Tampilkan postingan dengan label Bunda Cekatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bunda Cekatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2020

Bekal Untuk Buddy-Ku


Bismillahirrohmanirrohim...

Tugas terakhir di kelas Bunda Cekatan, IIP tahap ulat-ulat adalah mencari buddy, membuat aliran rasa dan meraba aliran rasa sang buddy. Kemudian menyiapkan bekal untuknya menghadapi tantangan pada fase kepompong.

Ketika Saya sedang berpikir siapa yang akan menjadi buddyku, tanpa diduga dan rasanya seperti mimpi. Saya dilamar oleh orang paling keren yang selalu saya ikuti medsosnya. Dialah penulis puluhan buku panutanku, Mbak Naqiyyah Syam. Saya sempat ternganga membaca pesannya lewat Whatsapp. Sempat juga terbesit rasa minder dan bahagia. Apakah beliau nggak salah pilih buddy ya? Bahagianya adalah, saya merasa ini adalah kesempatan emas bagi saya untuk mengeruk ilmu darinya dalam-dalam.

Namun, Saya merasa sedih karena ternyata beliau sedang sakit. Meskipun begitu, komunikasi dan interaksi diantara kami tetap berjalan. Kami saling mengirimkan aliran rasa. Ternyata kami memiliki beberapa kesamaan pada makanan utama. Dan yang paling penting Mbak Naqi itu orangnya sangat baik, ramah, sarat dengan ilmu yang saya butuhkan. Jadi sebenarnya beliau ini adalah salah satu sumber belajarku juga.


Nah, dalam memaknai tugas ini, saya melakukan perenungan terkait perjalanan seekor ulat untuk menjadi kepompong. Setelah makan kenyang, si ulat akan mempersiapkan diri menjadi kepompong dan mencari tempat ternyaman. Masa kepompong adalah masa aktualisasi. Sebelum berpuasa dan menyendiri, perlu kiranya kita menengok di sekitar kita. Peduli dengan orang yang ada di kanan kirinya, mendengarkan kebutuhannya dan menyiapkan bekal kebutuhan mereka sebelum kebutuhan kita sendiri. Saling mengisi dan memberi. Pada fase ini, akhirnya sang calon kupu-kupu juga butuh waktu untuk menyendiri guna memahami hakikat dirinya dan menata kembali ilmunya untuk diamalkan pada kehidupan.

Akhirnya saya pun belajar pada proses metamorfosis kupu-kupu. Pada saat sang ulat akan menjadi kepompong, dia akan makan makanan yg banyak untuk menjadi cadangan makanan di dalam pupa. Di dalam pupa, cairan pencernaan akan dikeluarkan untuk menghancurkan tubuh larva, menyisakan sebagian sel saja. Sebagian sel itu kemudian akan tumbuh menjadi dewasa menggunakan nutrisi dari hancuran tubuh larva.

Saat menjadi kepompong, apabila kepompong tidak bergantung kuat pada sesuatu, maka ia akan jatuh dan gagal menjadi seekor kupu-kupu. Sehingga sang ulat juga memerlukan alat untuk bergantung dengan kuat.

Selama tahap ini, tubuh lama ulat mati dan membentuk tubuh baru di dalam kepompong. Ulat akan memintal diri mereka dengan sutera dan menjadi kepompong. Banyak dari kita yang menganggap kepompong sebagai tempat ulat, tapi sebenarnya tidak ada istirahat di dalam kepompong. Sebaliknya, ada banyak yang dilakukan di dalam kepompong. Di dalam kepompong, ulat berubah menjadi makhluk baru.

Ini mengharuskan tubuh ulat yang lama dipecah dan berubah menjadi sesuatu yang baru. Cara kerja ini mirip seperti daur ulang. Di dalam kepompong, tubuh ulat mencerna dirinya sendiri secara keseluruhan. Enzim yang digunakan untuk mencerna makanan, sekarang digunakan ulat untuk memecah tubuhnya sendiri. Enzim ini memecah tubuh ulat lama menjadi sel-sel yang disebut sel- sel imajinal. Banyak dari sel-sel imajinal ini digunakan untuk membentuk tubuh baru.

Melalui analog proses daur hidup itu, saya membaca dengan hati apa yang dibutuhkan oleh Buddy-ku. Semoga tidak salah dan bisa bermanfaat ya Mbak Naqi. Mohon maaf jika bekal ini kurang tepat.

  1. Cadangan makanan ( tambahan ilmu) :





  1. Alat bergantung yang kuat :

Q.S. Al -Mujadilah : 11
Q.S. Thaha : 114
Q.S. At-Talaq : 12

  1. Sutera sebagai benang pemintal diri menjadi kepompong :

  • Aplikasi Sticy Notes + Widget. Ini adalah aplikasi tempel sederhana dengan memo gambar untuk layar beranda.
  • Aplikasi Do It. Widget dengan memo-memo yang lucu.
Apl. Sticy Notes
Apl. Do It

Aplikasi itu berguna untuk membuat list ilmu yang dimiliki dan mencatat nama-nama yg membutuhkan ilmu itu.

  1. Enzim paling nikmat untuk memecah dirinya sendiri:

  • Tabel waktu Produktif untuk mencatat peristiwa paling mengesankan dan catatan start from finish line serta capaian prestasi diri.
  • Tabel Ruang ekspresi.
  • Aplikasi Sectograph sebagai alat yang membantu mempertajam rasa waktu dan memvisualisasikan hari.

Menu Aktivitaa
Tabel Ruang Ekspresi
Tabel waktu produktif


Apl. Sectograph


Dan yang paling mendasar dari penerapan ilmu atau mengamalkan ilmu adalah :

a . Mengamalkannya kepada orang lain.
b. Menjalani kehidupan sehari-hari dengan sifat-sifat baik.
c. Tidak menyalahgunakan ilmu yang telah kita miliki.
d. Membantu orang lain dengan ilmu pengetahuan.


Terimakasih banyak Mbak Naqi atas lamaran nya, kebersamaan dan sharingnya selama hampir sepekan ini. Semoga kita senantiasa konsisten dan komitmen kita pada tujuan belajar kita. Semoga Allah merahmati kita selalu ….

Senin, 02 Maret 2020

Refleksi Bagaimana Aku Belajar


Meninjau dan mengevaluasi bukan hanya untuk sesuatu yang telah dipelajari. Tetapi yang jauh lebih penting adalah menjadikan apa yang telah dipelajari itu sebagai "jantung" dari segala proses  untuk menjadi seorang pembelajar yang merdeka dan mandiri.

Jika terbiasa dengan melakukan evaluasi terhadap cara belajar, maka aku akan memiliki kontrol atas hidupku sendiri dan aku akan terus dapat meningkatkan kapasitas diri melalui informasi yang didapatkan.

Evaluasi juga dapat disebut dengan pemantauan atau proses introspeksi diri. Hal ini merupakan karakteristik kunci yang wajib dimiliki oleh seorang pembelajar. Jika menemui kesulitan atau kegagalan pada saat berproses maka sesungguhnya aku telah mendapatkan pelajaran tentang sebuah prinsip yang sangat bermanfaat bagi masa depanku. Dan ini lebih baik daripada memiliki kesuksesan atau keberuntungan yang hanya diperoleh satu kali yang darinya justru aku tidak mempelajari apapun untuk masa depan.

Maka, aku benar-benar harus menyediakan waktu khusus untuk melakukan refleksi atas pengalaman yang telah didapatkan selama ini dengan cara yang bisa membuat aku memiliki peningkatan kapasitas diri. Tentu saja aku akan mengandalkan kemampuan metakognitif  dalam proses refleksi diri ini, memikirkan bagaimana aku berpikir. Menjadi sadar akan langkah dan strategi yang diambil selama belajar dan memecahkan masalah. Lalu berpacu terus untuk melanjutkan langkah dan strategi itu.

Aku memulai dari menengok kembali tujuan utama akau belajar dan mind map yang telah kubuat selama ini. Dengan sangat sadar aku telah menetapkan 5 ilmu yang akan aku pelajari untuk beberapa waktu lalu. Yaitu ilmu tentang kepenulisan, public speaking, portofolio anak, manajemen waktu dan problem solving. Nah, dari kelima hal ini aku telah banyak mendapatkan makanan utama yang aku butuhkan. Diantaranya,

1 . Kepenulisan

* cara membuat cerita anak yang menarik
* tips dan trik tembus ke penerbit mayor
* kiat menjadi penulis best seller

2.  Portofolio Anak

*manfaat menulis portofolio anak
*jenis-jenis portofolio anak
*membuat bank data
*persiapan untuk menulis portofolio anak
*menyusun menu kegiatan anak

3. Public Speaking

*menampilkan gaya yang khas
*membuat topik menarik
*cara mengenali audience
*membuat visualisasi
*focus on message

4. Manajemen Waktu

*mengutamakan yang prioritas
*Menghindari hal kecil
*focus

Adapun makanan cemilan yang kudapat adalah tentang tips seputar kecantikan. Diantaranya adalah cara merawat wajah dengan es batu, merawat rambut, dan tips mengatasi wajah berminyak. Selain itu aku juga mendapat camilan tentang parenting terutama pada tema bakat. Nah ilmunya adalah tentang mengenali dan memandu bakat anak.

Ketika proses perkenalan juga aku mendapatkan beberapa hadiah makanan yang lezat. Yaitu materi tentang portofolio anak yang disampaikan oleh Ust. Harry Santoso. Lalu hadiah yang tak kalah keren adalah tentang membuat skenario perencanaan portofolio anak. Selanjutnya adalah hadiah bertema parenting. Yaitu kiat mendidik anak ala Nabi. Dan yang terakhir adalah hadiah seputar kecantikan tentang memadu padankan model pakaian, warna dan aksesorisnya.

Nah, itulah beberapa hal yang aku dapatkan dari perjalananku mencari makanan kebutuhanku dalam belajar. Beberapa hadiah yang ada masuk ke dalam mind map kehidupanku dan yang lain menjadi camilan yang juga bergizi dan bermanfaat. Alhamdulillah selama berkelana di hutan ilmu, aku lebih banyak mendapatkan makanan utama daripada camilan.

Adapun strategi yang selama ini aku gunakan adalah
  1. Jujur. Aku selalu jujur pada diri sendiri tentang hal-hal yang aku butuhkan atau yang hanya aku inginkan.ini adalah sebuah konsep memilah dan memilih, sehingga hal ini cukup membantuku untuk mendapatkan makanan utama yang aku butuhkan. Karena dari kejujuranku ini, justru membawa berkah tersendiri yang menjadikan teman-teman yang lain mengerti tentang kebutuhanku. Sehingga mereka juga turut membantu dalam mendapatkan ilmu yang aku butuhkan dan membawakannya kepadaku.
  2. Fokus dan Konsisten. Terbiasa dengan fokus pada satu pilihan, membuatku mudah mengendalikan diri saat godaan yang indah muncul. Setia pada sesuatu yang telah ditetapkan sendiri. Konsistensi yang kulakukan adalah terhadap durasi waktu dan proses mencatat. Aku selalu membuat daftar menu makanan utama yang telah kusantap dan yang akan kusantap. Serta membuat lembar ceklis terhadap hal yang telah kulakukan atau telah kusampaikan kepada orang lain.
  3. Membuat Sketsa. Setelah aku mencatat apa yang telah aku ketahui dan kulakukan, aku memulai mengamati hal - hal yang yang belum aku ketahui. Dari catatan itu, aku merasa terbantu untuk mengisi ruang kosong yang belum terisi. Sehingga aku dapat menggambarkannya melalui sketsa belajar sederhana.
  4. Menggunakan Gaya Belajar yang Dominan. Nah, saya adalah seorang yang memiliki gaya belajar visual dan Auditori. Sehingga saya sangat suka dengan metode belajar melalui video, membaca, dan berdiskusi.

Berikut ini adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan refleksi belajarku.


Sabtu, 25 Januari 2020

Belajar Di Hutan Ilmu


Tugas di kelas Bunda Cekatan kali ini sangat unik. Saya memasuki hutan ilmu pengetahuan yang begitu banyak pilihan makanan yang menarik. Teman-teman member IIP di kelas Buncek Batch 1 ini memang luar biasa. Semua ahli di bidangnya dan hal-hal kecil nan sederhana pun bisa  menjadi bahasan topik yang menarik dan dikemas dengan sangat profesional. Sehingga hal ini tentu saja menjadi godaan bagi saya ingin mencicipi semua makanan yang ada di hutan itu. Namun, lagi-lagi saya harus mengingat akan tujuan utama dan makanan pokok saya. Melalui proses yang unik dan menyenangkan ini, ada beberapa hal yang menjadi pemikiran dan pengingat bagi saya. Yaitu, betapa pentingnya peran orang lain dalam kehidupan kita. Kita benar-benar butuh oranglain.

Orang lain dalam struktur sosial merupakan penyangga bagi kebutuhan dan kemajuan kita. Karena pada diri mereka terdapat banyak pengalaman berharga yang dapat dijadikan guru untuk membimbing dan mendukung kehidupan kita. Saling menolong dalam urusan kehidupan secara berjamaah untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Hidup kita akan mengalami berbagai hambatan kalau tidak didukung oleh orang lain.

Artinya keberadaan orang lain dengan daya kreasinya bisa menjadi inspirator untuk kita. Maka belajar dengan orang lain berarti “studi banding” untuk belajar meniru orang lain dalam bidang yang dibutuhkan. Belajar dari orang lain itu ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mengakselerasi diri kita.

Adalah sesuatu yang tidak salah kalau kita mau meniru kemajuan telah dicapai orang lain sepanjang dilakukan untuk kebaikan bersama dengan memperhatikan etika dan adab dalam kebersamaan tersebut. Sebab kebesaran dan kehebatan kita itu karena kontribusi kehebatan orang lain pada kita. Kenyataan tidak bisa dipungkiri, dan harus diakui apa adanya bahwa orang lain ternyata ikut membesarkan kita.

Benar-benar bahagia mendapat kesempatan yang luar biasa ini. Belajar dari orang lain yang telah lebih dulu paham dan mempraktekannya. Apalagi hampir semua kebutuhan keilmuan yang saya butuhkan ada disana. Nah, dari penjajakan dan pencarian ilmu di hutan pengetahuan itu, beberapa diantaranya saya catat dan dokumentasikan dalam potluck berikut ini:


#janganlupabahagia
#jurnalminggu2
#materi2
#kelasulat
#bundacekatan
#buncekbatch1
#buncekIIP
#institutibuprofesional

Jumat, 17 Januari 2020

Menempa Diri


Sesungguhnya ilmu adalah cahaya dan kehidupan. Karena ilmu merupakan kebutuhan primer melebihi kebutuhan fisik kita. Kebutuhan kita kepada ilmu sangat. banyak, sebanyak hembusan nafas. Sadarkah bahwa setiap nafas selalu dibutuhkan iman dan hikmah. Jika nafasnya nihil dari iman atau hikmah, betapa ia sangat merugi. semakin jauh umur seseorang, maka semakin dekat ia dengan waktu kematiannya. Manusia tak akan mendapatkan jalan untuk membebaskan diri kecuali dengan ilmu.

Ilmu merupakan sarana untuk bertakwa kepada Allah. Dalam kehidupan, ilmu pengetahuan mempunyai peran yang sangat penting. Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia. Bahkan kemajuan peradaban sebuah bangsa tergantung kemajuan ilmu pengetahuan yang melingkupi.

Peradaban besar sebuah bangsa dimulai dari rumah. Seorang ibu yang akan mengantarkan anak-anaknya pada peradaban yang gemilang. Sehingga peran ini dalam praktiknya seharusnya sarat dengan ilmu. Menyadari peran diri yang begitu istimewa, belajar adalah sebuah keharusan. Menjadi orangtua adalah pekerjaan yang tak pernah usai. Maka belajar adalah sebuah aktivitas wajib baginya.

Menjadi baik itu lebih baik daripada menjadi benar. Sehingga tempaan hidup dan berbagai pengalaman akan menjadikan seseorang memiliki kebijaksanaan. Begitupun seorang ibu, ia butuh menjadi waras daripada bersikap perfeksionis. Menjadi waras bukan berarti bersenang-senang sesukanya. Tapi menjalani semua peran, tugas dan tanggung jawabnya dengan bahagia. Namun untuk menjadi bahagia juga butuh ilmu. Bagaimana ia dapat mengelola semua pekerjaan dan tanggung jawabnya dengan baik dan dapat bersegera menjalankan aktivitas yang membuatnya bahagia.

Saya, sedang menjalankan peran itu dan berada pada tahap menggali ilmu dari berbagai referensi. Fokus pada 5 jenis ilmu yang telah tertuang pada mind map. Yaitu manajemen waktu, manajemen problem solving, kurikulum pendidikan anak di rumah, kepenulisan dan MAP. Memadukan kebutuhan di ranah domestik dan publik. Untuk pekan ini saya fokus untuk pengembangan diri dan mendalami ilmu tentang manajemen waktu. Proses mencari dan menentukan referensinya, saya tuangkan dalam pict berikut ini :



#Jurnal1
#KelasUlat
#BuncekBatch1
#InstituteIbuProfesional

Sabtu, 11 Januari 2020

Mind Map Sebagai Strategi Visual


Beberapa waktu lalu, Saya belajar memetakan kebutuhan ilmu dan keterampilan dalam menjalankan aktivitas produktif dan tentunya menjadikan diri semakin berbinar. Mengetahui dengan mantab di ranah mana akan mengaktualisasikan diri dan berkontribusi. Lalu berpijak pada semua hal yang telah tertuang pada telur merah dan oranye, saya menentukan hal yang paling prioritas. Kemudian mengonsep kurikulum belajar ala saya sendiri. Belajar untuk memiliki keterampilan sebagai penunjang kebahagiaan dalam kehidupan sehari-sehari. Awalnya saya berpikir, pentingkah hal-hal ini saya lakukan? Rupanya hal itu tidak saja penting tapi mendesak sekali dan harus segera dilakukan. Mengapa? Tentu saja karena saya tengah hidup di era digital yang segala bentuk informasi bisa dengan mudah membludak tanpa terbendung lagi. Sehingga luapan informasi itu bukannya akan menjadikan saya semakin paham dan terampil dalam menguasai suatu ilmu. Tapi gelombang informasi yang debitnya tak dapat diukur itu justru akan menenggelamkan diri saya. Seolah banyak yang didapat, tapi nyatanya tak satupun dikuasai.

Semakin memahami pola dan arahnya, saya menentukan tujuan utama. Mau dibawa kemana semua proses ini? Dan Untuk apa? Saya meramu tujuan belajar yang saya korelasikan dengan tujuan hidup tentunya, Namun lebih spesifik pada "saya mau nya apa"😅.

Maka, pada sesi keempat di kuliah bunda cekatan IIP, saya mendapat arahan untuk membuat mind map atau peta konsep. Sebuah metode yang dulu sering sekali saya lakukan saat masih kuliah di perguruan tinggi dan telah lama saya tinggalkan. Lebih tepatnya saat saya telah berumah tangga😃. Artinya apa? Artinya tak ada kata expired untuk sebuah ilmu. Yang ada manusianya yang sudah enggan mengupgrade diri. Saat menyimak Pak Dodik menyampaikan materi, saya seolah sedang mengkonstruksi beberapa pengetahuan tentang mind map.


Bagi saya, peta konsep atau peta pembelajaran adalah cara yang dinamik untuk menangkap butir-butir pokok informasi yang signifikan. Dalam mind map, konsep yang digunakan adalah format global yang mana informasi ditunjukkan secara serempak dari berbagai arah. Mirip sekali dengan fungsi saraf otak kita. Telah kita ketahui bahwa proses berpikir merupakan kombinasi yang sangat kompleks dari kata, gambar, warna, sketsa, bahkan suara. Sehingga proses membuat dan menyajikan peta konsep dalam belajar itu mendekati cara alamiah otak dalam berpikir. Hal ini tidak hanya berlaku dalam menangkap informasi atau pelajaran saja, akan tetapi juga berlaku saat kita hendak merancang sesuatu.

Ketika kita menuangkan berbagai informasi dengan menggunakan peta-peta konsep, kapasitas penyimpanan dalam otak kita juga akan meningkat. Karena formatnya menarik secara visual dan tersaji secara global. Jika saya membuat peta konsep, maka jiwa emosional saya turut terlibat. Terlebih lagi jika saya menyertakan warna dalam membuatnya, peta konsep itu menjadi sebuah ramuan informasi yang lebih spesifik dan bersifat personal bagi saya, "aku banget" jadinya.

Metode peta konsep ini sangat menguntungkan. Hanya dengan satu halaman, kita dapat menuangkan dan mencatat banyak informasi.  Kita juga dapat melihat keterkaitan dan hubungan berbagai ide atau konsep satu dengan yang lain. Penggambaran secara visual dapat membantu kita dalam berpikir suatu subjek secara global dan kita dapat lebih fleksibel menyesuaikan alur pemikiran kita.

Dan inilah hasil mind map yang saya buat dalam jurnal ke empat.



#Jurnal4
#KelasTelur
#BuncekBatch1
#InstituteIbuProfesional



Jumat, 03 Januari 2020

MERDEKA BELAJAR, BELAJAR MERDEKA


Belajar merupakan proses perubahan menuju tujuan belajar itu sendiri. Sebagai bentuk interaksi seseorang dengan lingkunganya. Belajar menjadi sebuah kunci dalam proses mendidik. Baik mendidik diri sendiri maupun orang lain. Jika tanpa proses belajar maka segala usaha dalam pendidikan tidak akan terlaksana secara baik. Bahkan kualitas perkembangan manusia juga merupakan hasil nyata dari proses belajar, dan tentunya sangat menentukan tingkat peradaban dan derajat seseorang.

Update diri  dilakukan dengan belajar. Melalui belajar, maka pastinya khasanah ilmu dan pengetahuan akan terus bertambah. Banyaknya keilmuan yang semakin bertambah tentunya memberikan efek pada kepercayaan diri.

Setiap orang harus memiliki kepercayaan diri dalam menjalani kehidupannya.
Kepercayaan diri bukanlah hal sepele, bukankah seseorang yang hidupnya percaya diri umumnya jauh dari perilaku yang ragu-ragu dan yakin terhadap apa yang dikerjakannya. Kepercayaan diri ini lah yang akan sangat berguna dalam kehidupan sosial dan siap dengan segala bentuk perubahan.

Dalam prosesnya, seseorang memerlukan kemerdekaan dalam belajar. Merdeka belajar berarti merdeka berpikir. Kemerdekaan ini yang akan membawa seseorang kepada sikap yang mandiri dan adaptif terhadap segala macam perubahan yang terjadi dengan segenap konsekuensi logisnya berupa kemungkinan baik atau buruk. Ada nilai sikap yang sangat penting dan harus ada pada proses merdeka belajar. Yaitu komitmen dan tanggung jawab.

Komitmen seseorang yang merdeka belajar adalah ketekunannya dalam berjuang untuk mencapai tujuan yang bermakna bagi dirinya. Untuk bisa menumbuhkan komitmen yang berkelanjutan, kita membutuhkan kemampuan memahami tujuan belajar. Banyak dari kita yang tertarik dengan berbagai ilmu lalu membaca semua referensi dari semua informasi yang muncul seolah hendak ingin menaklukkan semuanya. Akan tetapi seringkali kita tidak memiliki gambaran tujuan dan rute perjalanan dalam proses belajarnya.

Dalam hal ini, motivasi internal untuk menguasai suatu ilmu perlu ditekankan. Memahami konsep penting, melihat kaitan antar pengetahuan dan semua hal yang berkaitan dengan ilmu yang ingin dikuasai harus sering dilakukan. Hal ini pula yang menjadi cambuk bagi saya untuk berkemas dan bersiap menata diri melakukan perubahan. Menentukan tujuan belajar dan menentukan ilmu pendukung,memilih dan memilah yang paling prioritas serta membuat kurikulum belajar sendiri menuju kemerdekaan belajar. Belajar secara independen dan bertanggung jawab. Fokus pada ketuntasan belajar bukan pada kebebasan. Dapat mandiri pada cara belajar, membuat rute perjalanan belajar dalam  mencapai tujuan. Semua itu saya tuangkan pada tahap ketiga di kelas telur-telur. Setelah telur hijau, telur merah maka kali ini adalah telur orange. Nah, sebelum saya mengerucutkan ilmu-ilmu prioritas, saya mencoba membuat skema sederhana melalui tabel berikut ini yang mengacu pada keterampilan di telur merah;


NO
AKTIVITAS
KETERAMPILAN
TUJUAN
ILMU
PRIORITAS
1
Menulis
Fokus
Menuntaskan tulisan tanpa locatan2
-teknik menulis kreatif dan spesifik

-pendekatan menulis

-menyunting&merevisi draft tulisan
Menyunting dan merevisi draft tulisan
2
Bermain dg anak
Membuat konsep bermain & instrumen observasi
Dapat mengamati, menyelami dan menggali minat bakat anak saat bermain
-parenting

-kurikulum berbasis pengasuhan

-klasifikasi permainan

-tahapan bermain

-teknik membuat portofolio
Kurikulum pendidikan di rumah berbasis pengasuhan
3
Public Speaking
MAP
supaya ilmu yang disampaikan mudah dipahami, lebih mengena dan menarik
-teknik presentasi yg baik & efektif

-power point

-kerangka presentasi

-Desain ilustrasi,grafis dan visual
Desain ilustrasi,grafis dan visual
4
Membaca
Manajemen waktu
Supaya tidak kebablasan menikmati bacaan serta lebih efisien dg waktu dlm memahami bacaan
-strategi & konsep manajemen waktu

- tahapan2 manajemen waktu

-aspek2 manajemen waktu
Strategi Dan konsep manajemen waktu
5
Berorganisasi
Problem solving
Dapat mengatasi masalah secara benar,cepat dan tepat.
-manajemen konflik

-psikologi massa

-model dan pendekatan Problem Solving

-Teknik Problem Solving
Teknik Problem Solving



Seperti itulah kira-kira gambaran sederhana alur saya dalam proses belajar. Saya meyakini bahwa, belajar akan menggiring kita pada kualitas hidup yang lebih terarah. Karena hidup yang memiliki visi pastinya dapat dicapai melalui ilmu. Itu merupakan peran ke sekian dari belajar.

Semoga kita bukan termasuk orang yang rugi karena kehilangan semangat belajar. Karena semua bentuk kualitas hidup yang baik hanya bisa dicapai dengan belajar. Maka, setiap kita memang harus mencurahkan waktu untuk peningkatan diri dengan belajar.

#Jurnal3
#KelasTelur
#BuncekBatch1
#InstituteIbuProfesional

Jumat, 20 Desember 2019


BAHAGIA BELAJAR, MERDEKA BELAJAR



“Ruang kelas terbaik di negara manapun, bukanlah di sekolah atau universitas, tapi berada di sekitar meja makan di rumah” Dr. Richard Berenden

Kalimat itu menjadi motivasi bagi saya untuk menjalani peran sebagai ibu. Tentu saja untuk menjalankan peran ini pasti berangkat dari rumah. Pendidikan di rumah adalah yang terpenting. Maka, saya harus bersungguh-sungguh menjalani peran ini. Tapi bersungguh-sungguh saja tidak cukup. Saya harus melibatkan emosi diri saya. Maka saya harus bahagia. Keberhasilan Pendidikan anak dimulai dari keberhasilan orangtua membangun kebahagiaan rumah tangganya. Hanya orangtua yang Bahagia yang dapat membahagiakan anak-anaknya. Membangun suasana yang menyenangkan bagi anak-anak untuk belajar dan bertumbuh kembang sesuai dengan harapan. Bahagia itu pun perlu diperjuangkan. Mampu mempertahankan detik demi detik umur pernikahan adalah sebuah prestasi. Maka, setiap waktu, peristiwa dan tantangan akan membawa anggota keluarga pada proses belajar. Belajar dan terus belajar untuk meningkatkan kapasitas diri. Tentu saja saya sebagai ratu di rumah, harus memiliki spirit ini. Begitu banyak peran, tugas dan tanggungjawab yang tak cukup hanya dikerjakan dan tak sekedar asal selesai saja. Namun lebih dari itu, semua butuh ilmu dan kecakapan. Dan untuk mendapatkannya tentu saja harus belajar. Namun, yang jauh lebih penting dari belajar itu sendiri adalah mengetahui bagaimana caranya belajar. Jadi belajar bagaimana belajar dan menentukan kurikulum belajar yang “gue” banget. Supaa semua peran itu dapat dijalani dengan bahagia dan semua tugas dapat terselesaikan dengan bahagia.

Saya mengawalinya dengan sebuah perencanaan atau desain pembelajaran. Desain pembelajaran merupakan proses untuk menentukan metode pembelajaran yang paling baik dilaksanakan agar timbul perubahan pengetahuan, keterampilan dan sikap pada diri pembelajar ke arah yang dikehendaki. Proses penyusunan desain ini saya berkonsultasi dengan suami yang beliau seorang sarjana pendidikan. Sehingga memudahkan saya dalam menentukan kata kunci untuk menyusunnya. Kami berkolaborasi untuk menetukan topik-topik materinya tentang apa saja yang akan saya lakukan kedepan, konsepnya seperti apa dan hasil yang bagiamana yang akan menjadi targetnya. Saya merasa seperti seorang guru sekarang. Merancang dan medesain pembelajaran. Hanya saja desain ini saya sendiri yang akan menggunakannya. Meskipun saya sangat menyadari bahwa, setiap proses pasti ada kendala yang dihadapi dan khawatirnya apabila kendala ini justru berasal dari diri saya sendiri yang terkadang ragu, apakah saya benar-benar bisa melakukan semua ini. Yah…pokoknya saya nekat saja dan berkomitmen untuk dapat konsisten dan mematuhi aturan yang dibuat sendiri. Desain ini merupakan langkah awal dari tercapainya beberapa harapan dan impian, maka saya yang tadinya akan mengurangi beberapa point dari materi pembelajaran namun saya urung melakukannya. karena inilah awal komitmen dan konsistensi yang harus saya jalani dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

Berawal dari konsep belajar yang saya lakukan, tentang bagaimana mempelajari sesuatu. Kemudian menilik gaya belajar saya yang cenderung suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar dan menyukai percobaan/eksperimen, suka berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain serta cenderung banyak omong. Maka, saya berinisiatif untuk menggunakan pendekatan keilmuan dan alamiah. Harapannya pembelajaran yang saya lakukan dapat komprehensif dan sesuai dengan gol yang akan dicapai.

Dalam proses belajar saya sangat suka memulainya dengan membaca dari berbagai sumber agar memiliki pengetahuan awal. Mencari informasi dengan melihat,mendengar,membaca atau menyimak. Lalu melakukan proses untuk membangun pengetahuan saya secara faktual,konseptual dan prosedural hingga berpikir metakognitif yang biasanya saya lakukan melalui kegiatan diskusi baik dengan suami,orangtua atau teman. Setelah mendapatkan informasi, saya berupaya untuk mengumpulkan dan mengeksplornya melalui kegiatan mengamati aktivitas,kejadian atau objek tertentu. Mengolah informasi dan menyajikannya dalam bentuk lisan atau tulisan. Dalam proses belajar juga memerlukan tahapan mengasosiasi. Yaitu, berupa kegiatan menalar sebagai bentuk mengolah informasi yang merupakan proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh kesimpulan berupa pengetahuan. Selanjutnya adalah tahapan mengkomunikasikan. Hal ini adalah sarana untuk menyampaikan hasil konseptualisasi dalam bentuk lisan maupun tulisan . Saya mengadopsi cara bunda Septi Peni Wulandani yaitu presentasi sepekan sekali kepada suami tentang proses,kejadian menarik dan hasil terbaik yang diperoleh. Berikut ini saya mencoba membuat desain pembelajaran untuk saya sendiri. Semua hal yang ingin saya pelajari saya tuangkan dalam tabel berikut ini,

DESAIN PEMBELAJARAN SEBAGAI SEORANG PENGGERAK/INISIATOR DI BIDANG PENDIDIKAN IBU DAN ANAK







Setelah mengetahui bagaimana caranya belajar, selanjutnya adalah menentukan skala prioritas yang akan dikerjakan setiap hari.  Dengan Teknik Eisenhower Decision Matrix akan sangat membantu dalam melakukan manajemen waktu dengan lebih baik. Dapat memisahkan hal-hal yang memang benar-benar penting dan mendesak. Karena kebanyakan dari kita seringkali terjebak dan berlama-lama di dalam kegiatan yang samasekali tidak penting dan tidak mendesak. Sibuk dengan gawai tanpa tujuan yang jelas. Nah, maka sangata penting sekali bagi kita untuk menentukan skala prioritas.

Meskipun menentukan skala prioritas tidak semudah penampakannya apalagi jika belum terbiasa tentu saja akan menjadi tantangan tersendiri. Maka, saya pun berusaha menerapkan teknik manajemen dengan 4 skala kuadran aktivitas seperti yang terlampir di bawah, supaya saya dapat mengatur semua aktivitas sehari-hari dengan lebih baik sehingga menjadi lebih produktif. Dengan tetap mengacu pada aktivitas yang paling suka dan bisa dilakukan. Mengapa? Sederhana saja, jawabnya hanya untuk dua hal saja, yaitu bahagia dan manfaat. Saya butuh dan ingin Bahagia maka saya hanya akan focus kepada hal-hal yang saya sukai dan bisa saya kerjakan. Sehingga frekuensi kebahagiaan terpancar pada diri saya. Jika mengerjakan sesuatu dengan bahagia maka, manfaat secara pelan-pelan akan mengikuti.

Setelah saya menentukan lima aktivitas yang paling saya suka dan bisa, saat ini saya masuk ke tahapan untuk menentukan keterampilan yang harus saya miliki untuk mendukung kelima aktivitas itu. Nah, keterampilan apa saja yang harus saya kuasai? Saya sangat menyadari kelemahan dan keterbatasan yang ada pada diri saya, sebagai seorang penulis saya kerap kali direpotkan dengan segudang ide yang ada di kepala. Meskipun sudah tertuang dalam list to do tetap saja pikiran saya suka lompat-lompat saat mengerjakan suatu tulisan. Sedang menulis apa, yang dipikirkan gagasan berikutnya. Hal ini cukup menyita waktu dan akhirnya tulisan saya tidak segera kelar. Maka sebagai orang yang suka menulis, saya membutuhkan keterampilan untuk focus dan konsisten.

Dalam kehidupan berorganisasi saya juga sering menemui beberapa masalah baik internal maupun eksternal, apalagi menjadi seorang ketua. Tentu saja menjadi tanggungjawab yang harus segera diselesaikan. Sering sekali gelagepan apabila dihadapkan dengan berbagai masalah yang komplek terlebih lagi jika masalah itu dating secara bersamaan dan mendadak. Akhirnya menjadi sesuatu yang genting dan urgent untuk segera ditangani. Dalam hal ini sya sangat mmemerlukan keterampilan problem solving dan psikologi masa yang baik. Sehingga saya berazam untuk meningkatkan kemampuan saya berorganisasi dengan melatih dan menempa diri dalam menggali ilmu tentang problem solving.

Aktivitas yang saya sukai dan menjadi skala prioritas bagi saya adalah public speaking. Dimana waktu luang saya banyak saya isi dengan kegiatan berceramah di berbagai pengajian ibu-ibu dan remaja, mengisi seminar parenting, dan mengedukasi remaja putri, calon ibu dan para ibu dalam bidang keperempuanan dan keagamaan. Untuk mendukung aktivitas ini, saya biasanya membuat slide presentasi untuk memudahkan audience memahami apa yang saya sampaikan sekaligus memudahkan saya dalam mengisi materi. Namun, sejauh ini slide presentasi yang saya buat masih biasa-biasa saja. Saya ingin yang istimewa. Maka saya akan mengembangkan keterampilan dalam make amazing presentation untuk mendukung aktivitas saya ini.

Meskipun saya adalah wanita yang menyukai dunia public, tapi saya adalah seorang ibu yang memiliki dua anak. Di rumah saya sangat senang sekali membaca dan mendampingi anak-anak bermain. Kalau sudah pegang buku dan mulai bersemedi karena asik dengan buku, saya sering lupa waktu, jadi kebablasan saat bersama buku. Tentu saja waktu saya akan menjadi tidak dapat terkondisikan dengan baik. Dalam hal ini saya harus memiliki menejemen waktu yang baik supaya saya dapat menggunakan waktu sebaik mungkin, dan tentu saja keterampilan dalam membaca dan memahami isi bacaan dengan cepat harus saya kuasai. Sehingga saya bisa segera mendampingi anak-anak.bahkan saat bermain dengan anak-anak pun, sering saya kehabisan ide mau main apa, jika ambil idenya dadakan, permainan kami akan terasa garing dan kurang efektif. Apalagi jika saya ingin mengamati sesuatu dari perilaku anak saya, maka menurut saya, bermain pun harus terkonsep sekaligus membuat lembar pengamatan atau instrument observasi untuk anak-anak. Ini akan sangat bermanfaat sekali bagi saya untuk dapat mengamati minat dan bakat anak. Selain itu juga dapat dijadikan bahan portopolio anak yang akan bermanfaat kedepannya. Bermodalkan pemahaman ini, saya sebagai ibu harus meningkatkan kemampuan saya dalam mengonsep dan membuat instrument observasi dalam kegiatan bermain Bersama anak. Semua hal itu, saya rangkum dalam skema telur merah berikut ini,








#JanganLupaBahagia
#JurnalMinggu2
#KelasTelur
#BunCekIIP

ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

ANDROID SOURCE CODES MURAH

ADVERTISEMENT

IKUTI KAMI

Total Pageviews

Popular Posts

ADVERTISEMENT

Aqila Nyanyi - Naik Delman

IKUTI FANSPAGE KAMI

Unordered List

Text Widget