengasuh ini merupakan periode terpenting bagi saya sebelum saya benar-benar meninggalkan anak saya bersama orang lain. Saya sangat berusaha menggunakan seluruh intuisi untuk mendapatkan orang yang tepat bagi anak saya. Orang yang jujur, sehat, berkelakuan baik dan menyukai dunia anak. Dan yang terpenting adalah yang seaqidah dengan saya.

Biasanya bayi mulai ditinggal bekerja pada saat bayi berusia 3 atau 4 bulan. Masih sangat mungil dan memerlukan perhatian ekstra, namun berupaya untuk tidak memberikan ruang pada perasaan dan pikiran yang mengharu biru adalah hal terbaik yang harus dilakukan. Meskipun di perjalanan saya sering menangis terisak-isak setiap kali meninggalkan si kecil bersama pengasuhnya. Barangkali Anda juga pernah merasakannya.

Sebenarnya, kebutuhan bayi relatif masih sangat ringkas. Karena sebagian besar waktunya masih digunakan untuk tidur saja. Stimulasi yang dibutuhkan juga masih sangat sederhana. Saya belajar melalui buku-buku, internet dan diskusi online untuk memperoleh ilmu tentang pemberian ASI eksklusif dan kiat menyusui bagi ibu bekerja.

Tak lupa juga membangun komunikasi positif dengan pengasuh. Saya juga  berusaha menyempatkan waktu untuk mengirim pesan atau menelponnya di sela kesibukan saya bekerja. Hal ini sangat penting dilakukan karena mengingat bahwa, pengasuh anak kita juga manusia. Ia bisa saja mengalami lelah saat mengasuh anak kita. Maka, memberinya semangat, motivasi dan penghargaan kepadanya akan menjadikannya terus bersemangat untuk bekerja dengan baik.

Hal lain yang perlu kita lakukan saat menghubungi ibu pengasuh adalah memastikan apakah anak kita mendapatkan apa yang dia butuhkan sesuai usia dan tahapan pertumbuhannya. Jika saya telah mendapatkan informasi yang cukup dan memastikan bahwa saya telah yakin anak saya mendapatkan seluruhnya dengan baik, maka kini saya dapat menukar " kecemasan" dengan "waspada sewajarnya". Karena telah mendelegasikan tugas ini, maka selanjutnya adalah memberikan kepercayaan dan melakukan pengawasan kepada pengasuh anak.

Meskipun bayi kita belum mampu berkomunikasi dengan kata-kata, namun bayi telah dapat merasakan apakah ibunya ada di sampingnya atau tidak. Bayi kita dapat membedakan saat ibunya pergi dan saat ibunya telah kembali. Bayi kita juga tahu bahwa ia sedang bersama dengan orang lain. Ia belajar mempercayai orang selain ibunya. Maka, ketika saya pergi pun saya tetap berpamitan baik-baik dengan si kecil dan menyampaikan bahwa ia akan baik-baik saja bersama ibu pengasuhnya dan saya menjanjikan akan sepenuhnya bersama si kecil setelah saya pulang dari bekerja.


Jumat, 01 November 2019

Mengatasi Tekanan Lingkungan Si Sulung


Suatu hari saya mendapati si sulung pulang ke rumah dengan menahan tangis. "Ibu...Aku mau adik bayinya dimasukkan lagi ke perut Ibu," ujarnya sambil menangis tersedu-sedu. Setelah saya usut sebenarnya apa yang terjadi, ternyata anak sulung saya merasa tertekan dengan komentar beberapa tetangga. Ada sebagian dari mereka mengatakan,"Wah...Aqila bisa nggak disayang lagi nih sama ayah ibunya kan udah ada adik…" atau,"Ibunya gendong adik terus ya...kakaknya jadi nggak pernah digendong lagi dong." Dan beberapa celetukan lain yang sebenarnya hanya menggoda si sulung saja. Tapi bagi si sulung hal itu menjadi teror dan gangguan baginya.

Bagi saya ini merupakan bagian yang sulit. Karena saya harus membangun kepercayaannya dan meyakinkannya bahwa apa yang dikatakan orang itu tidaklah benar. Serta memberikan pemahaman bahwa kehadiran adik baru bukanlah sebuah ancaman baginya. Bila kalimat tidak produktif ini datang dari keluarga sendiri tentu saja akan lebih mudah saya mengehentikannya. Namun sayang, anak saya mendengarnya dari para tetangga. Kan tidak mungkin jika saya harus mendatangi mereka satu per satu menyampaikan keberatan saya dan meminta menghentikan gurauan mereka. Sehingga saya memilih berjuang untuk menanamkan rasa percaya si anak bahwa tak ada orang yang mampu mencintai si sulung selain ayah bundanya dan sang adik.

Dari proses panjang ini, saya membuktikan betapa pentingnya memiliki kemampuan komunikasi verbal secara positif dengan anak. Kita juga memerlukan waktu khusus berdua dengan si anak sulung supaya anak memiliki kesempatan untuk bertanya dan mengungkapkan perasaannya. Waktu khusus ini juga berguna bagi orangtua untuk memberikan penjelasan kepada anak secara produktif sehingga apa yang kita sampaikan dapat diterima anak dengan terbuka dan jelas.

Kamis, 31 Oktober 2019

Kecemburuan Sang Kakak


Ekspresi kecemburuan sang kakak kepada adik adalah yang paling banyak dikeluhkan oleh beberapa orang, termasuk saya. Setelah saya dan bayi yang baru lahir harus kembali ke rumah, muncul masalah pertama yang terjadi antara saya, si sulung dan adik bayi. Malam itu, si sulung menginginkan saya menemaninya tidur dan membacakan cerita-cerita kesukaannya seperti yang pernah kami lakukan dulu. Namun, kondisi fisik saya yang masih belum pulih dan adik bayi yang masih suka berjaga saat malam hari, membuat saya kesulitan memenuhi keinginannya.

"Bu...ayo sini temani aku tidur sambil baca cerita," Rengeknya membuat saya iba.

"Iya sayang...sebentar ya. Adik bayinya masih nenen. Nanti kalau adik bayi sudah bobo, Ibu temani Kakak ya," Ujarku berharap si sulung mau mengerti.

"Ah...Ibu..adik terus yang dikelonin...akunya kapan dikelonin Ibu? Adiknya lho nggak tidur-tidur dari tadi!" Nada suaranya meninggi pertanda ia mulai kesal dan marah.

"Sabar ya Kak, Ibu juga ingin sekali ngelonin kakak dan bacain cerita tapi Ibu harus nenenin adik dulu. Kakak mau ya...bobonya sama ayah dulu Kak," Pintaku padanya.

"Nggak mau! Aku maunya sama Ibu! Biar adik saja yang ayah!" Teriaknya yang semakin marah.

Kondisi seperti ini terjadi terus-menerus hingga beberapa malam. Tentu saja saya semakin stress memikirkan hal itu. Saat sakit belum sembuh, si bayi yang masih membutuhkan perhatian total, dan sang kakak yang belum bisa berbagi ibu. Namun, meskipun begitu sebenarnya si sulung sangat menyayangi adiknya. Hal ini tampak pada saat adik bayi menangis dan terjaga dari tidurnya, sang kakak mencoba menenangkan adiknya dengan menepuk-menepuk badan adik bayi dan mengatakan pada adiknya,"Sayang anak cantik...cup..cup...cup..sabar ya...Ibunya masih mandi sebentar." Hal ini membuat saya sangat terharu, ternyata kakak tidaklah membenci adiknya. Ia hanya belum siap berbagi saja.

Pengalaman lain yang membuat saya sangat terkejut dan hampir copot jantung saya. Yaitu saat sang kakak menutup seluruh tubuh adik bayi termasuk wajah dengan selimut. Reaksi saya pada saat itu spontan berteriak dan segera menyingkirkan selimut yang menutupi seluruh bagian tubuh si bayi. Sang kakak kaget dan wajahnya ketakutan. Namun, seketika itu saya tersadar dan segera memeluknya. Namun, saya terus berpikir apa sebenarnya yang ada dalam benak sang kakak. Mana  mungkin anak sekecil itu dengan sengaja hendak menghalangi udara yang masuk ke dalam hidung adik bayi. Karena dalam pikiran orang dewasa menutup seluruh wajah adik bayi berarti akan menghalanginya untuk bernafas. Lalu saya bertanya kepada sang kakak untuk mengetahui alasannya.

"Kak, maaf ya...tadi Ibu cuma kaget lihat adik bayinya ketutup semua badannya. Memang kenapa kok adiknya ditutupin gitu?"

"Aku tu cuma mau main cilukba sama adik Bu…" Jawabnya singkat sambil menunduk.

"Oya? Mau main sama adik to? Karena adik masih bobo, Kakak mainnya sama Ibu saja ya," Kataku mencoba menghiburnya.

Kemudian sang kakak memperagakan bagaimana bermain cilukba dengan wajah yang ditutup selimut. Seolah ia ingin memperagakan bagaimana sebenarnya tadi ia benar-benar hanya ingin mengajak adiknya bermain cilukba.

Sebagai orangtua kita tetap harus menyadari bahwa anak sulung harus terus didampingi dalam kesehariannya berperan sebagai kakak. Berikan penjelasan atas segala sesuatu yang sesuai dengan tingkat pemahamannya dan jangan melontarkan kalimat-kalimat yang tak dapat ia pahami maksudnya. Misalnya saja,"Kakak jangan nakalin adik ya." Atau,"Kakak harus mengalah sama adik, kan kakak lebih besar dari adik."

Cobalah untuk membuat si sulung mau mengekspresikan dahulu setiap emosi yang ia rasakan. Kita bisa mendorongnya untuk berbicara tentang perasaannya. Dengan begitu, kita pun bisa memahami apa yang dirasakan oleh sang kakak.

Cara ini pun mencegah si kakak melakukan tindakan fisik seperti memukul, mencubit, atau mendorong adik bayi semata-mata hanya untuk memberikan sinyal. Jika kakak sampai memukul adiknya, jelaskan bahwa hal ini tidak bisa ditoleransi.

Katakan padanya dengan tenang dan lembut bahwa memukul tidak diperbolehkan. Kita pun bisa menyarankan si sulung untuk menunjukkan perasaannya dengan menunjukkan wajah cemberut atau ekspresi marah, atau kita bersama kakak bisa saling membagi dan memberitahukan perasaan masing-masing.

Bagaimanapun kehadiran seorang adik baru adalah sesuatu yang luar biasa bagi si sulung. Karena dulu, ia menjadi yang satu-satunya. Kemudian ia harus dihadapkan pada suatu kondisi dimana ia harus berbagi dan harus toleransi manakala ayah bundanya mencurahkan segala perhatiannya pada adik barunya. Jadi sebuah emosi dan perilaku yang wajar dari si sulung apabila ia menjadi memiliki sedikit ulah untuk mencari perhatian ayah bundanya. Karena perasaan khawatir bahwa ia akan tersisihkan sangat tidak dapat terdefinisikan. Maka, terkadang si sulung akan melakukan hal-hal yang tak terduga. Misalnya saja, ia tiba-tiba  berteriak dengan suara keras di dekat adiknya atau bahkan ia merengek meminta sesuatu pada saat ibu masih menyusui adiknya.


Jika kita dihadapkan pada kondisi seperti itu, hindari perilaku memarahi si sulung. Karena sikap marah sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak akan merubah sikap si sulung kepada adiknya. Yang terjadi justru sebaliknya, si sulung akan berusaha mencari cara memperoleh perhatian ayah bundanya dengan sikap-sikapnya yang sangat tidak menyenangkan. Lebih baik kita yang meningkatkan kewaspadaan kita dalam mendampingi si sulung menjadi kakak baru. Sebaiknya jangan biarkan si sulung hanya berdua saja dengan adik bayi. Dan terus menerus memberinya pengertian, bahwa ayah bundanya tidak akan hilang rasa sayangnya kepada si sulung meskipun telah punya adik. Hal ini sekaligus dapat menghiburnya sebagai jawaban atas kekhawatirannya yang tidak terdefinisikan itu. Tetap luangkan waktu sepenuhnya bersama si sulung jika adik bayi sedang tidur.

Sebagai orang tua, kita seringkali diuji ketahanan mental supaya tidak mudah tersulut emosinya. Manakala si sulung benar-benar tidak mau mengerti dan tetap meminta diperhatikan. Apabila pada tahap ini, kita menghadapinya dengan amarah dan membentak, maka yang terjadi adalah si sulung akan semakin iri pada adik bayinya dan semakin bersikap manja. Yang sebaiknya kita lakukan adalah bersikap tegas dalam menerapkan aturan. Namun aturan yang tidak memaksa dan nyaman bagi si sulung. Dan tentunya bersikap sabar adalah yang terbaik, yakin bahwa semuanya akan berlalu dan dapat disikapi dengan baik.


Selasa, 29 Oktober 2019

Bersiap Menjadi Kakak


"Mencintai anak tidaklah cukup, yang terpenting adalah anak-anak menyadari bahwa mereka dicintai orangtuanya"
Begitulah kata John Bosco yang selalu ada dalam ingatan saya. Mengingat saya akan segera memiliki anak lagi, saya mengkhawatirkan kesiapan si sulung dalam penerimaannya pada calon adik bayinya. Tentu saja saya harus mempersiapkan  mental dan kesadaran si sulung dengan menjalin komunikasi dan melibatkannya dalam berbagai hal.

Setelah Saya dinyatakan hamil anak kedua, saya mengatakan kepada si sulung,"Nak, di perut bunda ada adik bayi yang masih keciiiil banget." Hal ini kusampaikan padanya di suatu malam menjelang tidur sambil kupeluk tubuh mungilnya. Sulungku tak memberikan respon apapun, ia hanya terdiam di dalam dekapanku. Mungkin ia sedang berpikir atau belum mengerti apa yang saya katakan. Saya tetap mencoba memberikan penjelasan lanjutan dan mengatakan padanya bahwa di dalam perut bundanya ada kehidupan seorang bayi yang kelak akan menjadi adiknya dan bisa menjadi teman bermainnya. Seketika itu, si sulung menatapku sambil tersenyum dan menghujaniku dengan berbagai pertanyaan.

"Mengapa adik bayi bisa ada dalam perut Ibu? Kapan adik bayi akan lahir? Adiknya laki-laki atau perempuan? Apakah adik bayi bisa bermain masak-masakan seperti aku?" Dan masih banyak lagi yang ia tanyakan. Dalam masa proses kehamilan, si sulung selalu saya sertakan dalam berbagai kegiatan bersama adik bayi di dalam perut. Seperti membacakan cerita, membacakan ayat-ayat  Al-qur'an, dan bernyanyi. Bahkan di setiap kondisi fisik yang sering lemas dan mual, saya selalu menyampaikan padanya bahwa sakit bundanya bukan dikarenakan penyakit, tetapi karena adanya bayi di dalam perut bunda sebagai hadiah dari Allah. Saya pun tak lupa mengatakan padanya bahwa dahulu ia juga pernah berada di dalam perut bunda seperti adiknya dan bunda juga mengalami mual, muntah dan lemas. Meskipun bunda harus mengalami hal demikian, tetapi bunda selalu bersabar, sehingga calon kakak pun juga harus bersabar saat bundanya lagi mengalami morning sickness.

Hal-hal sederhana yang sampaikan itu ternyata membuahkan hasil yang sangat manis. Si sulung yang akan menjadi kakak itu, menjadi sangat perhatian pada saya. Ia sering mengelus perut, membantu melepaskan kaos kaki, dan mengambilkan air minum saat saya sudah mulai mual dan muntah.

Saya dan suami juga membawa si sulung saat jadwal periksa ke bidan dan dokter kandungan. Saat bidan memeriksa detak jantung bayi yang ada di dalam perut bunda, ia tampak sangat antusias dan berkata kepada bu bidan," itu suara apa? Apa adik bayi nya sudah bisa ngomong?" Atau pada saat jadwal USG di dokter kandungan, si sulung juga turut masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Tentu saja sudah dengan izin dan persetujuan dokter yang memeriksa saya. Jadwal USG adalah hari yang paling dinanti oleh si sulung. Ia seringkali spontan melambaikan tangannya saat tampak gambaran adik bayinya di layar monitor dan mengucapkan salam. Bahkan berkali-kali ia mengajak berdialog dokter yang memeriksa saya,"Adik bayinya sedang apa? Sudah bisa apa dia? Kapan adikku lahir? Mengapa adik bayinya diam saja?" Tentu saja rentetan pertanyaannya itu membuat perawat dan dokter menjadi tertawa.

Yang tak kalah menarik adalah saat saya mempelajari perkembangan bayi di dalam perut melalui buku bacaan, si sulung juga ikut terlibat. Ia menunjuk berbagai gambar tentang kondisi bayi di dalam perut. Hal ini juga menjadi bahan diskusi yang sangat menarik dan tak ada  habisnya antara saya dan anak sulung saya. Setelah ia mengetahui bahwa adik bayi di dalam perut bisa mendengar suara dan merasakan hati bundanya, si sulung menjadi sangat rajin menyapa dan menyanyikan lagu dengan mulut didekatkan ke perut saya. Saat usia kehamilan saya memasuki usia sembilan bulan dan saya sering merasakan kontraksi semu, si sulung menghiburku dan memintaku bersabar. Tak jarang ia juga memijat kakiku yang sudah membengkak.

Tiba masanya di mana saya harus melahirkan adik bayi setelah sembilan bulan berlalu. Saya dan suami bersepakat untuk tidak membawa serta si sulung saat proses persalinan. Karena khawatir rasa sakit yang saya rasakan akan mengakibatkan ketakutan padanya. Akhirnya kami memutuskan untuk menitipkan si sulung pada kakak perempuan saya. Hal yang paling membuat kami terharu adalah saat si sulung menghampiri saya setelah proses kelahiran selesai. Ia membawa sebutir buah apel yang ia bawa dari rumah budenya. "Ini buat Bunda," ujarnya sambil memeluk dan menciumku. Seolah ia turut merasakan batin ibunda yang berjuang melahirkan adiknya. Alhamdulillah wa syukurillah semua karena kekuatan yang Allah berikan untuk menjalankan amanah sebagai seorang ibu. Dulu hanya satu anak, kini dua anak yang menjadi tanggung jawab dan amanah saya.

Dengan melibatkan si sulung dalam setiap proses masa kehamilan dapat mengedukasi sang calon kakak untuk bisa menerima kehadiran anggota keluarga baru serta menjadi proses pembelajaran dimana sang calon kakak mendapat informasi dan pengetahuan baru tentang adik bayi yang ada di dalam perut . Hal itu juga dapat memupuk rasa kasih sayang antar anggota keluarga terutama antara si sulung dan calon adik bayinya. Dan yang terpenting adalah terciptanya suasana rumah yang penuh kasih sayang dan saling memiliki satu dengan yang lain.

Bagaimana jika si sulung merasakan kecemburuan kepada adik barunya? Kita akan bahas pada tulisan yang berikutnya ya...😍

Senin, 28 Oktober 2019

Menyatu Dengan Dunia Buah Hati



"Hal yang paling menakutkan tentang anak-anak di masa kini adalah bagaimana anggapan orang-orang dewasa tentang mereka."

Demikian ungkapan David Sarasohn seorang kolumnis di San Fransisco. Hal ini tidaklah salah, mari kita lihat bagaimana orang tua zaman sekarang begitu mudah melihat kesalahan anak dengan sangat detail dan bahkan cenderung mudah melabeli buruk terhadap anak-anak. Label buruk terhadap anak adalah bagian dari bullying yang dilakukan oleh orang tua yang tanpa disadari bahwa  hal itu berakibat buruk bagi perkembangan anak.

Kita bisa melihat bahwa telah terjadi kesenjangan antar generasi. Orang dewasa sudah lupa bagaimana rasanya menjadi anak-anak. Waktu berlalu begitu cepat dan tanpa terasa kita saat ini telah semakin tua sehingga kita menjadi tidak tahu lagi bagaimana caranya berbicara dalam bahasa anak-anak.

Suatu hari saya pernah ditanya oleh anak sulungku, "Ibu, mengapa buah apel yang kugigit ini warnanya menjadi coklat?"
Saya pun berusaha menjelaskan,"Begini ya, hal itu terjadi karena pada saat kamu menggigit apel itu, daging buahnya akan langsung berinteraksi dengan udara, yang memungkinkan berlangsungnya proses oksidasi. Proses itulah yang menyebabkan terjadinya perubahan struktur molekul-molekul daging buah apel yang mengakibatkan daging buah apel itu terjadi perubahan warna."

Kulihat sulungku diam dan asyik menikmati buah apel di tangannya. Lama saya menunggu respon darinya. Mengapa tak seperti biasanya jika dia merasa ingin tahu akan sesuatu, dia pasti akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Hal ini membuat saya merasa ingin menanyakan kepadanya tentang apa yang sedang dia pikirkan.

"Kak? Dah ngerti belum kenapa apelnya berubah warna jadi coklat?" Tanyaku penasaran.

"Ha? Memangnya Ibu tadi sudah jadi menjawab?"

"Lha ya sudah to Kak...memangnya Kakak tadi nggak dengar ibu ngomong apa?"

"Kirain ibu lagi ngomong sendiri tadi. Aku ya diam saja. Tapi aku juga nggak tahu kenapa apelnya ini jadi coklat?"

Saya kemudian merenung sejenak. Apa yang salah dari saya. Penjelasan spontan yang saya berikan dengan menyertakan bahasa ilmiah tingkat tinggi rupanya menjadi penyebab utama anak saya kehilangan fokus dan minat. Saya lupa akan tujuan utama menjawab setiap pertanyaan anak adalah untuk menjadikannya mengerti bukan malah semakin bingung karena bahasa yang digunakan sulit dipahami oleh anak-anak.

Alasan lain terjadinya kesenjangan antar generasi ini adalah, walaupun kita masih ingat bagaimana rasanya menjadi anak-anak, kita masih bercermin pada kebiasaan di masa kecil kita. Sebagian dari kita memang sering terjebak dengan perjalanan waktu. Kenangan di masa lalu kita hanya terpaku pada suatu peristiwa tertentu. Sehingga ingatan itu menjadi semacam patokan bagi kita dalam mendeskripsikan pengalaman masa lalu kepada anak-anak di masa kini. Padahal budaya dari masa lalu sudah lama menghilang.

Maka dari itu, penting bagi kita sebagai orang tua memahami perubahan zaman yang terjadi. Mendidik anak memang harus sesuai dengan zamannya, dan menyadari bahwa terkadang kita harus menggunakan nilai-nilai budaya masa kini untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan yang sifatnya abadi. Jika dulu, orang tua kita tidak memahami ilmu mendidik anak, ilmu perkembangan, ilmu psikologi dan lain sebagainya yang menyebabkan anak-anak zaman dulu sering salah menafsirkan sebuah informasi dan bahkan terjerumus pada perilaku yang buruk karena rasa ingin tahu yang tinggi sebagai salah satu fitrahnya sebagai seorang anak tidak terjawab.

Di masa kini, semuanya sudah berubah. Badai informasi melanda kita. Kemudahan dan tantangan sebagai konsekuensi logis dari adanya perkembangan teknologi yang pesat. Meskipun begitu, kita tetap harus menghadirkan jiwa dan cinta kepada anak sebagai generasi baru. Kita harus benar-benar menyatu dengan dunia mereka supaya kita dapat merasakan apa yang dirasakannya. Sehingga informasi yang kita berikan tidak cukup hanya "benar" saja tapi yang jauh lebih penting adalah dipahaminya sebuah informasi tersebut sebagai pengetahuan dan pengalaman belajar baru bagi mereka.



Sabtu, 09 Februari 2019

 MENSTIMULUS KECERDASAN LOGIS MATEMATIS 3



Jauh sebelum anak mengenal simbol-simbol abstrak dan rumus-rumus, ia akan menemukan matematika dari berbagai benda yang dilihat dan disentuhnya. Semakin berkembang pengetahuan anak, apalagi dengan bimbingan dan pengarahan orangtua, anak semakin mampu menerapkan dasar-dasar konsep matematika, seperti mengklasifikasi, membandingkan, menyusun urutan, dan berhitung.
Anak yang berusia 3- 5 tahun telah dapat melakukan dan menyukai kegiatan menyusun benda berdasarkan urutan kecil ke besar. Di usia ini anak berada dalam tahap perkembangan berpikir untuk menimbang dan mengukur. Anak sudah menyadari konsep pola tertentu, sudah dapat meniru susunan dengan pola yang sama. Konsep logika lain yang mulai berkembang adalah konsep tentang hubungan sebab akibat.


Ketika anak sudah mulai memahami konsep bilangan dan kepekaannya mulai berkembang terhadap konsep ukuran yang ada disekitarnya, ia akan mulai menghubungkan ukuran dengan benda lain, menghubungkan bentuk geometri dengan benda yang ada di sekitarnya serta dapat memperkirakan ukuran jumlah, panjang pendek, berat ringan pada setiap benda yang ditemuinya.
Dalam membangun konsep geometri pada anak dimulai dari mengidentifikasi bentuk-bentuk, menyelidiki bangunan dan memisahkan gambar-gambar biasa seperti, segi empat, lingkaran, dan segi tiga. Belajar konsep letak, seperti di bawah, di atas, kiri, kanan, meletakkan dasar awal memahami geometri.

Baca Juga ya

Mengenalkan bentuk-bentuk geometri pada anak usia dini sangat berpengaruh pada perkembangan tahapan berpikir anak secara logis. Mengenalkan bentuk-bentuk geometri tentunya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Biasanya Perkembangan mengenal bentuk-bentuk geometri pada anak usia dini adalah kemampuan anak dalam menyebutkan benda-benda yang berbentuk geometri, membedakan benda-benda yang berbentuk geometri, membedakan ciri-ciri bentuk geometri, mengelompokkan bentuk-bentuk geometri (lingkaran, segitiga, segi empat, persegi panjang, dan lain-lain).

Kali ini saya menggunakan kain flanel untuk membuat bentuk geometri dua dimensi atau biasa disebut dengan bangun datar. Saya membuat pola dengan bentuk geometri tertentu yang berupa garis putus-putus yang nantinya akan ditebalkan oleh Aqila dengan menggunakan penggaris. Fokus kegiatan hari ini adalah mengenal bentuk geometri dua dimensi yang akan dibuat sendiri oleh Aqila. Kalaupun ada unsur pengukuran disana namun hal itu tidak saya tekankan kepada Aqila. Ia akan menebalkan pola bentuk geometri sekaligus berlatih menggunakan alat ukur penggaris yang dimaksudkan agar garis yang dibentuknya tetap lurus. Kemudian Aqila akan memotong pola bentuk geometri ini dengan menggunakan gunting. Hal ini merupakan latihan untuk Aqila untuk berkonsentrasi supaya hasil potongannya rapi. Namun apa yang terjadi? Karena baru pertama kalinya ia menggunakan penggaris tampak sekali ia sedikit kesulitan memposisikan badan dan tangannya. Akhirnya ia menekan penggaris itu dengan menggunakan kakinya dan ia mulai menggaris dimulai dari bagian bawah ke atas. Hal ini membuatku tertawa sekaligus takjub dengan kreatifitasnya menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Bagaimana tidak seorang anak usia 4 th baru pertama kali menggunakan penggaris dengan membolak balikkan badannya mencari posisi yang tepat untuk menggaris adalah sesuatu yang istimewa bagi saya. Namun setelah saya jelaskan cara menggunakannya, dengan cepat ia pun memahaminya dan melakukannya dengan baik.

Baca Juga ya

Setelah selesai memotong semua pola bentuk geometri yang ada, tidak langsung saya berikan penjelasan dan tunjukan nama dari bentuk- bentuk tersebut. Saya meminta Aqila menceritakan apa yang ia buat itu Dan wow! Dia benar-benar menghubungkan bentuk - bentuk itu dengan benda yang ia kenal. Seperti bentuk persegi panjang ia katakan seperti tiang teras rumahnya, segitiga adalah rumah karena selama ini ketika ia menggambar rumah selalu diawali dengan membuat segitiga terlebih dahulu. Lalu trapesium dengan sisi panjang nya di bagian atas ia katakan seperti kapal dan jika sisi panjangnya di bagian bawah ia katakan seperti rumah Nabila yang mana atap rumah temannya ini memang berbentuk trapesium. Kemudian bentuk layang-layang ia sengaja membuat potongan yang menjulur panjang pada bagian bawahnya yang ia katakan sebagai ekor layang-layang. Apa yang ada dalam pikiran anak memang sangatlah mengagumkan. Maka benar apa yang dikatakan oleh teori perkembangan tahapan berpikir logis anak pada rentang usia 3-5 tahun ia akan menghubungkan bentuk-bentuk geometri dengan segala hal yang ada di sekitarnya.







Setelah Aqila selesai berargumen, saya memintanya menirukan apa yang saya sebutkan. Sambil menunjukkan bentuk-bentuk geometri yang telah dibuat, saya menyebutkan namanya dan Aqila Pun turut menirukannya. Saya mengulanginya hingga beberapa kali, saya pun merasa penasaran dengan pemahamannya. Lalu kutunjuk salah satu bentuk geometri dan kuminta ia menyebutkan namanya, tapi apa jawabnya? Ia jawab tidak tahu. Sedikit menguji kesabaran jika menghadapi hal yang demikian . Beberapa kali kutanyakan dan ia tetap menjawab tidak tahu. Lalu kucoba ganti cara bertanyaku. Satu persatu ku tanyakan, mana segitiga? Mana persegi panjang? Mana trapesium? Mana lingkaran? Dan seterusnya. Rupanya dengan cara bertanya seperti ini Ia dapat menunjukkan semua bentuk itu dengan benar. Para ibu memang harus sabar mendampingi buah hatinya dan berupaya menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan keinginan dan karakter anak. Aqila yang shalihah, engkau anak yang baik dan pintar tetap semangat ya nak...meski belum bisa pun tak apa-apa, kita hanya bersenang-senang setiap hari.

Senin, 03 Desember 2018

 Mulanya Diragukan Ternyata Begini Kalo Aqila Nyanyi-Naik Delman

masih inget sama lagu ini bunda

Pada Hari Minggu ku turut ayah ke kota..
Naik delman istimewa ku duduk di muka..
Ku duduk samping pak kusir yang sedang bekerja...
Mengendarai kuda supaya baik jalannya..

Tuk-tik-tak-tik-tuk tik-tak-tik-tuk
tik-tak-tik-tukTuk-tik-tak-tik-tuk
tik-tak suara s'patu kuda

hee masih inget kan, nah kali ini bunda berhasil merekam momen dimana Mulanya Diragukan Ternyata Begini Kalo Aqila Nyanyi-Naik Delman namun inilah hasilnya..

mulanya bunda sama aqila bermain botol yang di isi dengan air.
Mulanya Diragukan Ternyata Begini Kalo Aqila Nyanyi-Naik Delman

 

jadi gemes ya bunda
Mulanya Diragukan Ternyata Begini Kalo Aqila Nyanyi-Naik Delman

Senin, 26 November 2018


KREATIF TANPA BATAS




Pada dasarnya anak-anak yang berada pada usia dini memiliki kreativitas alamiah jika perkembagannya sehat dan normal. Apabila mereka tidak menunjukkan ciri-ciri kreativitas pada perkembangan usianya, maka sebagai orangtua kita perlu intropeksi pada diri sendiri apakah ada yang tidak wajar pada perkembangan anak. Kreativitas pada anak tidak boleh kita batasi dengan persepsi kita atau dengan standar-standar orangtua bahwa tingkat kreativitas anak harus mampu memiliki daya cipta. Kerena pada dasarnya kreativitas mencakup beberapa hal yang ditinjau dari sisi produk, proses, pribadi dan pendorongnya. KREATIF TANPA BATAS

Baca Juga ya



Mari kita lihat kreativitas anak yang ditinjau dari produk. Arti produk disini adalah berupa hasil karya berupa produk-produk. Apakah produknya harus baru? Tentu saja tidak. Produk atau hasil karya yang diciptakan dapat berupa gabungan dari beberapa hal yang sudah ada sebelumnya. Baik pengalaman, pengetahuan dan informasi yang dimiliki untuk menciptakan produk baru. Artinya ada sentuhan modifikasi dalam menciptakan produknya, tidak mutlak benar-benar sama dengan produk yang telah ada sebelumnya. Nah, sehingga kreativitas yang ditinjau dari sisi produk ini merupakan kemampuan anak untuk mencipta atau menghasilkan produk-produk baru. KREATIF TANPA BATAS



Selanjutnya adalah kretivitas yang ditinjau dari sisi proses. Aktivitas setiap anak dapat kita lihat sebagai kreativitas manakala mereka menyibukkan dirinya dalam kegiatan yang berdaya guna. Mereka bermain dengan ide-ide yang muncul dari dalam dirinya dan melakukannya dengan senang hati tanpa berpatookan pada hasil dari sebuah proses tersebut. Lihatlah keasyikan anak-anak kita ketika bermain dan terlibat dalam sebuah kegiatan yang penuh tantangan. Kita sebagai orangtua tak perlu menekankan pada hasil akhir yang akan dicapai oleh anak-anak itu, melainkan pada prosesnya. Apakah mereka menikmati permainannya, apakah mereka bahagia, apakah dalam proses itu anak menjadi bertambah rasa ingintahunya, sehingga memiliki keinginan untuk mencoba lebih banyak lagi hal-hal baru. Ketika dalam proses itu anak-anak dapat menunjukkan sikap berani bereksperimen, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, tidak takut gagal dan lain-lain, maka sesungguhnya anak telah memiliki daya kreativitas yang kelak ia akan tumbuh menjadi seseorang yang kreativ serta memiliki terobosan-terobosan baru yang akan dilakukannya. KREATIF TANPA BATAS



Baca Juga ya


Kreativitas ditinjau dari segi pribadi. Dalam hal ini orangtua perlu memiliki keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi kreativ, hanya saja bidang yang mereka kuasai itu berbeda-beda. Ciri sifat kreativ disini lebih mengarah pada perilaku afektif, kognitif dan psikomotor. Tingkat perbedaan kreativitas pada setiap anak harus kita pandang sebagai keunikan yang beragam dan sangat perlu kita hargai kemampuannya. Jadi kita tidak perlu menuntut anak untuk menjadi sama seperti anak yang lain. alangkah baiknya jika sebagai orangtua justru menekankan pada sisi kreativitas anak yang paling menonjol. Hal ini akan membuat anak semakin termotivasi untuk melakukan yang terbaik.

Kreativitas dilihat dari sisi pendorong. Pendorong bagi anak untuk dapat melakukan sesuatu. Baik pendorong dari sisi internal dan eksternalnya. Ada pendorong yang berasal dari dalam diri anak itu sendiri. Seperti gagasan yang muncul dari dirinya, keingingan dan hasrat yang dimiliki dll. Inilah factor internal. Sedangkan factor eksternal atau factor yang muncul dari luar diri anak seperti, pengalaman yang yang pernah dialami anak, sikap oranglain yang menghargai apa yang dilakukan anak, adanaya sarana yang memadai untuk anak melakukan kreativitasnya dll. Apabila orangtua menyadari dan memahami potensi yang dimiliki anak dan peduli dengan perkembangannya, maka orangtua akan berupaya memebrikan fasilitas sarana dan prasarana dalam rangka mendukung perkembangan kreativitas yang dimiliki anak.


Nah, itulah beberapa bentuk kreativitas yang ditinjau dari berbagai sisi. Kalau dilihat dari peran otak yang cenderung memengaruhi perkembangan kreativitas anak, maka belahan otak kanan lah yang paling berperan. Belahan otak kanan lebih intuitif dan imajinatif. Ia mengontrol kegiatan tubuh bagian kiri. Otak kanan perlu mendapat perhatian khusus dan jangan diabaikan. Banyak orangtua yang menginginkan anak-anaknya segera cepat membaca, berhitung, menghafal dll, namun mereka kurang memperhatikan sisi kemapuan anak mengendalikan emosinya, keberaniannya, daya imajinasinya,kepekaan empatinya dan kemampuannya bersosialisasi kurang mendapat  perhatian dari orangtua bahkan sekolah. Ketidakseimbangan perkembangan otak kanan dan kiri akan mengakibatkan anak sangat mudah sekali bosan, termasuk bosan sekolah. Karena system Pendidikan yang yang tidak memperhatikan penggunaan fasilitas yang merangsang visualisasi, imajinasi dan kreasi anak. 

Kreativitas alamiah yang ada dalam diri anak harus mendapat bimbingan dan arahan secara benar supaya dapat berkembang secara optimal. Apalagi anak usia dibawah lima tahun atau pra sekolah adalah masa yang paling tepat untuk mengembangkan kreativitas anak. Iia memiliki daya nalar dan daya kritis yang baik karena berada pada fase ingin mengenal diri dan lingkungannya. Ia juga memiliki rasa ingin tahu dengan berusaha mencoba banyak hal. Inilah masa perkembagan kreativitas yang disertai dengan perkembangan intelektual yang lain. maka pada usia ini anak perlu sekali mendapatkan perhatian dan bimbingan supaya keseimbangan fungsi otaknya terjaga.

Nah, para bunda sekalian mari amati dan perhatikan setiap aktivitas anak-anak kita. kemanakah arah kecenderungan belajarnya dalam mengeksplorasi diri dan lingkungannya. Kecerdasan apa yang paling menonjol dalam diri anak kita dan jenis kreativitas yang mana yang dimilikinya. Informasi yang kita dapatkan dari hasil pengamatan kita akan memudahkan kita memberikan pengarahan dan pendampinga serta memenuhi kebutuhan belajarnya termasuk sarana dan prasarananya. Berika keleluasaan pada anak-anak untuk mengembangkan kreativitas dirinya dengan mencoba hal-hal baru yang membuat mereka penasaran dan ingin tahu. Janganlah kita menjadi orangtua yang justru akan menjadi actor penghambat perkembangan kreativitas anak. Terkadang sikap-sikap orangtualah yang menjadikan anak tidak berkembang daya kreativitasnya. Sikap-sikap yang seperti apa yang perlu dihindari agar tidak menjadi pemicu terhambatnya kreativitas anak? Sikap-sikap itu antara lain, selalu khawatir dan takut sehingga akan selalu membatasi aktivitas anak, terlalu protektif dan mengawasi berlebihan atas apa yang sedang dilakukan anak, terlalu memberikan penekanan yang berlebihan pada bentuk nilai displin yang dipaksakan seperti kebersihan dan kerapihan, memberikan cara pandang mutlak orangtua tanpa memberikan kesempatan pada anak untuk mencoba yang lain dan tidak memberi kesempatan anak untuk mengutarakan gagasan dan idenya. Hindari mengomel dan mengkritik anak dan segala hal yang dilakukannya, jarang memberikan apresiasi kepada anak walau hanya sekedar pujian.
Semoga kita dapat menjadi orangtua yang senantiasa mengasah ketajaman mata hati dengan senantiasa memperhatikan fitrah-fitrah anak. Menjadi orangtua pendidik yang dapat memupuk dan mengembangkan kreativitas anak dengan kasih sayang dan memahami kebutuhan anak. 
KREATIF TANPA BATAS

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

ANDROID SOURCE CODES MURAH

ADVERTISEMENT

IKUTI KAMI

Total Pageviews

Popular Posts

ADVERTISEMENT

Aqila Nyanyi - Naik Delman

IKUTI FANSPAGE KAMI

Unordered List

Text Widget